Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di

An-Naml : Ayat 38

Tafsir As-Sa'di
"Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Dawud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan, 'Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambaNya yang beriman.' Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud, dan dia berkata, 'Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata.' Dan dihimpunkan untuk Sulai-man tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, 'Hai semut-semut, ma-suklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari,' maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, 'Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau anugerahkan ke-padaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih.' Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, 'Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar aku menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.' Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata, 'Aku telah menge-tahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan aku membawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini, sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai sing-gasana yang besar. Aku mendapatinya dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan setan telah menjadikan mereka me-mandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapat pe-tunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan sesuatu yang terpendam di langit dan bumi, dan Yang mengetahui sesuatu yang kamu sembunyikan dan sesuatu yang kamu nyata-kan. Allah, tiada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai Arasy yang besar.' Berkatalah Sulaiman, 'Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuh-kanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.' Berkata ia (Balqis), 'Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya, 'Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri.' Berkata dia (Balqis), 'Hai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini), aku ti-dak pernah memutuskan sesuatu persoalan sehingga kalian berada dalam majelis(ku).' Mereka menjawab, 'Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.' Dia berkata, 'Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.' Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata, 'Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? Maka sesuatu yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada sesuatu yang diberi-kanNya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiah-mu. Kembalilah kepada mereka, sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dalam keadaan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.' Sulaiman berkata, 'Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?' Berkatalah 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin, 'Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.' Ber-katalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab, 'Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.' Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hada-pannya, dia pun berkata, 'Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.' Dia berkata, 'Rubahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya).' Dan ketika Balqis datang, ditanya-kanlah kepadanya, 'Serupa inikah singgasanamu?' Dia menjawab, 'Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pe-ngetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.' Dan sesuatu yang disembahnya selama ini selain Allah, men-cegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir. Dikatakan ke-padanya, 'Masuklah ke dalam istana.' Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkap-kannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman, 'Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca.' Berkatalah Balqis, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat lalim terhadap diriku, dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam'." (An-Naml: 15-44).

(38-40) Sulaiman telah mengetahui bahwa mereka pasti akan berangkat menuju kepadanya. Maka dia segera berkata kepada jin dan manusia yang hadir di sisinya, ﴾ أَيُّكُمۡ يَأۡتِينِي بِعَرۡشِهَا قَبۡلَ أَن يَأۡتُونِي مُسۡلِمِينَ ﴿ "Siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasana-nya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?" Maksudnya, agar kita dapat menguasainya sebelum mereka menyerahkan diri, sehingga harta mereka menjadi terpeli-hara. ﴾ قَالَ عِفۡرِيتٞ مِّنَ ٱلۡجِنِّ ﴿ "Berkatalah Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin." Ifrit adalah jin yang paling kuat lagi sangat aktif sekali, ﴾ أَنَا۠ ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبۡلَ أَن تَقُومَ مِن مَّقَامِكَۖ وَإِنِّي عَلَيۡهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٞ ﴿ "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat membawanya lagi dapat dipercaya." Secara zahir, Sulaiman saat itu ada di negeri Syam, sehingga perja-lanan pulang pergi antara dia dengan negeri Saba` kira-kira sejauh perjalanan 4 bulan: Dua bulan untuk pergi dan dua bulan untuk pulang. Namun demikian Ifrit berkata, "Aku berkomitmen untuk membawanya, bagaimanapun besar dan beratnya serta jauhnya perjalanan, sebelum engkau beranjak dari tempat dudukmu yang saat ini sedang engkau duduki." Biasanya pertemuan yang panjang itu adalah selama panjangnya waktu dhuha kira-kira sepertiga hari. Ini adalah kebiasaan yang panjang. Dan kadang-kadang kurang dari itu atau lebih. Inilah raja yang agung yang beberapa gelintir dari para pengikutnya mempunyai kekuatan dan kemampuan seperti itu.
Yang lebih dahsyat dari itu lagi adalah bahwa, ﴾ قَالَ ٱلَّذِي عِندَهُۥ عِلۡمٞ مِّنَ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab." Para ahli tafsir mengatakan, "Seorang lelaki shalih yang ada di sisi Sulaiman, namanya Ashaf bin Barkhiya`. Dia mengetahui nama Allah yang teragung, yang kalau Allah dimohon dengannya pasti mengabulkan, dan kalau diminta dengannya pasti memberi, ﴾ أَنَا۠ ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبۡلَ أَن يَرۡتَدَّ إِلَيۡكَ طَرۡفُكَۚ ﴿ "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebe-lum matamu berkedip," dengan berdoa kepada Allah menggunakan nama Allah yang teragung itu, hingga singgasana itu hadir saat itu juga. Dia pun berdoa kepada Allah, maka singgasana itu datang.
Allah yang lebih mengetahui maksudnya, apakah ini yang dimaksud, atau dia adalah orang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab yang dengannya dia mempunyai kemampuan untuk meng-ambil benda yang jauh dan menjangkau sesuatu yang sulit ﴾ فَلَمَّا رَءَاهُ ﴿ "maka tatkala dia melihat singgasana itu," maksudnya, Sulaiman me-lihatnya, ﴾ مُسۡتَقِرًّا عِندَهُۥ ﴿ "terletak di hadapannya," maka dia memuji kepada Allah سبحانه وتعالى atas ketentuanNya, kerajaanNya dan kemudahan segala perkara baginya, dan ﴾ قَالَ هَٰذَا مِن فَضۡلِ رَبِّي لِيَبۡلُوَنِيٓ ءَأَشۡكُرُ أَمۡ أَكۡفُرُۖ ﴿ "dia pun berkata, 'Ini termasuk karunia Rabbku untuk mengujiku apakah aku ber-syukur atau mengingkari'." Maksudnya, untuk mengujiku dalam hal ini. Jadi, Sulaiman عليه السلام sama sekali tidak terpedaya dengan kera-jaan, kekuasaan dan kemampuannya, seperti kebiasaan para raja jahiliyah, bahkan dia mengetahui bahwa itu semua adalah ujian dari Rabbnya. Maka dari itu dia takut kalau tidak bisa mensyukuri nikmat ini.
Kemudian dia menjelaskan bahwa kesyukuran itu manfaat-nya sama sekali bukan untuk Allah, melainkan kembali kepada orang yang bersyukur itu sendiri, seraya berkata,﴾ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيّٞ كَرِيمٞ ﴿ "Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesung-guhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia," Mahakaya dari segala amalnya, Mahamulia lagi banyak kebaikan-nya, meliputi orang yang bersyukur dan yang mengingkari. Hanya saja mensyukuri nikmat-nikmatNya akan menambah nikmat itu sendiri, sedangkan mengingkarinya menyebabkan kemusnahannya.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di