Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
Al-Baqara : Ayat 22
"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah mencipta-kanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit se-bagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan segala buah-buahan dengan hujan itu sebagai rizki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (Al-Baqarah: 21-22).
Tafsir As-Sa'di
(22) Dan Dia memberikan nikmat kepada kamu dengan nikmat-nikmat lahiriyah maupun batiniyah, Dia menjadikan untukmu dunia ini sebagai hamparan yang menjadi tempat kamu menetap, dan kamu mengambil manfaatnya dengan membangun rumah, pertanian, pembajakan, dan berkelana dari suatu tempat menuju tempat lain, dan lain sebagainya dari bentuk-bentuk pe-manfaatannya, lalu Dia menjadikan langit sebagai atap bagi rumah tempat tinggal kalian dan menyediakan manfaat-manfaat yang merupakan kebutuhan pokok hidup kalian dan kebutuhan dasar, seperti matahari, bulan, dan bintang, ﴾ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ ﴿ "dan Dia menurunkan air hujan dari langit." Langit adalah segala yang ada di atas kalian, oleh karena itu para ahli tafsir berkata, "Maksud dari langit di sini adalah awan, di mana Allah تعالى menurunkan air hujan darinya, ﴾ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ ﴿ "lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan," seperti biji-bijian dan hasil-hasil dari pohon kurma, buah-buahan, tanaman dan lain sebagainya, ﴾ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ ﴿ "sebagai rizki untukmu," yang dengannya kamu mendapatkan rizki, kamu makan, kamu hidup, dan kamu bahagia. ﴾ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا ﴿ "Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah," yakni yang diserupakan dan yang disepadankan dari makhluk-makhlukNya, lalu kamu menyembahnya sebagaimana kamu me-nyembah Allah, kamu mencintainya sebagaimana kamu mencintai Allah, padahal mereka itu sama saja seperti kalian, mereka adalah makhluk yang diciptakan, diberi rizki, dan diatur, di mana mereka tidak memiliki seberat biji atom pun di bumi dan tidak pula di langit, serta mereka tidak dapat memberikan manfaat kepadamu dan tidak juga menimpakan mudarat.
﴾ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Padahal kamu mengetahui," bahwasanya Allah tidak memiliki sekutu, tidak pula kesamaan, tidak pada mencipta, memberi rizki, dan mengatur semesta, tidak pula pada peribadahan dan kesempurnaan, lalu bagaimanakah kamu menyembah tuhan-tuhan lain bersamaNya padahal kalian mengetahuinya? Hal ini merupakan perkara yang paling mengherankan dan yang paling bodoh.
Ayat ini menyatukan antara perintah untuk beribadah hanya kepada Allah semata dan larangan dari beribadah kepada selain Allah, dan penjelasan akan dalil yang sangat jelas atas kewajiban beribadah kepadaNya dan batilnya beribadah kepada selainNya, yaitu penyebutan tauhid rububiyah yang mengandung keesaanNya dalam mencipta, memberi rizki, dan mengatur semesta. Lalu apa-bila setiap orang menetapkan bahwasanya tidak ada sekutu bagi Allah dalam hal itu, maka itulah yang seharusnya, maka haruslah seperti itu juga penetapannya bahwasanya Allah itu tidak ada se-kutu bagiNya dalam beribadah kepadaNya. Ini adalah dalil logika yang paling terang atas keesaan Sang Pencipta, Allah تعالى dan batil-nya kesyirikan.
Dan FirmanNya, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ﴿ "Agar kamu bertakwa," kemung-kinan maknanya adalah, bahwasanya karena kamu sekalian ber-ibadah hanya kepada Allah semata, maka dengan hal itu kalian telah menjaga diri kalian sendiri dari murka dan azabNya, karena kalian telah melakukan sebab yang mendorong hal tersebut. Ke-mungkinan lain maknanya adalah, bahwasanya jika kamu menyem-bah Allah semata, niscaya kamu menjadi golongan orang-orang bertakwa yang memiliki sifat ketakwaan. Kedua arti ini adalah benar, dan keduanya saling berkaitan, karena barangsiapa yang melakukan ibadah secara sempurna, niscaya ia menjadi golongan orang-orang bertakwa, dan barangsiapa yang tergolong dalam orang-orang bertakwa, pastilah ia akan memperoleh keselamatan dari azab dan murka Allah.
﴾ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "Padahal kamu mengetahui," bahwasanya Allah tidak memiliki sekutu, tidak pula kesamaan, tidak pada mencipta, memberi rizki, dan mengatur semesta, tidak pula pada peribadahan dan kesempurnaan, lalu bagaimanakah kamu menyembah tuhan-tuhan lain bersamaNya padahal kalian mengetahuinya? Hal ini merupakan perkara yang paling mengherankan dan yang paling bodoh.
Ayat ini menyatukan antara perintah untuk beribadah hanya kepada Allah semata dan larangan dari beribadah kepada selain Allah, dan penjelasan akan dalil yang sangat jelas atas kewajiban beribadah kepadaNya dan batilnya beribadah kepada selainNya, yaitu penyebutan tauhid rububiyah yang mengandung keesaanNya dalam mencipta, memberi rizki, dan mengatur semesta. Lalu apa-bila setiap orang menetapkan bahwasanya tidak ada sekutu bagi Allah dalam hal itu, maka itulah yang seharusnya, maka haruslah seperti itu juga penetapannya bahwasanya Allah itu tidak ada se-kutu bagiNya dalam beribadah kepadaNya. Ini adalah dalil logika yang paling terang atas keesaan Sang Pencipta, Allah تعالى dan batil-nya kesyirikan.
Dan FirmanNya, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ﴿ "Agar kamu bertakwa," kemung-kinan maknanya adalah, bahwasanya karena kamu sekalian ber-ibadah hanya kepada Allah semata, maka dengan hal itu kalian telah menjaga diri kalian sendiri dari murka dan azabNya, karena kalian telah melakukan sebab yang mendorong hal tersebut. Ke-mungkinan lain maknanya adalah, bahwasanya jika kamu menyem-bah Allah semata, niscaya kamu menjadi golongan orang-orang bertakwa yang memiliki sifat ketakwaan. Kedua arti ini adalah benar, dan keduanya saling berkaitan, karena barangsiapa yang melakukan ibadah secara sempurna, niscaya ia menjadi golongan orang-orang bertakwa, dan barangsiapa yang tergolong dalam orang-orang bertakwa, pastilah ia akan memperoleh keselamatan dari azab dan murka Allah.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di