Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
Al-Anbiya : Ayat 22
"Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa. Maka Mahasuci Allah yang mempunyai 'Arasy dari apa yang mereka sifatkan. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuatNya, dan merekalah yang akan ditanyai. Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selainNya? Katakanlah, 'Tunjukkanlah hujjahmu! (al-Qur`an ) ini adalah petunjuk bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang sebelumku.' Sebenar-nya kebanyakan mereka tidak mengetahui yang haq, karena itu mereka berpaling. Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan pasti Kami wahyukan kepadanya, 'Bah-wasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka kalian sembahlah Aku'." (Al-Anbiya`: 21-25).
Tafsir As-Sa'di
(22) Orang musyrik menyembah makhluk yang tidak bisa memberikan manfaat atau membahayakan dengan meninggalkan sikap keikhlasan kepada Allah, Dzat yang mempunyai seluruh kesempurnaan. Di TanganNya-lah terdapat (kendali) segala urusan, manfaat, dan bahaya. Ini (perbuatan orang musyrik itu) termasuk (cerminan) tidak adanya taufik Allah padanya, buruknya keberun-tungannya, kebodohannya yang parah, dan besarnya ulah kezha-limannya. Sesungguhnya alam semesta ini tidak akan menjadi baik kecuali bila berada di bawah satu sesembahan semata. Sebagaimana tidaklah alam (ini) diadakan kecuali oleh satu pemilik (Rabb). Ka-renanya, Allah berfirman, ﴾ لَوۡ كَانَ فِيهِمَآ ﴿ "Sekiranya di dalam keduanya," yaitu di langit dan bumi ﴾ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَاۚ ﴿ "terdapat tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa," pada bentuk kedua-nya, dan rusak pula makhluk-makhluk yang berada di dalamnya.
Penjelasannya sebagai berikut: Bumi lapisan atas dan lapisan bawah berdasarkan pemandangan yang terlihat dalam bentuk yang paling sempurna ditilik dari aspek keindahan dan keteraturan, yang tidak ada celah kekurangan, cacat, pertentangan, dan kontradiksi di dalamnya, hal ini mengindikasikan bahwa Dzat yang mengatur-nya satu, Pemiliknya satu dan Tuhannya satu. Andai saja, alam ini mempunyai dua pengatur dan dua pemilik atau lebih dari itu, niscaya aturan geraknya akan carut-marut, tiang-tiangnya akan roboh, kedua-duanya akan saling bertentangan dan berlawanan. Jika salah satu dari keduanya ingin menetapkan suatu pengaturan tertentu, sementara pihak lain tidak menghendakinya, niscaya rea-lisasi keinginan mereka berdua secara sekaligus merupakan bentuk kemustahilan. Dan terealisasinya keinginan salah satu pihak, semen-tara kehendak yang lain tidak terwujud, menunjukkan kelemahan dan ketidakberdayaan pihak yang lain itu. Sedangkan keserasian dua belah pihak pada satu kesepakatan bulat dalam seluruh per-kara adalah tidak mungkin juga. Oleh karenanya, menjadi sebuah kepastian bahwa Dzat yang Perkasa yang kehendakNya semata yang dapat terwujudkan (sesuatu) tanpa ada penentang atau penyanggah, Dia adalah Allah Yang Mahasatu lagi Mahaperkasa. Karena ini, Allah menyebutkan sebuah bentuk dalil tamanu' (kontra-diktif) dengan FirmanNya,
﴾ مَا ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ مِن وَلَدٖ وَمَا كَانَ مَعَهُۥ مِنۡ إِلَٰهٍۚ إِذٗا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهِۭ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ 91 ﴿
"Allah sekali-kali tidak mempunyai anak dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) besertaNya. (Kalau ada tuhan besertaNya) masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan seba-gian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha-suci Allah dari apa yang mereka sifatkan." (Al-Mu`minun: 91).
Senada dengan ayat di atas, penggunaan ayat berikut ber-dasarkan salah satu tafsirannya,
﴾ قُل لَّوۡ كَانَ مَعَهُۥٓ ءَالِهَةٞ كَمَا يَقُولُونَ إِذٗا لَّٱبۡتَغَوۡاْ إِلَىٰ ذِي ٱلۡعَرۡشِ سَبِيلٗا 42 سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوّٗا كَبِيرٗا 43 ﴿
"Katakanlah, 'Jikalau ada tuhan-tuhan di sampingNya sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Pemilik 'Arasy.' Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya." (Al-Isra`: 42-43).
Karenanya, Allah berfirman, ﴾ فَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka Mahasuci Allah," Dia berlepas diri dan Suci dari segala kekurangan yang mengarah pada kesempurnaanNya ﴾ رَبِّ ٱلۡعَرۡشِ ﴿ "Yang mempunyai 'Arasy," yang menjadi atap seluruh makhluk, tempat yang paling luas dan paling agung. Maka, rububiyah (pengaturan) Allah terhadap makhluk-makhluk lain yang lebih kecil dari Arasy adalah lebih masuk akal ﴾ عَمَّا يَصِفُونَ 22 ﴿ "dari apa yang mereka sifatkan," yaitu orang-orang yang menentang dan mengingkari, berupa (tindakan) penisbatan anak dan istri bagi Allah, serta kepemilikan sekutu dari segala aspek.
Penjelasannya sebagai berikut: Bumi lapisan atas dan lapisan bawah berdasarkan pemandangan yang terlihat dalam bentuk yang paling sempurna ditilik dari aspek keindahan dan keteraturan, yang tidak ada celah kekurangan, cacat, pertentangan, dan kontradiksi di dalamnya, hal ini mengindikasikan bahwa Dzat yang mengatur-nya satu, Pemiliknya satu dan Tuhannya satu. Andai saja, alam ini mempunyai dua pengatur dan dua pemilik atau lebih dari itu, niscaya aturan geraknya akan carut-marut, tiang-tiangnya akan roboh, kedua-duanya akan saling bertentangan dan berlawanan. Jika salah satu dari keduanya ingin menetapkan suatu pengaturan tertentu, sementara pihak lain tidak menghendakinya, niscaya rea-lisasi keinginan mereka berdua secara sekaligus merupakan bentuk kemustahilan. Dan terealisasinya keinginan salah satu pihak, semen-tara kehendak yang lain tidak terwujud, menunjukkan kelemahan dan ketidakberdayaan pihak yang lain itu. Sedangkan keserasian dua belah pihak pada satu kesepakatan bulat dalam seluruh per-kara adalah tidak mungkin juga. Oleh karenanya, menjadi sebuah kepastian bahwa Dzat yang Perkasa yang kehendakNya semata yang dapat terwujudkan (sesuatu) tanpa ada penentang atau penyanggah, Dia adalah Allah Yang Mahasatu lagi Mahaperkasa. Karena ini, Allah menyebutkan sebuah bentuk dalil tamanu' (kontra-diktif) dengan FirmanNya,
﴾ مَا ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ مِن وَلَدٖ وَمَا كَانَ مَعَهُۥ مِنۡ إِلَٰهٍۚ إِذٗا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهِۭ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ 91 ﴿
"Allah sekali-kali tidak mempunyai anak dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) besertaNya. (Kalau ada tuhan besertaNya) masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan seba-gian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha-suci Allah dari apa yang mereka sifatkan." (Al-Mu`minun: 91).
Senada dengan ayat di atas, penggunaan ayat berikut ber-dasarkan salah satu tafsirannya,
﴾ قُل لَّوۡ كَانَ مَعَهُۥٓ ءَالِهَةٞ كَمَا يَقُولُونَ إِذٗا لَّٱبۡتَغَوۡاْ إِلَىٰ ذِي ٱلۡعَرۡشِ سَبِيلٗا 42 سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوّٗا كَبِيرٗا 43 ﴿
"Katakanlah, 'Jikalau ada tuhan-tuhan di sampingNya sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Pemilik 'Arasy.' Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya." (Al-Isra`: 42-43).
Karenanya, Allah berfirman, ﴾ فَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ ﴿ "Maka Mahasuci Allah," Dia berlepas diri dan Suci dari segala kekurangan yang mengarah pada kesempurnaanNya ﴾ رَبِّ ٱلۡعَرۡشِ ﴿ "Yang mempunyai 'Arasy," yang menjadi atap seluruh makhluk, tempat yang paling luas dan paling agung. Maka, rububiyah (pengaturan) Allah terhadap makhluk-makhluk lain yang lebih kecil dari Arasy adalah lebih masuk akal ﴾ عَمَّا يَصِفُونَ 22 ﴿ "dari apa yang mereka sifatkan," yaitu orang-orang yang menentang dan mengingkari, berupa (tindakan) penisbatan anak dan istri bagi Allah, serta kepemilikan sekutu dari segala aspek.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di