Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
An-Nur : Ayat 21
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu mendapat-kan azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.' Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allah adalah besar. Dan me-ngapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha-suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti lang-kah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan per-buatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa me-reka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka mendapat-kan laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenar-nya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang di-tuduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia (surga)." (An-Nur: 11-26).
Tafsir As-Sa'di
(21) Setelah melarang dosa ini secara khusus, Allah juga melarang (kalian) dari dosa secara umum. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan," maksudnya jalan-jalan dan godaan-godaannya. Langkah-langkah setan ini mencakup seluruh perbuatan maksiat yang berhubungan dengan hati, lisan, dan badan.
Di antara hikmah Allah تعالى, dalam menerangkan hukum ini –yakni larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan– adalah, penjelasan mengenai kejelekan yang ditimbulkan dan motivator untuk meninggalkan larangan itu. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ ﴿ "Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia," yaitu setan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji," yaitu segala perbuatan yang dianggap jelek oleh akal dan syariat berupa dosa-dosa besar disertai adanya kecon-dongan hati kepadanya ﴾ وَٱلۡمُنكَرِۚ ﴿ "dan yang mungkar" yaitu segala yang diingkari oleh akal dan tidak dikenal (sebagai perbuatan baik). Jadi, perbuatan-perbuatan maksiat yang merupakan langkah-langkah setan, tidak keluar dari bingkai ini. Maka Allah melarang hambaNya dari hal tersebut sebagai wujud kenikmatanNya atas mereka, supaya bersyukur dan mengingatNya. Karena yang demi-kian merupakan tameng penjagaan bagi mereka dari noda, kenis-taan, dan kejelekan-kejelekan mereka. Dan termasuk dari kebaikan Allah atas mereka, adalah melarang mereka dari semua itu seba-gaimana Allah melarang mereka dari (makan) racun-racun pem-bunuh dan semacamnya.
﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا ﴿ "Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak se-orang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya," maksudnya tidak ada seorang pun yang bersih (selamat) dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan ber-sama tentaranya itu akan selalu berupaya untuk menyeru kepada-nya dan memolesnya menjadi indah. Sementara itu, jiwa selalu cenderung kepada keburukan dan menyeru kepadanya. Keku-rangan terus menguasai diri seorang hamba dari segala penjuru, sementara iman tidak kuat. Bila ia dibiarkan terpengaruh oleh faktor-faktor itu, niscaya tidak ada seorang pun yang suci dengan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekannya serta (tidak mampu) meningkatkan amal kebaikannya. Sesungguhnya penyucian diri itu memuat unsur pembersihan dan peningkatan diri. Akan tetapi, karunia dan rahmatNya-lah yang menjadikan seseorang menyucikan dirinya.
Termasuk doa nabi,
اَللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا.
"Ya Allah, berikanlah kepada diriku ketakwaan, dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah pe-nolong dan penguasanya."[16]
Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang Allah ketahui akan membersihkan diri dengan menyucikan jiwanya. Oleh sebab itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Di antara hikmah Allah تعالى, dalam menerangkan hukum ini –yakni larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan– adalah, penjelasan mengenai kejelekan yang ditimbulkan dan motivator untuk meninggalkan larangan itu. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ ﴿ "Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia," yaitu setan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji," yaitu segala perbuatan yang dianggap jelek oleh akal dan syariat berupa dosa-dosa besar disertai adanya kecon-dongan hati kepadanya ﴾ وَٱلۡمُنكَرِۚ ﴿ "dan yang mungkar" yaitu segala yang diingkari oleh akal dan tidak dikenal (sebagai perbuatan baik). Jadi, perbuatan-perbuatan maksiat yang merupakan langkah-langkah setan, tidak keluar dari bingkai ini. Maka Allah melarang hambaNya dari hal tersebut sebagai wujud kenikmatanNya atas mereka, supaya bersyukur dan mengingatNya. Karena yang demi-kian merupakan tameng penjagaan bagi mereka dari noda, kenis-taan, dan kejelekan-kejelekan mereka. Dan termasuk dari kebaikan Allah atas mereka, adalah melarang mereka dari semua itu seba-gaimana Allah melarang mereka dari (makan) racun-racun pem-bunuh dan semacamnya.
﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا ﴿ "Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak se-orang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya," maksudnya tidak ada seorang pun yang bersih (selamat) dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan ber-sama tentaranya itu akan selalu berupaya untuk menyeru kepada-nya dan memolesnya menjadi indah. Sementara itu, jiwa selalu cenderung kepada keburukan dan menyeru kepadanya. Keku-rangan terus menguasai diri seorang hamba dari segala penjuru, sementara iman tidak kuat. Bila ia dibiarkan terpengaruh oleh faktor-faktor itu, niscaya tidak ada seorang pun yang suci dengan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekannya serta (tidak mampu) meningkatkan amal kebaikannya. Sesungguhnya penyucian diri itu memuat unsur pembersihan dan peningkatan diri. Akan tetapi, karunia dan rahmatNya-lah yang menjadikan seseorang menyucikan dirinya.
Termasuk doa nabi,
اَللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا.
"Ya Allah, berikanlah kepada diriku ketakwaan, dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah pe-nolong dan penguasanya."[16]
Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang Allah ketahui akan membersihkan diri dengan menyucikan jiwanya. Oleh sebab itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di