Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di

Ta-Ha : Ayat 44

"Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayatKu, dan janganlah kalian berdua lalai dalam mengingatKu. Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut." Berkatalah mereka berdua, "Ya Rabb kami, sesung-guhnya kami khawatir bahwa dia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas." Allah berfirman, "Jangan kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat." (Thaha: 42-46).
Tafsir As-Sa'di
(44) ﴾ فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا ﴿ "Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut," yaitu perkataan yang enak (di-dengar), lunak, dengan kelembutan, persuasif, etika dalam tutur kata, tanpa ada unsur kekejian, pamer kekuatan dan kekerasan dalam perkataan, serta sikap kasar dalam tindakan. ﴾ لَّعَلَّهُۥ ﴿ "Mudah-mudahan," melalui perkataan yang lembut ﴾ يَتَذَكَّرُ ﴿ "dia ingat," ten-tang perkara-perkara yang bermanfaat bagi dirinya hingga ter-gugah untuk mengerjakannya ﴾ أَوۡ يَخۡشَىٰ 44 ﴿ "atau takut," akan segala sesuatu yang membahayakan dirinya sehingga meninggalkannya. Sesungguhnya tutur kata yang lembut akan mengundang peru-bahan itu, dan omongan yang kasar akan melahirkan antipati pada dirinya. Tutur kata yang lunak ini diperjelas dalam Firman Allah,
﴾ فَقُلۡ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ 18 وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخۡشَىٰ 19 ﴿
"Maka katakanlah (kepada Fir'aun), 'Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar kamu takut kepadaNya'." (An-Nazi'at: 18-19).
Sesungguhnya ungkapan di atas memuat sisi kelembutan dan kemudahan tanpa ada unsur keburukan yang sangat jelas sekali bagi orang yang merenunginya. Beliau memulai dengan kata ﴾ هَل ﴿ "Apakah," yang menandakan tawaran dan ajakan diskusi, yang tiada seorang pun membencinya. Beliau mengajaknya untuk me-nyucikan dan membersihkan diri dari kotoran-kotoran (maknawi), yang intinya adalah membersihkan diri dari kesyirikan yang bisa disambut oleh setiap akal yang sehat. Beliau tidak mengatakan, "Aku akan membersihkan dirimu." Akan tetapi berkata, ﴾ تَزَكَّىٰ ﴿ "engkau membersihkan diri," engkaulah orang yang menjalankannya. Selanjutnya, beliau mengajaknya menuju jalan Rabbnya yang telah merawat dan mencurahkan kenikmatan padanya dengan kenik-matan lahiriah dan batiniah, yang sudah sepantasnya timbal balik-nya yaitu rasa syukur dan mengingat nikmat-nikmat itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَهۡدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخۡشَىٰ ﴿ "Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabb-mu agar kamu takut kepadaNya." Ketika dia tidak mau menerima perkataan yang lembut yang keindahannya sanggup memikat hati, maka dapat diketahui bahwa peringatan sudah tidak mempan lagi baginya. Allah pun menyiksanya dengan siksaan Dzat Yang Maha-perkasa lagi Mahakuasa.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di