Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di

Al-Baqara : Ayat 24

"Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur`an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur`an itu, dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir." (Al-Baqarah: 23-24).
Tafsir As-Sa'di
(24) Ayat ini dan ayat-ayat yang semisalnya dinamakan de-ngan ayat tantangan. Maksudnya adalah membuktikan kelemahan makhluk dalam hal menghadirkan sesuatu yang semisal dengan al-Qur`an, atau karena mengkritiknya dari suatu sisi. Allah تعالى berfirman,
﴾ قُل لَّئِنِ ٱجۡتَمَعَتِ ٱلۡإِنسُ وَٱلۡجِنُّ عَلَىٰٓ أَن يَأۡتُواْ بِمِثۡلِ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ لَا يَأۡتُونَ بِمِثۡلِهِۦ وَلَوۡ كَانَ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٖ ظَهِيرٗا 88 ﴿
"Katakanlah, 'Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur`an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain'." (Al-Isra`: 88).
Bagaimana mungkin makhluk yang berasal dari tanah mampu agar perkataannya sama seperti perkataan Rabb segala makhluk, atau bagaimana mungkin seorang yang miskin lagi papa dalam segala bentuknya dapat menghadirkan sebuah perkataan yang sama dengan perkataan Dzat yang sempurna, yang memiliki ke-sempurnaan mutlak, Dzat yang Mahakaya lagi luas dalam segala bentuknya? Hal ini tidaklah mungkin dan di luar kemampuan manusia, dan setiap orang yang memiliki sekecil-kecilnya rasa dan pengetahuan terhadap corak dan bentuk perkataan. Apabila seseorang membanding-bandingkan al-Qur`an yang agung ini de-ngan selainnya dari perkataan-perkataan para ahli sastra, niscaya nampaklah baginya suatu perbedaan yang luar biasa besarnya.
Dan dalam FirmanNya, ﴾ وَإِن كُنتُمۡ فِي رَيۡبٖ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا فَأۡتُواْ بِسُورَةٖ مِّن مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُواْ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur`an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur`an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar," terkandung sebuah dalil yang menunjukkan bahwasanya orang yang diharapkan hidayah baginya dari kesesatan adalah seorang yang ragu dan bingung, yang belum mengetahui kebenaran dari kesesatan, maka orang seperti ini bila dijelaskan kebenaran baginya, niscaya ia segera mengikutinya jika ia memang benar-benar mencari kebenaran.
Adapun orang yang keras kepala yang mengetahui kebenaran namun ia meninggalkannya, maka yang seperti ini tidaklah mung-kin kembali, karena ia telah meninggalkan kebenaran setelah jelas baginya kebenaran itu, di mana ia tidak meninggalkannya karena sebuah kebodohan, maka tidak ada alasan lain untuknya. Demikian juga orang yang ragu dan tidak benar-benar mencari kebenaran, bahkan ia berleha-leha dan tidak bersungguh-sungguh dalam men-carinya, maka yang seperti ini secara garis besar tidaklah dibimbing ke sana.
Dalam penjelasan tentang Rasulullah ﷺ sebagai hamba Allah dalam konteks yang agung ini adalah sebuah dalil bahwasanya sifat beliau ﷺ yang paling besar adalah realisasi beliau ﷺ dalam penghambaan yang tidak dapat disaingi oleh siapa pun dari orang-orang terdahulu maupun yang akan datang, sebagaimana Allah juga menjelaskan tentang beliau dengan predikat hamba Allah dalam surat al-Isra` seraya berfirman,
﴾ سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا ﴿
"Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam." (Al-Isra`: 1).
Dan dalam konteks menurunkan, Allah berfirman,
﴾ تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا 1 ﴿
"Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Qur`an) kepada hambaNya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam." (Al-Furqan: 1).
Dan dalam Firman Allah, ﴾ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Yang disediakan bagi orang-orang kafir," dan ayat-ayat yang semacamnya adalah sebuah dalil bagi Ahlus Sunnah wal Jama'ah bahwasanya surga dan neraka itu telah diciptakan, berbeda dengan al-Mu'tazilah.
Ayat ini juga mengandung isyarat bahwasanya orang-orang yang bertauhid walaupun mereka terkadang melakukan beberapa dosa besar, namun tidak akan kekal dalam neraka, karena Allah berfirman, ﴾ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Yang disediakan bagi orang-orang kafir," se-kiranya orang-orang yang melakukan maksiat dari ahli tauhid itu kekal dalam neraka, maka neraka tidaklah disiapkan hanya untuk orang-orang kafir semata. Ini berbeda dengan faham al-Khawarij dan al-Mu'tazilah. Demikian juga isyarat lain tentang suatu dalil bahwa siksaan itu diperoleh dengan adanya sebab-sebabnya yaitu kekufuran dan segala corak kemaksiatan yang berbeda-beda.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di