Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
Al-Baqara : Ayat 255
Tafsir As-Sa'di
"Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izinNya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahaagung." (Al-Baqarah: 255).
(255) Nabi ﷺ mengabarkan,
أَنَّ هٰذِهِ الْآيَةَ أَعْظَمُ آيَاتِ الْقُرْآنِ.
"Bahwa ayat ini adalah ayat yang paling agung dalam al-Qur`an,"[29]
karena ayat ini meliputi makna tauhid, kebesaran, dan luasnya sifat Allah تعالى, dan Allah تعالى mengabarkan bahwasanya Dia adalah, ﴾ ٱللَّهُ ﴿ "Allah" yang memiliki segala makna-makna ketuhanan, dan bahwasanya tidak ada yang berhak bercitra ketuhanan dan per-ibadahan kecuali hanya Dia.
Dipertuhankannya selainNya dan peribadahan kepada selain-Nya adalah batil, dan bahwasanya Dia ﴾ ٱلۡحَيُّ ﴿ "Hidup kekal," yang memiliki seluruh makna-makna kehidupan yang sempurna berupa pendengaran, penglihatan, kemampuan, kehendak, dan sebagainya dari sifat-sifat fisik, sebagaimana juga Dia ﴾ ٱلۡقَيُّومُۚ ﴿ "terus menerus mengurus (makhlukNya)," termasuk di dalamnya segala macam bentuk sifat-sifat perbuatan, karena Dia terus menerus mengurus (makhlukNya), yang sendiri saja mengurusnya, dan tidak butuh kepada bantuan seluruh makhluk-makhlukNya. Allah mengurus segala makhluk, di mana Dia menciptakan mereka, menetapkannya, memberikan segala kebutuhan mereka dalam mempertahankan keberadaan dan kelanggengan mereka. Dan di antara kesempur-naan hidup dan kepengurusanNya bahwa Dia ﴾ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ ﴿ "tidak mengantuk," maksudnya, tidak ingin tidur, ﴾ وَلَا نَوۡمٞۚ ﴿ "dan tidak tidur" karena ngantuk. Tidur hanya muncul pada para makhluk yang diselubungi oleh kelemahan, ketidakmampuan, serta kekurangan, dan tidak muncul pada Dzat yang memiliki keagungan, kesom-bongan, dan kemuliaan, dan Allah juga mengabarkan bahwasanya Dia Pemilik apa yang ada di langit dan di bumi, semuanya adalah hamba-hamba Allah sebagai budak-budakNya yang tidak ada seorang pun yang keluar dari koridor tersebut,
﴾ إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا 93 ﴿
"Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba." (Maryam: 93).
Maka Dia-lah Raja segala raja dan Dia-lah yang memiliki segala sifat raja, pengaturan, kekuasaan, dan kesombongan, dan dari kesempurnaan kerajaanNya bahwasanya tidak ada yang dapat, ﴾ يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ ﴿ "memberi syafa'at di sisi Allah," yakni tak seorang pun, ﴾ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ ﴿ "kecuali dengan izinNya." Setiap pemuka kaum dan para pemegang syafa'at adalah hamba-hamba bagiNya dan budak-budakNya, di mana mereka tidak melakukan syafa'at hingga me-reka diizinkan untuk itu, (Allah berfirman,)
﴾ قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعٗاۖ لَّهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿
"Katakanlah, 'Hanya kepunyaan Allah syafa'at itu semuanya. KepunyaanNya kerajaan langit dan bumi'." (Az-Zumar: 44).
Dan Allah tidak memberikan izin kepada seorang pun untuk memberikan syafa'at kecuali bagi mereka yang Dia ridhai, dan Dia tidak meridhai kecuali mereka yang mentauhidkanNya dan meng-ikuti RasulNya. Barangsiapa yang tidak bersifat seperti ini, maka dia tidak mendapatkan bagian dari syafa'at. Kemudian Allah me-ngabarkan tentang ilmuNya yang luas lagi melingkupi dan bahwa Dia mengetahui apa yang ada pada seluruh makhluk berupa per-kara-perkara yang akan datang yang tidak ada akhirnya, ﴾ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ ﴿ "dan di belakang mereka" dari perkara-perkara yang telah berlalu yang tidak ada batasnya, dan bahwasanya tidak ada yang tersem-bunyi dariNya,
﴾ يَعۡلَمُ خَآئِنَةَ ٱلۡأَعۡيُنِ وَمَا تُخۡفِي ٱلصُّدُورُ 19 ﴿
"Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati." (Al-Mu`min: 19).
Dan bahwasanya di antara makhluk itu tidaklah seorang pun yang meliputi ilmu Allah dan pengetahuanNya, ﴾ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ ﴿ "melainkan apa yang dikehendakiNya." Di antaranya adalah sesuatu yang diperlihatkan olehNya kepada kalian dari perkara-perkara syar'i dan perkara takdir, dan itu hanya bagian yang sangat sedikit sekali yang akan hilang (bila dibandingkan) ilmu Allah dan penge-tahuanNya sebagaimana yang dikatakan oleh makhluk yang paling mengetahui tentangNya yaitu para Rasul dan Malaikat,
﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ 32 ﴿
"Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami." (Al-Baqarah: 32).
Kemudian Allah mengabarkan tentang keagungan dan ke-muliaanNya dan bahwasanya kursiNya seluas langit dan bumi, dan bahwa Dia menjaga keduanya dan seluruh makhluk yang berada di dalamnya dengan sebab-sebab dan aturan-aturan yang dijadikan oleh Allah pada para makhluk, walaupun demikian tidaklah ada sesuatu pun yang memberatkanNya untuk menjaga keduanya karena kesempurnaan kebesaranNya dan KuasaNya, serta luasnya hikmahNya dalam segala hukum-hukumNya.
﴾ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ﴿ "Dan Allah Mahatinggi" dengan DzatNya atas semua makhluk-makhlukNya, dan Dia Tinggi dengan keagungan sifat-sifatNya, dan Dia-lah yang Mahatinggi yang menguasai makhluk-makhluk, segala yang ada patuh padaNya, segala perkara tunduk padaNya, dan semua hamba merendahkan diri kepadaNya, ﴾ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "lagi Mahaagung" yang menyatukan segala sifat keagungan, kesom-bongan, kebesaran, dan kemegahan, Dzat yang dicintai oleh hati, diagungkan oleh ruh, orang-orang yang mengetahui itu paham bahwa keagungan setiap hal walaupun nampak jelas namun Dia akan sangat kecil bila disandingkan dengan keagungan Dzat yang Mahatinggi lagi Mahabesar.
Ayat ini meliputi semua makna yang merupakan makna yang paling mulia yang menyebabkannya berhak menjadi ayat yang teragung dalam al-Qur`an, dan orang yang membacanya dengan melakukan perenungan dan pemahaman, maka dia berhak agar hatinya dipenuhi dengan keyakinan, pengetahuan, dan keimanan, dan Dia akan terjaga dengan hal itu dari kejahatan setan.
(255) Nabi ﷺ mengabarkan,
أَنَّ هٰذِهِ الْآيَةَ أَعْظَمُ آيَاتِ الْقُرْآنِ.
"Bahwa ayat ini adalah ayat yang paling agung dalam al-Qur`an,"[29]
karena ayat ini meliputi makna tauhid, kebesaran, dan luasnya sifat Allah تعالى, dan Allah تعالى mengabarkan bahwasanya Dia adalah, ﴾ ٱللَّهُ ﴿ "Allah" yang memiliki segala makna-makna ketuhanan, dan bahwasanya tidak ada yang berhak bercitra ketuhanan dan per-ibadahan kecuali hanya Dia.
Dipertuhankannya selainNya dan peribadahan kepada selain-Nya adalah batil, dan bahwasanya Dia ﴾ ٱلۡحَيُّ ﴿ "Hidup kekal," yang memiliki seluruh makna-makna kehidupan yang sempurna berupa pendengaran, penglihatan, kemampuan, kehendak, dan sebagainya dari sifat-sifat fisik, sebagaimana juga Dia ﴾ ٱلۡقَيُّومُۚ ﴿ "terus menerus mengurus (makhlukNya)," termasuk di dalamnya segala macam bentuk sifat-sifat perbuatan, karena Dia terus menerus mengurus (makhlukNya), yang sendiri saja mengurusnya, dan tidak butuh kepada bantuan seluruh makhluk-makhlukNya. Allah mengurus segala makhluk, di mana Dia menciptakan mereka, menetapkannya, memberikan segala kebutuhan mereka dalam mempertahankan keberadaan dan kelanggengan mereka. Dan di antara kesempur-naan hidup dan kepengurusanNya bahwa Dia ﴾ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ ﴿ "tidak mengantuk," maksudnya, tidak ingin tidur, ﴾ وَلَا نَوۡمٞۚ ﴿ "dan tidak tidur" karena ngantuk. Tidur hanya muncul pada para makhluk yang diselubungi oleh kelemahan, ketidakmampuan, serta kekurangan, dan tidak muncul pada Dzat yang memiliki keagungan, kesom-bongan, dan kemuliaan, dan Allah juga mengabarkan bahwasanya Dia Pemilik apa yang ada di langit dan di bumi, semuanya adalah hamba-hamba Allah sebagai budak-budakNya yang tidak ada seorang pun yang keluar dari koridor tersebut,
﴾ إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا 93 ﴿
"Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba." (Maryam: 93).
Maka Dia-lah Raja segala raja dan Dia-lah yang memiliki segala sifat raja, pengaturan, kekuasaan, dan kesombongan, dan dari kesempurnaan kerajaanNya bahwasanya tidak ada yang dapat, ﴾ يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ ﴿ "memberi syafa'at di sisi Allah," yakni tak seorang pun, ﴾ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ ﴿ "kecuali dengan izinNya." Setiap pemuka kaum dan para pemegang syafa'at adalah hamba-hamba bagiNya dan budak-budakNya, di mana mereka tidak melakukan syafa'at hingga me-reka diizinkan untuk itu, (Allah berfirman,)
﴾ قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعٗاۖ لَّهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿
"Katakanlah, 'Hanya kepunyaan Allah syafa'at itu semuanya. KepunyaanNya kerajaan langit dan bumi'." (Az-Zumar: 44).
Dan Allah tidak memberikan izin kepada seorang pun untuk memberikan syafa'at kecuali bagi mereka yang Dia ridhai, dan Dia tidak meridhai kecuali mereka yang mentauhidkanNya dan meng-ikuti RasulNya. Barangsiapa yang tidak bersifat seperti ini, maka dia tidak mendapatkan bagian dari syafa'at. Kemudian Allah me-ngabarkan tentang ilmuNya yang luas lagi melingkupi dan bahwa Dia mengetahui apa yang ada pada seluruh makhluk berupa per-kara-perkara yang akan datang yang tidak ada akhirnya, ﴾ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ ﴿ "dan di belakang mereka" dari perkara-perkara yang telah berlalu yang tidak ada batasnya, dan bahwasanya tidak ada yang tersem-bunyi dariNya,
﴾ يَعۡلَمُ خَآئِنَةَ ٱلۡأَعۡيُنِ وَمَا تُخۡفِي ٱلصُّدُورُ 19 ﴿
"Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati." (Al-Mu`min: 19).
Dan bahwasanya di antara makhluk itu tidaklah seorang pun yang meliputi ilmu Allah dan pengetahuanNya, ﴾ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ ﴿ "melainkan apa yang dikehendakiNya." Di antaranya adalah sesuatu yang diperlihatkan olehNya kepada kalian dari perkara-perkara syar'i dan perkara takdir, dan itu hanya bagian yang sangat sedikit sekali yang akan hilang (bila dibandingkan) ilmu Allah dan penge-tahuanNya sebagaimana yang dikatakan oleh makhluk yang paling mengetahui tentangNya yaitu para Rasul dan Malaikat,
﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ 32 ﴿
"Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami." (Al-Baqarah: 32).
Kemudian Allah mengabarkan tentang keagungan dan ke-muliaanNya dan bahwasanya kursiNya seluas langit dan bumi, dan bahwa Dia menjaga keduanya dan seluruh makhluk yang berada di dalamnya dengan sebab-sebab dan aturan-aturan yang dijadikan oleh Allah pada para makhluk, walaupun demikian tidaklah ada sesuatu pun yang memberatkanNya untuk menjaga keduanya karena kesempurnaan kebesaranNya dan KuasaNya, serta luasnya hikmahNya dalam segala hukum-hukumNya.
﴾ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ﴿ "Dan Allah Mahatinggi" dengan DzatNya atas semua makhluk-makhlukNya, dan Dia Tinggi dengan keagungan sifat-sifatNya, dan Dia-lah yang Mahatinggi yang menguasai makhluk-makhluk, segala yang ada patuh padaNya, segala perkara tunduk padaNya, dan semua hamba merendahkan diri kepadaNya, ﴾ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "lagi Mahaagung" yang menyatukan segala sifat keagungan, kesom-bongan, kebesaran, dan kemegahan, Dzat yang dicintai oleh hati, diagungkan oleh ruh, orang-orang yang mengetahui itu paham bahwa keagungan setiap hal walaupun nampak jelas namun Dia akan sangat kecil bila disandingkan dengan keagungan Dzat yang Mahatinggi lagi Mahabesar.
Ayat ini meliputi semua makna yang merupakan makna yang paling mulia yang menyebabkannya berhak menjadi ayat yang teragung dalam al-Qur`an, dan orang yang membacanya dengan melakukan perenungan dan pemahaman, maka dia berhak agar hatinya dipenuhi dengan keyakinan, pengetahuan, dan keimanan, dan Dia akan terjaga dengan hal itu dari kejahatan setan.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di