Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
Az-Zumar : Ayat 66
"Katakanlah, 'Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang jahil (bodoh)?' Dan sesungguh-nya telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum-mu: Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur." (Az-Zumar: 64-66).
Tafsir As-Sa'di
(66) Kemudian Dia berfirman, ﴾ بَلِ ٱللَّهَ فَٱعۡبُدۡ ﴿ "Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah." Setelah Allah memberitahu bahwa orang-orang yang jahil (bodoh) itu memerintah beliau untuk melakukan syirik dan Allah mengabarkan kekejian syirik, maka Dia memerintahnya untuk ikhlas (bertauhid), seraya berfirman, ﴾ بَلِ ٱللَّهَ فَٱعۡبُدۡ ﴿ "Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah." Maksudnya, murnikanlah ibadah hanya kepadaNya saja, tiada se-kutu bagiNya, ﴾ وَكُن مِّنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ﴿ "dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur" kepada Allah atas taufikNya.
Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى disyukuri atas segala nikmat duniawi, seperti kesehatan tubuh dan keselamatannya, perolehan rizki dan lain-lainnya, maka demikian pula Dia disyukuri dan dipuji atas nikmat-nikmat AgamaNya seperti taufik (bimbingan) kepada keikhlasan dan takwa. Bahkan nikmat agama adalah nikmat yang sesungguhnya dan bila direnungkan, maka ia sesungguhnya ber-asal dari Allah سبحانه وتعالى. Bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat ter-sebut merupakan penyelamatan (diri) dari sifat ujub (bangga diri) yang sering menghampiri (hati) orang-orang yang beramal disebab-kan kebodohan mereka. Kalau tidak, sekiranya saja sang hamba mengetahui keadaan yang sebenarnya, tentu ia tidak akan ber-bangga diri oleh nikmat yang sebenarnya harus lebih disyukuri.
Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى disyukuri atas segala nikmat duniawi, seperti kesehatan tubuh dan keselamatannya, perolehan rizki dan lain-lainnya, maka demikian pula Dia disyukuri dan dipuji atas nikmat-nikmat AgamaNya seperti taufik (bimbingan) kepada keikhlasan dan takwa. Bahkan nikmat agama adalah nikmat yang sesungguhnya dan bila direnungkan, maka ia sesungguhnya ber-asal dari Allah سبحانه وتعالى. Bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat ter-sebut merupakan penyelamatan (diri) dari sifat ujub (bangga diri) yang sering menghampiri (hati) orang-orang yang beramal disebab-kan kebodohan mereka. Kalau tidak, sekiranya saja sang hamba mengetahui keadaan yang sebenarnya, tentu ia tidak akan ber-bangga diri oleh nikmat yang sebenarnya harus lebih disyukuri.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di