Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di

Yusuf : Ayat 44

"Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaum-nya), 'Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus, dan tujuh butir (gandum) yang hijau dan tujuh butir lainnya yang kering. Hai orang-orang yang terkemuka, terangkanlah ke-padaku tentang ta'bir mimpiku itu jika kamu dapat mena'birkan mimpi.' Mereka menjawab, '(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu mena'birkan mimpi itu.' Dan ber-katalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada) Yusuf sesudah beberapa waktu lamanya, 'Aku akan mem-beritakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena'birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).' (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf, dia berseru), 'Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang ku-rus-kurus, dan tujuh butir (gandum) yang hijau dan tujuh lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahui.' Yusuf berkata, 'Supaya kamu bercocok tanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa, maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk mengha-dapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari bibit gandum yang akan kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang pada-nya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur'." (Yusuf: 43-49).
Tafsir As-Sa'di
(44) Mereka dilanda kebingungan, tidak mengetahui takwil mimpi itu sama sekali. ﴾ قَالُوٓاْ أَضۡغَٰثُ أَحۡلَٰمٖۖ ﴿ "Mereka menjawab, '(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong'," mimpi-mimpi yang tidak memiliki hasil apa pun dan tidak mempunyai penakwilan. Ini adalah kemantapan pendapat dari mereka atas perkara yang tidak mereka ketahui dan pengajuan alasan dari mereka dengan sesuatu yang tidak pantas untuk dijadikan alasan. Kemudian, mereka berkata, ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِتَأۡوِيلِ ٱلۡأَحۡلَٰمِ بِعَٰلِمِينَ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak tahu mena'birkan mimpi itu", mak-sudnya, kami tidak mampu menafsirkan kecuali hanya mimpi saja. Adapun tentang bunga tidur, yang berasal dari setan atau dari bi-sikan hati (yang mendominasi), maka kami tidak (perlu) menafsir-kannya.
Akhirnya, mereka memadukan antara ketidaktahuan dan ke-tegasan bahwa itu merupakan mimpi-mimpi kosong semata, dengan sikap ujub terhadap diri sendiri, di mana mereka tidak (terus terang) mengucapkan, "Kami tidak mengetahui penakwilannya!"Ini ter-masuk perkara yang tidak sepatutnya dilakukan oleh orang-orang yang menguasai agama dan berakal. Kejadian itu juga merupakan bukti perhatian Allah kepada Yusuf عليه السلام. Seandainya dia langsung mena'birkan kandungan mimpi itu, sebelum ditawarkan oleh raja kepada orang-orang terkemuka dan para ulama negeri itu lalu me-reka tidak mampu menakwilkannya, maka tidak akan menimbul-kan pengaruh yang membekas. Namun, ketika sang raja menyam-paikannya kepada mereka dan akhirnya tidak mampu menjawab, maka sang raja akan benar-benar memikirkannya. Ketika Yusuf berhasil mena'birkannya, maka dia mempunyai kedudukan tinggi di sisi mereka.
Ini sepadan dengan peristiwa saat Allah memperlihatkan keutamaan Adam di atas para malaikat dengan ilmu setelah Allah mengajukan pertanyaan kepada mereka, tapi mereka tidak menge-tahuinya. Kemudian Allah bertanya kepada Adam, maka ia mampu menjelaskan kepada mereka nama-nama segala sesuatu. Melalui itu, terbuktilah kelebihannya.
Sebagaimana Allah memperlihatkan keutamaan manusia yang paling utama Muhammad, di Hari Kiamat kelak, dengan mengil-hamkan makhluk-makhluk untuk memohon syafa'at melalui Adam, kemudian Nuh, selanjutnya kepada Ibrahim, lalu Musa dan beri-kutnya kepada Isa k. Lalu mereka merasa tidak mampu mem-berikannya, kemudian mereka mendatangi Muhammad ﷺ. Beliau pun berkata, "Akulah orangnya, akulah orangnya (yang berhak memberikan syafa'at)[7]." Maka beliau pun mengusahakan syafa'at bagi semua makhluk dan berhasil merengkuh maqam mahmud (kedu-dukan terpuji) yang diincar orang-orang terdahulu dan orang-orang akhir zaman. Mahasuci Dzat yang kelembutanNya tersembunyi dan teliti dalam mencurahkan kebaikan dan kenikmatan bagi orang-orang pilihan dan wali-waliNya.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di