Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di

An-Naml : Ayat 20

"Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Dawud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan, 'Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambaNya yang beriman.' Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud, dan dia berkata, 'Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata.' Dan dihimpunkan untuk Sulai-man tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, 'Hai semut-semut, ma-suklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari,' maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, 'Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau anugerahkan ke-padaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih.' Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, 'Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar aku menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.' Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata, 'Aku telah menge-tahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan aku membawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini, sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai sing-gasana yang besar. Aku mendapatinya dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan setan telah menjadikan mereka me-mandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapat pe-tunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan sesuatu yang terpendam di langit dan bumi, dan Yang mengetahui sesuatu yang kamu sembunyikan dan sesuatu yang kamu nyata-kan. Allah, tiada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai Arasy yang besar.' Berkatalah Sulaiman, 'Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuh-kanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.' Berkata ia (Balqis), 'Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya, 'Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri.' Berkata dia (Balqis), 'Hai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini), aku ti-dak pernah memutuskan sesuatu persoalan sehingga kalian berada dalam majelis(ku).' Mereka menjawab, 'Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.' Dia berkata, 'Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.' Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata, 'Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? Maka sesuatu yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada sesuatu yang diberi-kanNya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiah-mu. Kembalilah kepada mereka, sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dalam keadaan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.' Sulaiman berkata, 'Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?' Berkatalah 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin, 'Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.' Ber-katalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab, 'Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.' Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hada-pannya, dia pun berkata, 'Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.' Dia berkata, 'Rubahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya).' Dan ketika Balqis datang, ditanya-kanlah kepadanya, 'Serupa inikah singgasanamu?' Dia menjawab, 'Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pe-ngetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.' Dan sesuatu yang disembahnya selama ini selain Allah, men-cegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir. Dikatakan ke-padanya, 'Masuklah ke dalam istana.' Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkap-kannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman, 'Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca.' Berkatalah Balqis, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat lalim terhadap diriku, dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam'." (An-Naml: 15-44).
Tafsir As-Sa'di
(20) Kemudian Allah menyebutkan satu contoh lain dari dialognya kepada burung, seraya berfirman, ﴾ وَتَفَقَّدَ ٱلطَّيۡرَ ﴿ "Dan dia memeriksa burung-burung.' Ini menunjukkan pada kebulatan tekad dan ketegasannya serta betapa baiknya dia dalam mengorgani-sasikan bala tentaranya dan pengendaliannya terhadap semua per-masalahan yang kecil dan yang besar, sampai-sampai beliau tidak pernah menyepelekan masalah ini, yaitu masalah memeriksa bu-rung dan melihat langsung apakah semuanya ada atau ada sesuatu yang hilang. Inilah makna ayat di atas.
Sungguh sama sekali tidak melakukan apa-apa orang yang mengatakan, "Sesungguhnya (tindakan) Sulaiman memeriksa bu-rung adalah untuk melihat ada di mana posisi burung hud-hud dari Sulaiman, (yang bertugas) untuk menunjukkan kepadanya jauh atau dekatnya air. Mereka juga telah beranggapan bahwa burung hud-hud sedang melihat adanya air di bawah tanah yang sangat rimbun. Sesungguhnya pendapat ini sama sekali tidak ada dalilnya. Bahkan dalil aqli dan lafzhi (nash) menunjukkan ketidak benaran pendapat ini. Dalil aqli menunjukkan bahwa sebenarnya berdasar-kan kebiasaan dan pengalaman serta kenyataan-kenyataan bahwa hewan-hewan tersebut, semuanya tidak mempunyai sedikit pun kemampuan melihat sebagaimana penglihatan yang di luar kebia-saan seperti ini, dan melihat adanya air di bawah tanah yang sangat rimbun. Kalau halnya memang seperti itu, tentu Allah pasti menye-butkannya, sebab ia merupakan mukjizat yang paling besar. Sedang-kan dalil lafzhi (menunjukkan) kalau seandainya yang dimaksud adalah makna tersebut, tentu Allah mengatakan, "Sulaiman men-cari hud-hud untuk melihat air untuknya. Maka tatkala Sulaiman mencarinya, maka dia mengatakan apa yang telah dikatakannya (di atas, dalam ayat. Pent), atau, "dia memeriksa hud-hud" atau "ia mencarinya" atau ungkapan lain yang serupa dengannya.
Dan yang benar adalah bahwa Sulaiman memeriksa seluruh burung untuk mengetahui mana yang hadir dan mana yang absen dan untuk mengetahui kekonsistenan masing-masing pada pos-pos dan tempat-tempat yang telah ditetapkannya. Dan juga, Sulaiman merasa tidak butuh dan tidak memerlukan air secara mendesak sehingga harus memerintahkan burung hud-hud. Sebab di sisinya ada setan-setan dan ifrit-ifrit yang sanggup menggali tanah untuk mencarikan air untuknya sedalam apa pun keberadaan air tersebut, dan Allah pun telah menundukkan angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan. Maka bagaimana mungkin, bersama semua itu (dikatakan bahwa) Sulaiman membutuhkan burung hud-hud?!
Tafsiran-tafsiran yang ada ini dan perkataan-perkataan yang masyhur ini tidaklah dikenal selainnya (jadi hanya ini semata. Ed. T), ia dinukil dari Bani Israil secara lepas, dan penukilnya lupa akan kontradiksinya dengan makna-makna yang shahih dan kesesuaian-nya dengan berbagai pendapat. Kemudian tafsiran-tafsiran tersebut senantiasa dinukil dan dikutip oleh orang yang datang kemudian begitu saja (tanpa diricek) dari orang-orang terdahulu, hingga dia mengira bahwa tafsiran tersebutlah yang benar, sehingga termuat-lah secara bebas perkataan-perkataan yang sangat rancu di dalam kitab-kitab tafsir.
Orang yang pandai nan cermat mengetahui bahwa al-Qur`an mulia yang berbahasa Arab nan jelas ini, yang dengannya Allah berbicara kepada semua manusia, yang berilmu dan yang bodoh dan memerintahkan mereka untuk merenungkan maknanya dan memahaminya sesuai dengan lafazh-lafazh bahasa Arab yang sudah dimaklumi maknanya, yang tidak awam bagi orang-orang Arab asli, dan apabila dia menemukan pendapat-pendapat (tafsiran. Pent) yang dikutip dari selain Rasulullah a, maka dia mengembalikan-nya kepada prinsip ini, lalu jika pendapat itu sejalan dengan prinsip ini, maka dia menerimanya, karena lafazh itu menunjukkan kepada yang demikian. Dan jika pendapat-pendapat itu menyalahinya baik secara lafazh dan makna atau secara lafazh saja, atau secara makna saja maka dia menolaknya dan memastikan kebatilannya, karena ia mempunyai prinsip (landasan) yang sudah maklum yang ber-tentangan dengan pendapat-pendapat tersebut, yaitu makna dan petunjuk kalimat yang sudah baku (diketahui).
Buktinya adalah bahwa pemeriksaan Sulaiaman عليه السلام terhadap burung-burung dan perasaan kehilangan burung hud-hud mem-buktikan kesempurnaan pengaturan dan pengendaliannya pada kerajaan sendirian, dan menunjukkan kesempurnaan kecerdasan-nya, sampai-sampai dia mencari burung sekecil itu. ﴾ فَقَالَ مَا لِيَ لَآ أَرَى ٱلۡهُدۡهُدَ أَمۡ كَانَ مِنَ ٱلۡغَآئِبِينَ ﴿ "Lalu berkata, 'Mengapa aku tidak melihat burung hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir'." Maksudnya, apakah ketidakdapatanku melihat burung hud-hud ini karena kurangnya pengetahuanku kepadanya karena ia tersembunyi di antara kum-pulan yang sangat besar ini? Atau ia ada di atas pintunya karena absen (tidak hadir) tanpa seizin ataupun perintah dariku?!
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di