Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di

Ar-Rum : Ayat 32

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertaubat kepadaNya, dan bertakwalah kepadaNya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka, dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." (Ar-Rum: 30-32).
Tafsir As-Sa'di
(32) Kemudian Allah menjelaskan kondisi orang-orang musyrikin dengan nada mencela dan memburuk-burukkannya, seraya berfirman, ﴾ مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ ﴿ "Yaitu orang-orang yang me-mecah belah agama mereka," padahal agama itu hanya satu, yaitu ketulusan ibadah hanya kepada Allah saja; sedangkan mereka, kaum musyrikin memecah belahnya. Di antara mereka ada yang menyembah patung dan berhala, dan ada pula yang menyembah matahari dan bulan, dan ada juga di antara mereka yang menyem-bah para wali dan orang-orang shalih, dan di antara mereka adalah orang-orang Yahudi, dan ada pula orang-orang Nasrani. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَكَانُواْ شِيَعٗاۖ ﴿ "Dan mereka menjadi beberapa golongan," maksudnya, setiap kelompok dari kelompok-kelompok kesyirikan itu tersesat dan fanatik untuk membela kebatilan yang mereka anut, menentang dan memerangi selain mereka,﴾ كُلُّ حِزۡبِۭ بِمَا لَدَيۡهِمۡ ﴿ "Tiap-tiap golongan, dengan apa yang ada pada mereka," berupa ilmu yang menyalahi ilmu para rasul, ﴾ فَرِحُونَ ﴿ "mereka bangga," de-ngannya, mereka mengklaim bahwa apa yang mereka anut itulah yang haq (benar), dan bahwa orang-orang selain mereka berada di atas kebatilan.
Dalam uraian di atas terdapat peringatan untuk kaum Mus-limin agar tidak tercerai berai dan terpecah-belah menjadi bergo-long-golongan seperti mereka; setiap golongan fanatik dengan ke-benaran dan kebatilan yang mereka miliki. Kalau demikian maka mereka (kaum Muslimin) menjadi serupa dengan kaum musyrikin dalam berpecah belah. Sesungguhnya agama itu satu, rasul pun satu, sembahan (ilah) juga satu, dan kebanyakan permasalahan agama telah menjadi ijma' di antara para ahli ijtihad dan para pe-muka agama, sedangkan ukhuwwah imaniyah telah diikat kuat oleh Allah سبحانه وتعالى dengan sekuat-kuat ikatan, lalu bagaimana bisa semua itu dibatalkan, kemudian dibangun perpecahan dan pertikaian di antara kaum Muslimin dikarenakan beberapa permasalahan yang rumit atau masalah furu' khilafiyah yang karenanya sebagian mem-vonis sesat sebagian yang lain, dan sebagian membedakan diri dengannya dari kelompok lain? Tidakkah semua ini merupakan adu domba terbesar setan dan angan-angannya yang paling besar yang dengannya ia memperdaya kaum Muslimin? Tidakkah meng-upayakan persatuan kalimat (kesatuan) mereka dan memberantas pertikaian yang ada pada mereka, (pertikaian) yang dibangun di atas prinsip yang palsu itu merupakan jihad yang paling utama fi sabilillah dan merupakan amal yang paling afdhal yang dapat men-dekatkan diri kepada Allah?
Setelah Allah memerintahkan berinabah kepadaNya, sedang-kan yang diperintahkan darinya adalah inabah yang bersifat suka-rela, yaitu yang terjadi dalam kondisi sulit dan mudah, kondisi lapang dan sempit, maka Dia menjelaskan inabah yang bersifat ter-paksa, yaitu yang tidak akan ada bersama manusia kecuali pada saat kesempitan dan kesulitan. Lalu, apabila kesempitan itu sudah tidak ada padanya, maka dia membuang inabah itu ke belakang punggungnya. Dan hal seperti ini tidak berguna. Allah berfirman,
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di