Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
An-Nisaa' : Ayat 1
Tafsir As-Sa'di
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah mem-perkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu." (An-Nisa`: 1).
(1) Allah سبحانه وتعالى memulai surat ini dengan perintah untuk ber-takwa kepadaNya dan anjuran untuk beribadah kepadaNya, perintah untuk menyambung silaturahim dan anjuran untuk hal itu. Allah juga menjelaskan tentang sebab-sebab yang mendorong harusnya melakukan setiap dari hal tersebut, dan bahwa hal yang mengharuskan untuk bertakwa kepadaNya adalah karena Allah itu Rabb kalian, ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَكُم ﴿ "yang telah menciptakan kalian," memberi rizki kepada kalian, memelihara kalian dengan nikmat-nikmatNya yang besar, dan di antaranya adalah penciptaan diri kalian itu, ﴾ مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ ﴿ "dari diri yang satu," dan menjadikan ﴾ مِنۡهَا زَوۡجَهَا ﴿ "dari padanya istrinya," agar sesuai dengannya, lalu ia merasa tenang kepadanya, dan dengan hal itu lengkaplah nikmat dan terwujudlah kebaha-giaan.
Demikian juga, di antara pendorong yang mengharuskan dan menuntut untuk bertakwa kepadaNya adalah (bahwa) kalian saling meminta dengan (menyebut) NamaNya dan pengagungan kalian atasNya, hingga bila kalian ingin mendapatkan hajat dan kebutuhan kalian, maka kalian bertawassul dengannya, di mana Anda meminta dengan "demi Allah." Karena itu, barangsiapa yang menghendaki hal itu kepada orang lain, ia berkata, "Saya memo-hon kepadamu dengan Nama Allah untuk melakukan pekerjaan..."; karena dia mengetahui apa yang ada dalam hatinya berupa peng-agungan kepada Allah, yang mendorong agar orang yang diminta-nya dengan "Nama Allah" itu tidak menolak. Maka sebagaimana kalian mengagungkanNya dengan hal itu, agungkanlah juga Allah dengan beribadah dan bertakwa kepadaNya.
Demikian juga kabar bahwa Allah Maha Mengawasi, artinya, Allah melihat hamba-hambaNya pada saat mereka diam maupun bergerak, yang dirahasiakan maupun yang ditampakkan, dan Allah mengawasi seluruh kondisi mereka, yang mengharuskan adanya rasa pengawasan Allah dan malu yang mendalam terha-dapNya dengan cara konsisten dalam takwa kepadaNya, dan pada pemberitaan bahwa Allah menciptakan mereka dari diri yang satu dan bahwa Allah mengembang biakkan mereka di seluruh bagian bumi, padahal mereka berasal dari jiwa yang satu, adalah agar se-bagian mereka mengasihi sebagian yang lain dan sebagian mereka berlaku lemah lembut kepada sebagian lainnya.
Allah menyandingkan antara takwa kepadaNya dengan perintah untuk berbuat baik kepada keluarga dan melarang dari memutuskan hubungan silaturahim agar menegaskan akan kebe-naran hal tersebut, dan bahwa sebagaimana wajibnya menunaikan hak-hak Allah, maka wajib pula untuk menegakkan hak-hak makh-lukNya, khususnya yang termasuk kerabat keluarga di antara mereka, bahkan menunaikan hak-hak mereka adalah di antara hak-hak Allah yang telah diperintahkan olehNya.
Perhatikanlah bagaimana Allah memulai surat ini dengan perintah secara umum untuk bertakwa, menyambung silaturahim, dan interaksi antara suami dan istri, kemudian setelah itu Allah merinci perkara-perkara tersebut dengan perincian yang sempurna dari awal surat hingga akhirnya, di mana seolah-olah penjelasan surat ini didasari oleh perkara-perkara tersebut, merinci hal-hal yang disebut yaitu secara umum darinya dan menjelaskan hal-hal yang samar.
Dalam Firman Allah, ﴾ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا ﴿ "Dan dari padanya Allah menciptakan istrinya," terdapat sebuah peringatan untuk senantiasa menjaga (memperhatikan) hak-hak para suami dan para istri dan pemenuhannya, karena para istri itu tercipta dari para suami, se-hingga antara para suami dan para istri terdapat hubungan nasab yang paling dekat, hubungan yang paling kuat, dan ikatan yang paling kokoh.
(1) Allah سبحانه وتعالى memulai surat ini dengan perintah untuk ber-takwa kepadaNya dan anjuran untuk beribadah kepadaNya, perintah untuk menyambung silaturahim dan anjuran untuk hal itu. Allah juga menjelaskan tentang sebab-sebab yang mendorong harusnya melakukan setiap dari hal tersebut, dan bahwa hal yang mengharuskan untuk bertakwa kepadaNya adalah karena Allah itu Rabb kalian, ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَكُم ﴿ "yang telah menciptakan kalian," memberi rizki kepada kalian, memelihara kalian dengan nikmat-nikmatNya yang besar, dan di antaranya adalah penciptaan diri kalian itu, ﴾ مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ ﴿ "dari diri yang satu," dan menjadikan ﴾ مِنۡهَا زَوۡجَهَا ﴿ "dari padanya istrinya," agar sesuai dengannya, lalu ia merasa tenang kepadanya, dan dengan hal itu lengkaplah nikmat dan terwujudlah kebaha-giaan.
Demikian juga, di antara pendorong yang mengharuskan dan menuntut untuk bertakwa kepadaNya adalah (bahwa) kalian saling meminta dengan (menyebut) NamaNya dan pengagungan kalian atasNya, hingga bila kalian ingin mendapatkan hajat dan kebutuhan kalian, maka kalian bertawassul dengannya, di mana Anda meminta dengan "demi Allah." Karena itu, barangsiapa yang menghendaki hal itu kepada orang lain, ia berkata, "Saya memo-hon kepadamu dengan Nama Allah untuk melakukan pekerjaan..."; karena dia mengetahui apa yang ada dalam hatinya berupa peng-agungan kepada Allah, yang mendorong agar orang yang diminta-nya dengan "Nama Allah" itu tidak menolak. Maka sebagaimana kalian mengagungkanNya dengan hal itu, agungkanlah juga Allah dengan beribadah dan bertakwa kepadaNya.
Demikian juga kabar bahwa Allah Maha Mengawasi, artinya, Allah melihat hamba-hambaNya pada saat mereka diam maupun bergerak, yang dirahasiakan maupun yang ditampakkan, dan Allah mengawasi seluruh kondisi mereka, yang mengharuskan adanya rasa pengawasan Allah dan malu yang mendalam terha-dapNya dengan cara konsisten dalam takwa kepadaNya, dan pada pemberitaan bahwa Allah menciptakan mereka dari diri yang satu dan bahwa Allah mengembang biakkan mereka di seluruh bagian bumi, padahal mereka berasal dari jiwa yang satu, adalah agar se-bagian mereka mengasihi sebagian yang lain dan sebagian mereka berlaku lemah lembut kepada sebagian lainnya.
Allah menyandingkan antara takwa kepadaNya dengan perintah untuk berbuat baik kepada keluarga dan melarang dari memutuskan hubungan silaturahim agar menegaskan akan kebe-naran hal tersebut, dan bahwa sebagaimana wajibnya menunaikan hak-hak Allah, maka wajib pula untuk menegakkan hak-hak makh-lukNya, khususnya yang termasuk kerabat keluarga di antara mereka, bahkan menunaikan hak-hak mereka adalah di antara hak-hak Allah yang telah diperintahkan olehNya.
Perhatikanlah bagaimana Allah memulai surat ini dengan perintah secara umum untuk bertakwa, menyambung silaturahim, dan interaksi antara suami dan istri, kemudian setelah itu Allah merinci perkara-perkara tersebut dengan perincian yang sempurna dari awal surat hingga akhirnya, di mana seolah-olah penjelasan surat ini didasari oleh perkara-perkara tersebut, merinci hal-hal yang disebut yaitu secara umum darinya dan menjelaskan hal-hal yang samar.
Dalam Firman Allah, ﴾ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا ﴿ "Dan dari padanya Allah menciptakan istrinya," terdapat sebuah peringatan untuk senantiasa menjaga (memperhatikan) hak-hak para suami dan para istri dan pemenuhannya, karena para istri itu tercipta dari para suami, se-hingga antara para suami dan para istri terdapat hubungan nasab yang paling dekat, hubungan yang paling kuat, dan ikatan yang paling kokoh.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di