Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
Maryam : Ayat 4
Tafsir As-Sa'di
"Kaf Ha Ya 'Ain Shad. (Yang dibacakan ini adalah) penje-lasan tentang rahmat Rabbmu kepada hambaNya, Zakaria. Yaitu tatkala dia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut. Dia berkata, 'Wahai Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu, wahai Rabbku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku ada-lah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisiMu seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya'qub, dan jadikanlah dia, wahai Rabbku, seorang yang diridhai'." (Maryam: 1-6).
(3-4) Ketika Nabi Zakaria menyadari kelemahan pada dirinya dan khawatir akan meninggal, sementara belum ada orang yang menempati tugasnya untuk mendakwahi umat manusia kepada Rabb mereka dan menasihati mereka, maka beliau menga-dukan kelemahan batin dan fisiknya itu kepada Rabbnya. Beliau berdoa kepada Allah dengan suara lembut, supaya doanya lebih sempurna, lebih utama dan lebih paripurna keikhlasannya. Beliau mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ ٱلۡعَظۡمُ مِنِّي ﴿ "Wahai Rabbku, sesungguhnya tulang-ku telah lemah," maksudnya, sudah lemah dan lunglai. Jika tulang yang merupakan penyangga badan sudah lemah, maka anggota badan yang lain pasti ikut melemah.
﴾ وَٱشۡتَعَلَ ٱلرَّأۡسُ شَيۡبٗا ﴿ "Kepalaku telah ditumbuhi uban," karena (tumbuhnya) uban merupakan pertanda kelemahan dan masa tua, utusan dan duta kematian serta peringatan akan dekatnya kematian. Maka Zakaria menjadikan kelemahan dan ketidakberdayaannya sebagai wasilah (perantara) dalam berdoa kepada Allah. Ini meru-pakan salah satu bentuk wasilah yang dicintai oleh Allah, karena menunjukkan berlepas diri dari daya dan kekuatan (pribadi) dan ketergantungan hati hanya kepada daya dan kekuatan Allah. ﴾ وَلَمۡ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيّٗا 4 ﴿ "Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu, wahai Rabbku." Wahai Rabbku, Engkau tidak pernah menolak permintaanku dengan hampa dan menjadi terhalang-halangi dari pengabulan. Bahkan Engkau selalu menyambutku dan mengabulkan permohonanku. Dan kelembutanMu selalu silih berganti datang kepadaku, (begitu juga) kebaikanMu selalu sampai kepadaku. Ini merupakan satu bentuk tawassul kepada Allah dengan (penyebutan) nikmat yang Allah anugerahkan kepadanya dan pengabulan doa-doanya yang terdahulu. Jadi, Nabi Zakaria berdoa kepada Allah yang telah memberinya kebaikan pada masa yang lalu agar menyempurnakan curahan kebaikanNya pada masa akan datang.
(3-4) Ketika Nabi Zakaria menyadari kelemahan pada dirinya dan khawatir akan meninggal, sementara belum ada orang yang menempati tugasnya untuk mendakwahi umat manusia kepada Rabb mereka dan menasihati mereka, maka beliau menga-dukan kelemahan batin dan fisiknya itu kepada Rabbnya. Beliau berdoa kepada Allah dengan suara lembut, supaya doanya lebih sempurna, lebih utama dan lebih paripurna keikhlasannya. Beliau mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ ٱلۡعَظۡمُ مِنِّي ﴿ "Wahai Rabbku, sesungguhnya tulang-ku telah lemah," maksudnya, sudah lemah dan lunglai. Jika tulang yang merupakan penyangga badan sudah lemah, maka anggota badan yang lain pasti ikut melemah.
﴾ وَٱشۡتَعَلَ ٱلرَّأۡسُ شَيۡبٗا ﴿ "Kepalaku telah ditumbuhi uban," karena (tumbuhnya) uban merupakan pertanda kelemahan dan masa tua, utusan dan duta kematian serta peringatan akan dekatnya kematian. Maka Zakaria menjadikan kelemahan dan ketidakberdayaannya sebagai wasilah (perantara) dalam berdoa kepada Allah. Ini meru-pakan salah satu bentuk wasilah yang dicintai oleh Allah, karena menunjukkan berlepas diri dari daya dan kekuatan (pribadi) dan ketergantungan hati hanya kepada daya dan kekuatan Allah. ﴾ وَلَمۡ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيّٗا 4 ﴿ "Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu, wahai Rabbku." Wahai Rabbku, Engkau tidak pernah menolak permintaanku dengan hampa dan menjadi terhalang-halangi dari pengabulan. Bahkan Engkau selalu menyambutku dan mengabulkan permohonanku. Dan kelembutanMu selalu silih berganti datang kepadaku, (begitu juga) kebaikanMu selalu sampai kepadaku. Ini merupakan satu bentuk tawassul kepada Allah dengan (penyebutan) nikmat yang Allah anugerahkan kepadanya dan pengabulan doa-doanya yang terdahulu. Jadi, Nabi Zakaria berdoa kepada Allah yang telah memberinya kebaikan pada masa yang lalu agar menyempurnakan curahan kebaikanNya pada masa akan datang.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di