Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
Aal-Imran : Ayat 134
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkah-kan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun untuk dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa kecuali Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalam-nya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal." (Ali Imran: 130-136).
Tafsir As-Sa'di
(134) Kemudian Allah menjelaskan tentang sifat orang-orang yang bertakwa dan perbuatan-perbuatan mereka seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang menaf-kahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit," yaitu, pada saat kondisi mereka sedang sulit atau kondisi mereka sedang lapang. Bila mereka sedang lapang, maka mereka akan memper-banyak infak, dan bila mereka sedang kesulitan, maka mereka tidak menganggap remeh suatu kebaikan walaupun (hanya) sedikit (saja).
﴾ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ ﴿ "Dan orang-orang yang menahan amarahnya," yaitu, bila terjadi dari orang lain tindakan yang menyakitkan ter-hadapnya yang menimbulkan kemarahan yaitu hati yang penuh dengan kedongkolan yang akan menimbulkan balas dendam de-ngan perkataan maupun perbuatan. Mereka itu tidaklah bertindak menurut tabiat kemanusiaannya, akan tetapi mereka menahan apa yang ada dalam hati mereka disebabkan kemarahan, dan mengha-dapi orang yang berbuat jelek kepadanya itu dengan kesabaran.
﴾ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ ﴿ "Dan memaafkan (kesalahan) orang." Termasuk dalam tindakan memaafkan orang adalah memaafkan segala hal yang terjadi dari orang yang telah berbuat jelek kepada kita dengan perkataan maupun perbuatan. Memaafkan itu sangat lebih baik daripada (hanya) sekedar menahan amarah, karena memaafkan itu adalah tindakan meninggalkan balas dendam disertai dengan bentuk kelapangan dada terhadap orang yang berbuat jelek. Itu hanya dapat terjadi dari orang-orang yang menghiasi dirinya dengan akhlak yang terpuji dan jauh dari akhlak yang tercela, dan dari orang-orang yang bertransaksi dengan Allah dan memaafkan hamba-hamba Allah sebagai suatu kasih sayang terhadap mereka dan tindakan kebajikan kepada mereka, benci dari keburukan yang menimpa mereka agar Allah mengampuni dirinya sehingga dia mendapatkan pahala di sisi Allah yang Mahamulia, dan bukan dari hamba yang miskin, sebagaimana Allah تعالى berfirman,
﴾ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿
"Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah." (Asy-Syura: 40).
Kemudian Allah menyebutkan kondisi yang lebih umum daripada yang lainnya dan lebih baik, lebih tinggi dan lebih utama, yaitu berbuat kebajikan (al-Ihsan), Allah berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." Kebajikan itu ada dua macam: Berbuat baik pada perkara ibadah kepada Sang Pencipta dan berbuat baik kepada para makhluk.
Dan Ihsan dalam perkara ibadah kepada Sang Pencipta telah ditafsirkan oleh Nabi ﷺ dengan sabdanya,
أَنْ تَعْبُدَ اللّٰهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.
"Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya, dan bila engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."[9]
Adapun berbuat baik kepada para makhluk yaitu memberi-kan manfaat yang bersifat agama maupun duniawi kepada mereka dan menghindarkan mereka dari kemudaratan yang bersifat agama maupun duniawi, sehingga termasuk dalam kategori itu adalah memerintahkan mereka kepada yang ma'ruf dan melarang mereka dari yang mungkar, mengajarkan orang yang bodoh di antara mereka, menasihati masyarakat umum maupun khusus, berusaha dalam menyatukan kalimat mereka, menyalurkan segala macam sedekah, infak yang wajib maupun yang sunnah kepada mereka dengan berbagai perbedaan kondisi dan karakter mereka. Terma-suk juga dalam hal itu adalah mengerahkan kedermawanan hati, menolak keburukan dan bersabar atas gangguan, sebagaimana Allah menjelaskan tentang sifat orang-orang yang bertakwa dalam ayat ini.
﴾ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ ﴿ "Dan orang-orang yang menahan amarahnya," yaitu, bila terjadi dari orang lain tindakan yang menyakitkan ter-hadapnya yang menimbulkan kemarahan yaitu hati yang penuh dengan kedongkolan yang akan menimbulkan balas dendam de-ngan perkataan maupun perbuatan. Mereka itu tidaklah bertindak menurut tabiat kemanusiaannya, akan tetapi mereka menahan apa yang ada dalam hati mereka disebabkan kemarahan, dan mengha-dapi orang yang berbuat jelek kepadanya itu dengan kesabaran.
﴾ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ ﴿ "Dan memaafkan (kesalahan) orang." Termasuk dalam tindakan memaafkan orang adalah memaafkan segala hal yang terjadi dari orang yang telah berbuat jelek kepada kita dengan perkataan maupun perbuatan. Memaafkan itu sangat lebih baik daripada (hanya) sekedar menahan amarah, karena memaafkan itu adalah tindakan meninggalkan balas dendam disertai dengan bentuk kelapangan dada terhadap orang yang berbuat jelek. Itu hanya dapat terjadi dari orang-orang yang menghiasi dirinya dengan akhlak yang terpuji dan jauh dari akhlak yang tercela, dan dari orang-orang yang bertransaksi dengan Allah dan memaafkan hamba-hamba Allah sebagai suatu kasih sayang terhadap mereka dan tindakan kebajikan kepada mereka, benci dari keburukan yang menimpa mereka agar Allah mengampuni dirinya sehingga dia mendapatkan pahala di sisi Allah yang Mahamulia, dan bukan dari hamba yang miskin, sebagaimana Allah تعالى berfirman,
﴾ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿
"Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah." (Asy-Syura: 40).
Kemudian Allah menyebutkan kondisi yang lebih umum daripada yang lainnya dan lebih baik, lebih tinggi dan lebih utama, yaitu berbuat kebajikan (al-Ihsan), Allah berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ﴿ "Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." Kebajikan itu ada dua macam: Berbuat baik pada perkara ibadah kepada Sang Pencipta dan berbuat baik kepada para makhluk.
Dan Ihsan dalam perkara ibadah kepada Sang Pencipta telah ditafsirkan oleh Nabi ﷺ dengan sabdanya,
أَنْ تَعْبُدَ اللّٰهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.
"Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya, dan bila engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."[9]
Adapun berbuat baik kepada para makhluk yaitu memberi-kan manfaat yang bersifat agama maupun duniawi kepada mereka dan menghindarkan mereka dari kemudaratan yang bersifat agama maupun duniawi, sehingga termasuk dalam kategori itu adalah memerintahkan mereka kepada yang ma'ruf dan melarang mereka dari yang mungkar, mengajarkan orang yang bodoh di antara mereka, menasihati masyarakat umum maupun khusus, berusaha dalam menyatukan kalimat mereka, menyalurkan segala macam sedekah, infak yang wajib maupun yang sunnah kepada mereka dengan berbagai perbedaan kondisi dan karakter mereka. Terma-suk juga dalam hal itu adalah mengerahkan kedermawanan hati, menolak keburukan dan bersabar atas gangguan, sebagaimana Allah menjelaskan tentang sifat orang-orang yang bertakwa dalam ayat ini.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di