Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di

Al-Kahf : Ayat 6

"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada ham-baNya al-Kitab (al-Qur`an), dan dia tidak mengadakan kebengkok-an di dalamnya, sebagai bimbingan yang lurus untuk memperingat-kan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan membawa berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerja-kan amal shalih, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, 'Allah meng-ambil seorang anak.' Mereka sekali-kali tidak mempunyai penge-tahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (al-Qur`an)." (Al-Kahfi: 1-6).
Tafsir As-Sa'di
(6) Ketika Rasulullah mempunyai animo tinggi untuk mem-berikan hidayah kepada manusia, berupaya sekuat tenaga untuk mencapainya, maka beliau bergembira dan bersuka cita dengan ter-capainya kesadaran hidayah pada orang-orang, dan (sebaliknya) bersedih hati serta berduka cita terhadap orang-orang yang men-dustakan lagi sesat karena rasa iba dan kasihan beliau kepada me-reka, maka Allah membimbing beliau supaya tidak menyibukkan dirinya dengan rasa iba kepada orang-orang yang tidak beriman terhadap al-Qur`an ini. Sebagaimana Allah berfirman dalam [ayat] yang lain,
﴾ لَعَلَّكَ بَٰخِعٞ نَّفۡسَكَ أَلَّا يَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ 3 ﴿
"Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (de-ngan kesedihan) karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman." (Asy-Syu'ara`: 3).
Dan Allah تعالى berfirman,
﴾ فَلَا تَذۡهَبۡ نَفۡسُكَ عَلَيۡهِمۡ حَسَرَٰتٍۚ ﴿
"Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka." (Fathir: 8).
Di sini Allah berfirman, ﴾ فَلَعَلَّكَ بَٰخِعٞ نَّفۡسَكَ ﴿ "maka (apakah) barang-kali kamu akan membunuh dirimu," maksudnya membinasakan diri-mu disebabkan kegalauan hati dan rasa prihatin kepada mereka. Padahal pahalamu sudah pasti ditanggung oleh Allah, sedangkan mereka itu, seandainya Allah mengetahui ada kebaikan pada diri mereka, niscaya Allah akan memberi mereka petunjuk. Akan tetapi, Allah mengetahui bahwa mereka tidak pantas kecuali untuk api neraka saja. Oleh karena itu, Allah menelantarkan mereka, tidak memberikan hidayah kepada mereka. Maka, perhatianmu (yang menyita) dirimu lantaran kepedihan hati dan keprihatinan kepada mereka tidak ada gunanya bagimu.
Dalam ayat ini dan ayat yang semisalnya terdapat pelajaran, bahwa orang yang diperintahkan menyeru manusia ke jalan Allah, wajib baginya menyampaikan dan berupaya menempuh segala cara yang dapat mengantarkan menuju jalan hidayah, menutup semua jalan kesesatan dan kebinasaan dengan kemampuan maksi-malnya, dilandasi dengan bertawakal kepada Allah. Jika mereka mendapatkan petunjuk, maka alangkah indahnya kenikmatan hi-dayah itu. Kalau tidak, maka tidak perlu bersedih dan berduka cita. Sebab, perasaan itu dapat melemahkan jiwa dan menghancurkan kekuatan. Tidak ada faidahnya. Justru, (sebaiknya) tetap menerus-kan pekerjaan yang dibebankan kepadanya dan berjalan ke arah sana. Adapun selain itu, maka di luar batas kemampuannya. Jika Nabi Muhammad saja diberi Firman oleh Allah,
﴾ إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ ﴿
"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi…." (Al-Qashash: 56),
dan Musa عليه السلام berkata,
﴾ رَبِّ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ إِلَّا نَفۡسِي وَأَخِيۖ ﴿
"Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudara-ku…." (Al-Ma`idah: 25), maka orang-orang selain mereka termasuk yang lebih utama (untuk memahami hal itu). Allah تعالى berfirman,
﴾ فَذَكِّرۡ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٞ 21 لَّسۡتَ عَلَيۡهِم بِمُصَيۡطِرٍ 22 ﴿
"Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka." (Al-Ghasyiyah: 21-22).
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di