Pernahkah kamu duduk berlama-lama di atas sajadah, mengangkat kedua tangan, tapi tak ada satu kata pun yang keluar dari lisan?
Bukan karena hidup sedang baik-baik saja. Justru mungkin karena hidup terasa terlalu berat. Kepala sudah terlalu penuh, hati sudah terlalu lelah.
Terlalu banyak beban yang dipikul sendirian. Terlalu banyak kecewa yang dipendam. Terlalu banyak luka yang tidak sempat diceritakan kepada siapa pun. Sampai akhirnya, ketika berada di hadapan Allah, kita justru bingung…
“Ya Allah… aku harus mengadu dari mana?”
Kadang kita merasa harus merangkai doa yang panjang, rapi, dan indah agar pantas didengar. Padahal Allah tidak membutuhkan keindahan susunan kata-kata kita. Allah mengetahui apa yang bahkan belum mampu kita ucapkan. Dia mengetahui tangis yang kita tahan, sesak yang tidak bisa kita jelaskan, dan luka yang mungkin kita sendiri tidak tahu bagaimana cara menceritakannya.
Kadang kita juga merasa malu. Karena kita merasa baru mendekat kepada Allah ketika sedang tertimpa masalah. Ketika hidup terasa mudah, kita sibuk dengan dunia. Ketika hati lapang, kita lalai. Tapi ketika semuanya terasa runtuh, barulah kita mencari sajadah. Barulah tangan ini terangkat.
Lalu kita merasa tidak pantas. Merasa terlalu banyak dosa. Merasa terlalu lama menjauh. Merasa terlalu sering mengabaikan-Nya.
Padahal… Allah tidak pernah jauh.
Kitalah yang sering menjauh.
Kalau hari ini terasa berat sekali untuk mencari kata-kata, kalau lisan terasa kaku untuk berdoa, mungkin jangan dulu memikirkan doa yang panjang. Jangan dulu mencari susunan kata yang indah.
Mulailah dengan satu pengakuan yang paling jujur:
“Ya Allah, ampuni aku…”
Atau mungkin:
“Ya Allah, aku tidak tahu harus berkata apa…”
Atau bahkan cukup:
“Ya Allah… tolong aku.”
Jangan merasa doa itu terlalu sederhana. Jangan merasa kata-kata itu tidak cukup indah. Karena yang terpenting bukan bagaimana indahnya doa di telinga manusia, tetapi bagaimana hati kita benar-benar kembali kepada Allah.
Mungkin ada dosa-dosa yang membuat hati menjadi keras. Mungkin terlalu lama kita menunda taubat. Mungkin terlalu sering kita sibuk meminta pertolongan kepada manusia, tetapi lupa meminta kepada Allah.
Maka mulailah dengan kejujuran:
“Ya Allah, ampuni aku. Aku banyak lalai. Aku banyak salah. Mungkin karena dosa-dosaku, hatiku menjadi keras dan lisanku menjadi berat untuk berdoa kepada-Mu. Tapi Ya Allah, aku ingin kembali…”
InsyaaAllah, itu sudah menjadi awal yang sangat baik.
Tidak perlu menunggu menjadi baik untuk kembali kepada Allah. Justru kita kembali kepada Allah karena kita ingin menjadi lebih baik. Tidak perlu menunggu hati tenang untuk berdoa. Datanglah kepada Allah dengan hati yang sedang kacau. Tidak perlu menunggu masalah selesai untuk mendekat. Datanglah ketika masalah itu masih ada.
Tidak perlu berpura-pura kuat di hadapan Allah. Menangislah jika ingin menangis. Diamlah jika belum mampu berbicara. Angkat tanganmu jika hanya itu yang mampu kamu lakukan.
Sebab Allah memahami isi hati yang belum mampu diterjemahkan oleh lisan.
Kembalilah…
Jangan terlalu sibuk mencari kata-kata yang indah. Jangan terlalu lama merasa tidak pantas. Jangan menunggu hidupmu hancur lebih dahulu untuk benar-benar bersujud.
Mulailah hari ini. Mulailah dengan istighfar. Mulailah dengan satu sujud. Mulailah dengan satu kalimat yang jujur:
“Ya Allah, aku ingin kembali kepada-Mu.”
Karena mungkin, dari satu kalimat sederhana itulah Allah perlahan memperbaiki hati yang selama ini terasa begitu jauh.
Yang perlu kita lakukan hanyalah berhenti menjauh… dan mulai kembali.