Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
Al-Qasas : Ayat 13
"Tha Sin Mim. Ini adalah ayat-ayat Kitab (al-Qur`an) yang nyata (dari Allah). Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir'aun dengan benar untuk orang-orang yang ber-iman. Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Se-sungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang ter-tindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemim-pin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu. Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, 'Susuilah dia, dan apabila kamu kha-watir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan ja-nganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men-jadikannya (salah seorang) dari para rasul.' Maka dipungutlah dia oleh keluarga Fir'aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan berkatalah istri Fir'aun, '(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak,' sedang mereka tiada menyadari. Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesung-guhnya hampir saja dia menyatakan rahasia tentang Musa, se-andainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya dia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan, 'Ikutilah dia.' Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya, dan Kami mencegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa, 'Maukah aku tunjukkan kepadamu sebuah keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?' Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya dia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Dan setelah Musa cu-kup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka dia mendapati di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata, 'Ini adalah perbuatan setan, sesungguhnya setan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).' Musa berdoa, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.' Maka Allah mengam-puninya, sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Musa berkata, 'Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.' Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya), maka tiba-tiba orang yang me-minta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepa-danya. Musa berkata kepadanya, 'Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya).' Maka tatkala Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata, 'Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh se-orang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang meng-adakan perdamaian.' Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata, 'Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuh-mu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.' Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa, 'Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang lalim itu.' Dan tatkala dia menghadap ke jurusan negeri Madyan maka dia berdoa (lagi), 'Mudah-mudahan Tuhanku me-mimpinku ke jalan yang benar.' Dan tatkala dia sampai di sumber air negeri Madyan, maka dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan dia menjumpai di bela-kang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata, 'Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?' Kedua wanita itu menjawab, 'Kami tidak dapat memi-numkan (ternak kami), sehingga penggembala-penggembala itu me-mulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.' Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, 'Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memer-lukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.' Kemu-dian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, 'Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar dia memberi balasan terhadap (kebaikan)-mu memberi minum (ternak) kami.' Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya). Syu'aib berkata, 'Janganlah kamu takut. Kamu telah se-lamat dari orang-orang yang lalim itu.' Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, 'Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.' Berkatalah dia (Syu'aib), 'Sesungguh-nya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun, dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) darimu, maka aku tidak hendak membe-ratkanmu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.' Dia (Musa) berkata, 'Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentu-kan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan.' Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung dia berkata kepada keluarganya, 'Tunggulah (di sini), se-sungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat mem-bawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan.' Maka tat-kala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu, 'Ya Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam, dan lemparkanlah tongkatmu.' Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah ia seekor ular yang gesit, larilah dia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru), 'Hai Musa, datanglah kepadaKu dan ja-nganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman. Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkan-lah kedua tanganmu (ke dada)mu disebabkan ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Tuhanmu (yang akan kamu hadapkan kepada Fir'aun dan pembesar-pembesarnya). Se-sungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik.' Musa berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah membunuh seorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku. Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan men-dustakanku.' Allah berfirman, 'Kami akan membantumu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang.' Maka tatkala Musa da-tang kepada mereka dengan (membawa) mukjizat-mukjizat Kami yang nyata, mereka berkata, 'Ini tidak lain hanyalah sihir yang di-buat-buat dan kami belum pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada nenek moyang kami dahulu.' Musa menjawab, 'Tuhanku lebih mengetahui orang yang (patut) membawa petunjuk dari sisiNya dan siapa yang akan mendapat kesudahan (yang baik) di negeri akhirat. Sesungguhnya tidaklah akan mendapat kemenangan orang-orang yang lalim.' Dan Fir'aun berkata, 'Hai pembesar kaum-ku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.' Dan berlaku angkuhlah Fir'aun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Kami hukumlah Fir'aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang lalim. Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pe-mimpin yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada Hari Kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan Kami ikutkan laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada Hari Kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah). Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat. Dan tidaklah kamu (Muhammad) berada di sisi yang sebelah barat ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa, dan tiada pula kamu termasuk orang-orang yang menyaksikan. Tetapi Kami telah mengadakan beberapa generasi, dan berlalulah atas mereka masa yang panjang, dan tiadalah kamu tinggal bersama-sama penduduk Madyan dengan membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka, tetapi Kami telah mengutus rasul-rasul. Dan tiadalah kamu ber-ada di dekat gunung Thur ketika Kami menyeru (Musa), tetapi (Kami beritahukan itu kepadamu) sebagai rahmat dari Tuhanmu, supaya kamu memberi peringatan kepada kaum (Quraisy) yang sekali-kali belum datang kepada mereka pemberi peringatan sebe-lum kamu agar mereka ingat. Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerja-kan, 'Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayatMu dan jadilah kami termasuk orang-orang Mukmin.' Maka tatkala datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata, 'Mengapakah tidak diberikan kepadanya (Muhammad) seperti yang telah diberi-kan kepada Musa dahulu?' Dan bukankah mereka itu telah ingkar (juga) kepada apa yang diberikan kepada Musa dahulu? Mereka dahulu telah berkata, 'Musa dan Harun adalah dua ahli sihir yang bantu membantu.' Dan mereka (juga) berkata, 'Sesungguhnya kami tidak mempercayai masing-masing mereka itu.' Katakanlah, 'Kalian datangkanlah sebuah kitab dari sisi Allah yang kitab itu lebih (dapat) memberi petunjuk daripada keduanya (Taurat dan al-Qur`an) niscaya aku mengikutinya, jika kamu sungguh orang-orang yang benar.' Maka jika mereka tidak menjawab (tantang-anmu) maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti ke-inginan mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk orang-orang yang zhalim. Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut perkataan ini (al-Qur`an) kepada mereka agar mereka mendapat pelajaran." (Al-Qashash: 1-51).
Tafsir As-Sa'di
(13) Setelah saudara perempuannya itu mengatakan kepada mereka perkataan yang merangsang mereka agar mengasuhkannya kepada keluarga itu dengan jaminan akan dipelihara, diasuh dan diperlakukan baik, maka mereka segera memenuhi anjurannya. Lalu dia memberitahu kepada mereka dan menunjukkan di mana keluarga tersebut.
﴾ فَرَدَدۡنَٰهُ إِلَىٰٓ أُمِّهِۦ ﴿ "Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya," sebagaimana Kami telah menjanjikannya, ﴾ كَيۡ تَقَرَّ عَيۡنُهَا وَلَا تَحۡزَنَ ﴿ "su-paya senang hatinya dan tidak berduka cita," sehingga Musa terdidik di sisinya dengan sebaik mungkin yang mana sang ibu merasa aman, tenang dan bahagia dengannya serta mendapat upah yang sangat besar atas pengasuhan itu. ﴾ وَلِتَعۡلَمَ أَنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ ﴿ "Dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar." Maka Kami per-lihatkan kepadanya dengan mata kepalanya sendiri sebagian apa yang telah Kami janjikan kepadanya agar dengan cara seperti itu hatinya menjadi tentram dan imannya makin bertambah, dan agar dia mengetahui bahwasanya janji Allah akan terpenuhi dalam me-lindungi Musa dan mengutusnya sebagai Rasul.
﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Tetapi kebanyakan manusia tidak menge-tahuinya." Apabila mereka melihat sebab kausalitas dalam keadaan rancu, maka hal itu akan mengacaukan keyakinan mereka karena mereka tidak memiliki ilmu (pengetahuan) yang cukup bahwasa-nya Allah سبحانه وتعالى menjadikan berbagai ujian dan cobaan yang sangat berat di balik perkara-perkara yang mulia dan utama yang sudah ada di depan mata.
Musa عليه السلام pun terus berada di lingkungan keluarga Fir'aun dan diasuh di dalam kekuasaan mereka, dia bisa mengendarai berbagai jenis kendaraan dan mengenakan berbagai macam pakaian milik mereka, sedangkan ibunya dalam hal ini tetap merasa tentram. Dan oleh karena persepsi (umum) sudah melekat kuat bahwa ibu-nya itu adalah ibu dalam persusuan, maka tidak aneh kalau Musa sangat dekat kepadanya dan [sang ibu pun sangat menyayangi-nya].[42] Cobalah Anda renungkan sejenak kasih sayang dan perlin-dungan (Allah) kepada nabiNya, Musa dari perangai dusta dalam tutur katanya, dan kemudahan segala perkara yang dengannya rasa saling menyayangi antara dia dengan ibunya menjadi kental, yang (persepsinya) tampak bagi orang lain bahwa dia adalah per-susuan yang karenanya ia (sang ibu) disebut ibu, sehingga perka-taan yang banyak keluar darinya dan dari orang-orang lain dalam masalah ini semuanya adalah kejujuran dan kebenaran.
﴾ فَرَدَدۡنَٰهُ إِلَىٰٓ أُمِّهِۦ ﴿ "Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya," sebagaimana Kami telah menjanjikannya, ﴾ كَيۡ تَقَرَّ عَيۡنُهَا وَلَا تَحۡزَنَ ﴿ "su-paya senang hatinya dan tidak berduka cita," sehingga Musa terdidik di sisinya dengan sebaik mungkin yang mana sang ibu merasa aman, tenang dan bahagia dengannya serta mendapat upah yang sangat besar atas pengasuhan itu. ﴾ وَلِتَعۡلَمَ أَنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ ﴿ "Dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar." Maka Kami per-lihatkan kepadanya dengan mata kepalanya sendiri sebagian apa yang telah Kami janjikan kepadanya agar dengan cara seperti itu hatinya menjadi tentram dan imannya makin bertambah, dan agar dia mengetahui bahwasanya janji Allah akan terpenuhi dalam me-lindungi Musa dan mengutusnya sebagai Rasul.
﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Tetapi kebanyakan manusia tidak menge-tahuinya." Apabila mereka melihat sebab kausalitas dalam keadaan rancu, maka hal itu akan mengacaukan keyakinan mereka karena mereka tidak memiliki ilmu (pengetahuan) yang cukup bahwasa-nya Allah سبحانه وتعالى menjadikan berbagai ujian dan cobaan yang sangat berat di balik perkara-perkara yang mulia dan utama yang sudah ada di depan mata.
Musa عليه السلام pun terus berada di lingkungan keluarga Fir'aun dan diasuh di dalam kekuasaan mereka, dia bisa mengendarai berbagai jenis kendaraan dan mengenakan berbagai macam pakaian milik mereka, sedangkan ibunya dalam hal ini tetap merasa tentram. Dan oleh karena persepsi (umum) sudah melekat kuat bahwa ibu-nya itu adalah ibu dalam persusuan, maka tidak aneh kalau Musa sangat dekat kepadanya dan [sang ibu pun sangat menyayangi-nya].[42] Cobalah Anda renungkan sejenak kasih sayang dan perlin-dungan (Allah) kepada nabiNya, Musa dari perangai dusta dalam tutur katanya, dan kemudahan segala perkara yang dengannya rasa saling menyayangi antara dia dengan ibunya menjadi kental, yang (persepsinya) tampak bagi orang lain bahwa dia adalah per-susuan yang karenanya ia (sang ibu) disebut ibu, sehingga perka-taan yang banyak keluar darinya dan dari orang-orang lain dalam masalah ini semuanya adalah kejujuran dan kebenaran.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di