Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
Al-Anbiya : Ayat 3
"Telah dekat kepada manusia (hari) penghitungan segala amal-an mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari padanya). Tidaklah datang kepada mereka suatu ayat al-Qur`an pun yang baru (diturunkan) dari Rabb mereka, melainkan mereka mendengarnya dalam keadaan mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang zhalim itu merahasiakan pembicaraan mereka, 'Tidaklah orang ini melain-kan hanya seorang manusia (jua) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya.' Muhammad berkata (kepada mereka), 'Rabbku mengetahui (semua) perkataan di langit dan bumi, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui'." (Al-Anbiya`: 1-4).
Tafsir As-Sa'di
(3) ﴾ لَاهِيَةٗ قُلُوبُهُمۡۗ ﴿ "(Lagi) hati mereka dalam keadaan lalai," mak-sudnya hati mereka lalai, berpaling, dan terbuai dengan orientasi-orientasi keduniaan. Fisik-fisik mereka hanya bermain-main. Mereka larut dengan pemenuhan syahwat dan praktik kebatilan, serta per-kataan-perkataan yang picisan. Padahal, seyogyanya mereka tidak bersifat demikian; misalnya hati mereka menyambut perintah dan larangan Allah, mendengarkanNya dengan cara yang menjadikan-nya memahami maksudNya. Anggota-anggota tubuhnya bergerak untuk menjalankan ibadah yang menjadi tujuan penciptaan diri mereka. Dan sepatutnya pula, mereka menempatkan Hari Kiamat, perhitungan amalan dan pembalasannya di benak-benak mereka. Dengan itulah nanti, urusan mereka menjadi sempurna, kondisi mereka semakin lurus dan amalan mereka menjadi bersih. Tentang makna Firman Allah ﴾ ٱقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ ﴿ "Telah dekat kepada manusia (hari) penghitungan segala amalan mereka," (Al-Anbiya`: 1), terdapat dua pendapat:
Pendapat pertama:
Umat ini (umat Islam) merupakan umat yang paling terakhir. RasulNya pun rasul yang terakhir. Hari Kiamat akan terjadi pada umat beliau. (Karena itu), sungguh Hari Kiamat telah dekat dengan mereka dibandingkan dengan umat-umat sebelumnya. Berdasarkan sabda Nabi,
بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ.
"Saya diutus (menjadi rasul) bersamaan (datangnya) Hari Kiamat, seperti dua jari ini."
Beliau menyandingkan jari telunjuknya dengan jari yang ber-ada di sampingnya (jari tengah).[1]
Pendapat kedua:
Yang dimaksud dengan dekatnya Hari Hisab (perhitungan amalan) adalah kematian. Bahwa orang yang meninggal, maka Kiamat sudah terjadi baginya, dan dia memasuki kampung pem-balasan atas amalan-amalannya. Ayat ini merupakan ungkapan keheranan terhadap orang yang terbuai dan berpaling, dia tidak tahu, kapan kematian mengagetkannya, pagi atau siang. Demikian ini kondisi orang-orang secara keseluruhan, kecuali orang-orang yang terlimpahi perhatian ilahi, maka dia mempersiapkan diri untuk kematian dan tahapan hidup selanjutnya.
Selanjutnya, Allah menceritakan tentang topik yang dibahas oleh kaum kafir dan orang-orang yang zhalim secara sembunyi-sembunyi dalam rangka menentang dan melawan kebenaran dengan kebatilan. Mereka itu menjalin kesepakatan di antara mereka untuk melontarkan komentar tentang rasul, "Sesungguhnya dia adalah manusia biasa layaknya kalian. Maka, apakah yang menyebabkan-nya lebih utama dan lebih istimewa dari pada kalian? Seandainya ada salah seorang dari kalian mengklaim seperti pengakuannya, niscaya ungkapannya adalah sejenis dengan ungkapan Rasulullah. Namun, (dia melakukan hal itu) lantaran ingin lebih tinggi dari kalian dan menjadi pimpinan atas kalian. Oleh karenanya, jangan-lah kalian menaatinya dan jangan pula mempercayainya. Ia adalah tukang sihir. Dan al-Qur`an yang dia bawa merupakan sihir juga. Larilah darinya, serta jauhkan orang-orang darinya." Dan katakan-lah, ﴾ أَفَتَأۡتُونَ ٱلسِّحۡرَ وَأَنتُمۡ تُبۡصِرُونَ 3 ﴿ "Maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya." Beginilah yang mereka ucapkan, padahal mereka mengetahui bahwa dia benar-benar adalah utusan Allah, berdasarkan apa yang mereka saksikan, berupa tanda-tanda kekuasaan yang mencengangkan yang tidak disaksikan oleh orang selain mereka. Tetapi, perkara yang menyeret mereka melakukan penolakan, yaitu suratan takdir kebinasaan (pada mereka), kezhalim-an, dan sifat penentangan.
Pendapat pertama:
Umat ini (umat Islam) merupakan umat yang paling terakhir. RasulNya pun rasul yang terakhir. Hari Kiamat akan terjadi pada umat beliau. (Karena itu), sungguh Hari Kiamat telah dekat dengan mereka dibandingkan dengan umat-umat sebelumnya. Berdasarkan sabda Nabi,
بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ.
"Saya diutus (menjadi rasul) bersamaan (datangnya) Hari Kiamat, seperti dua jari ini."
Beliau menyandingkan jari telunjuknya dengan jari yang ber-ada di sampingnya (jari tengah).[1]
Pendapat kedua:
Yang dimaksud dengan dekatnya Hari Hisab (perhitungan amalan) adalah kematian. Bahwa orang yang meninggal, maka Kiamat sudah terjadi baginya, dan dia memasuki kampung pem-balasan atas amalan-amalannya. Ayat ini merupakan ungkapan keheranan terhadap orang yang terbuai dan berpaling, dia tidak tahu, kapan kematian mengagetkannya, pagi atau siang. Demikian ini kondisi orang-orang secara keseluruhan, kecuali orang-orang yang terlimpahi perhatian ilahi, maka dia mempersiapkan diri untuk kematian dan tahapan hidup selanjutnya.
Selanjutnya, Allah menceritakan tentang topik yang dibahas oleh kaum kafir dan orang-orang yang zhalim secara sembunyi-sembunyi dalam rangka menentang dan melawan kebenaran dengan kebatilan. Mereka itu menjalin kesepakatan di antara mereka untuk melontarkan komentar tentang rasul, "Sesungguhnya dia adalah manusia biasa layaknya kalian. Maka, apakah yang menyebabkan-nya lebih utama dan lebih istimewa dari pada kalian? Seandainya ada salah seorang dari kalian mengklaim seperti pengakuannya, niscaya ungkapannya adalah sejenis dengan ungkapan Rasulullah. Namun, (dia melakukan hal itu) lantaran ingin lebih tinggi dari kalian dan menjadi pimpinan atas kalian. Oleh karenanya, jangan-lah kalian menaatinya dan jangan pula mempercayainya. Ia adalah tukang sihir. Dan al-Qur`an yang dia bawa merupakan sihir juga. Larilah darinya, serta jauhkan orang-orang darinya." Dan katakan-lah, ﴾ أَفَتَأۡتُونَ ٱلسِّحۡرَ وَأَنتُمۡ تُبۡصِرُونَ 3 ﴿ "Maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya." Beginilah yang mereka ucapkan, padahal mereka mengetahui bahwa dia benar-benar adalah utusan Allah, berdasarkan apa yang mereka saksikan, berupa tanda-tanda kekuasaan yang mencengangkan yang tidak disaksikan oleh orang selain mereka. Tetapi, perkara yang menyeret mereka melakukan penolakan, yaitu suratan takdir kebinasaan (pada mereka), kezhalim-an, dan sifat penentangan.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di