Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
An-Nisaa' : Ayat 113
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) orang-orang yang khianat, dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak me-nyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa. Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembu-nyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan Allah Maha Meliputi (ilmuNya) terhadap apa yang mereka kerjakan. Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (mem-bela) mereka pada Hari Kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)? Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudaratan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemu-dian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata. Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmatNya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melain-kan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikit pun. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan karunia Allah sangat besar kepadamu." (An-Nisa`: 105-113).
Tafsir As-Sa'di
(113) Kemudian Allah menyebutkan karuniaNya atas RasulNya dengan menjaga dan melindunginya dari orang yang hendak menyesatkannya dengan berfirman,﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكَ وَرَحۡمَتُهُۥ لَهَمَّت طَّآئِفَةٞ مِّنۡهُمۡ أَن يُضِلُّوكَ ﴿ "Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmatNya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu," yang demikian itu adalah bahwa ayat-ayat yang mulia ini telah disebutkan oleh para ahli tafsir[39] tentang sebab turunnya, yaitu bahwa sebuah keluarga telah mencuri di Madinah, dan ketika pencurian mereka hendak diperiksa, mereka khawatir aib dan cela mereka terbongkar lalu mereka mengambil barang curian itu dan meletakkannya di rumah orang yang tidak bersalah, lalu pelaku pencurian itu meminta bantuan kepada kaum-nya untuk datang kepada Rasulullah ﷺ dan memohon kepada beliau agar membebaskan tuduhan percurian dari teman mereka tersebut di tengah-tengah masyarakat, dan mereka berkata, bahwa ia tidaklah mencuri, namun yang mencuri itu adalah orang yang didapatkan pada rumahnya barang curian, padahal dia tidak melakukannya, lalu Rasulullah ﷺ hendak membebaskan tuduhan dari teman mereka itu, namun Allah segera menurunkan ayat-ayat ini kepada beliau sebagai peringatan dan penjelasan akan kejadian tersebut serta ancaman buat Rasulullah ﷺ karena membela orang-orang yang berkhianat, dan berseteru demi membela orang yang salah merupakan kesesatan, karena sesungguhnya kesesatan itu ada dua macam: kesesatan dalam pengetahuan yaitu tidak menge-tahui kebenaran, dan kesesatan dalam perbuatan yaitu melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan, karena itu Allah telah memelihara RasulNya dari bentuk yang pertama sebagaimana Allah juga menjaga beliau dari kesesatan dalam perbuatan.
Lalu Allah mengabarkan bahwa tipu daya dan makar mereka akan kembali kepada diri mereka sendiri seperti halnya setiap pe-laku tipu daya, yaitu FirmanNya, ﴾ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡۖ ﴿ "Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri," karena tipu daya dan siasat mereka itu tidaklah mampu memenuhi apa yang mereka inginkan dan tidak memberikan mereka kecuali hanya kegagalan, kefakiran, dosa, dan kerugian. Hal ini adalah sebuah nikmat yang besar atas Rasulullah ﷺ, yang meliputi nikmat dengan perbuatan yaitu bimbingan untuk melakukan apa yang harus dilakukan dan perlindungan dari hal-hal yang diharamkan, kemudian Allah me-nyebutkan nikmatNya kepadanya dengan ilmu seraya berfirman, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu" yaitu Allah menurunkan kepadamu al-Qur`an yang agung dan penuh hikmah yang mengandung penje-lasan akan segala sesuatu dan pengetahuan tentang orang dahulu maupun yang akan datang.
Adapun hikmah yang berarti sunnah adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh para ulama salaf, "Sesungguhnya sunnah itu diturunkan juga kepadanya sebagaimana al-Qur`an diturunkan," atau pengetahuan akan rahasia-rahasia syariat di luar dari penge-tahuan hukum-hukumnya, menempatkan sesuatu pada tempatnya dan mengatur segala perkara menurut yang semestinya, ﴾ وَعَلَّمَكَ مَا لَمۡ تَكُن تَعۡلَمُۚ ﴿ "dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui," hal ini mencakup segala hal yang diajarkan oleh Allah kepada beliau, dan sesungguhnya Nabi ﷺ sebagaimana yang Allah gambarkan tentang beliau, sebelum kerasulan beliau,
﴾ مَا كُنتَ تَدۡرِي مَا ٱلۡكِتَٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ ﴿
"Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Qur`an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu." (Asy-Syura': 52).
Dan FirmanNya,
﴾ وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ 7 ﴿
"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." (Adh-Dhuha: 7),
kemudian Allah tetap selalu memberikan wahyu kepadanya, me-ngajarkannya dan menyempurnakannya hingga beliau meningkat kepada kedudukan yang tinggi berupa ilmu yang tidak akan mampu dicapai oleh orang-orang terdahulu maupun yang akan datang, maka beliau adalah manusia yang paling berilmu secara mutlak, manusia yang paling banyak sifat-sifat kesempurnaannya dan paling sempurna dalam hal tersebut, karena itulah Allah ber-firman, ﴾ وَكَانَ فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكَ عَظِيمٗا ﴿ "Dan karunia Allah sangat besar atas-mu," karunia Allah terhadap Rasulullah Muhammad ﷺ adalah lebih agung daripada karuniaNya terhadap setiap makhluk (selainnya), bentuk karunia yang diberikan Allah kepadanya tidaklah mungkin dapat diteliti dan tidak mudah untuk dihitung.
Lalu Allah mengabarkan bahwa tipu daya dan makar mereka akan kembali kepada diri mereka sendiri seperti halnya setiap pe-laku tipu daya, yaitu FirmanNya, ﴾ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡۖ ﴿ "Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri," karena tipu daya dan siasat mereka itu tidaklah mampu memenuhi apa yang mereka inginkan dan tidak memberikan mereka kecuali hanya kegagalan, kefakiran, dosa, dan kerugian. Hal ini adalah sebuah nikmat yang besar atas Rasulullah ﷺ, yang meliputi nikmat dengan perbuatan yaitu bimbingan untuk melakukan apa yang harus dilakukan dan perlindungan dari hal-hal yang diharamkan, kemudian Allah me-nyebutkan nikmatNya kepadanya dengan ilmu seraya berfirman, ﴾ وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu" yaitu Allah menurunkan kepadamu al-Qur`an yang agung dan penuh hikmah yang mengandung penje-lasan akan segala sesuatu dan pengetahuan tentang orang dahulu maupun yang akan datang.
Adapun hikmah yang berarti sunnah adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh para ulama salaf, "Sesungguhnya sunnah itu diturunkan juga kepadanya sebagaimana al-Qur`an diturunkan," atau pengetahuan akan rahasia-rahasia syariat di luar dari penge-tahuan hukum-hukumnya, menempatkan sesuatu pada tempatnya dan mengatur segala perkara menurut yang semestinya, ﴾ وَعَلَّمَكَ مَا لَمۡ تَكُن تَعۡلَمُۚ ﴿ "dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui," hal ini mencakup segala hal yang diajarkan oleh Allah kepada beliau, dan sesungguhnya Nabi ﷺ sebagaimana yang Allah gambarkan tentang beliau, sebelum kerasulan beliau,
﴾ مَا كُنتَ تَدۡرِي مَا ٱلۡكِتَٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ ﴿
"Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Qur`an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu." (Asy-Syura': 52).
Dan FirmanNya,
﴾ وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ 7 ﴿
"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." (Adh-Dhuha: 7),
kemudian Allah tetap selalu memberikan wahyu kepadanya, me-ngajarkannya dan menyempurnakannya hingga beliau meningkat kepada kedudukan yang tinggi berupa ilmu yang tidak akan mampu dicapai oleh orang-orang terdahulu maupun yang akan datang, maka beliau adalah manusia yang paling berilmu secara mutlak, manusia yang paling banyak sifat-sifat kesempurnaannya dan paling sempurna dalam hal tersebut, karena itulah Allah ber-firman, ﴾ وَكَانَ فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكَ عَظِيمٗا ﴿ "Dan karunia Allah sangat besar atas-mu," karunia Allah terhadap Rasulullah Muhammad ﷺ adalah lebih agung daripada karuniaNya terhadap setiap makhluk (selainnya), bentuk karunia yang diberikan Allah kepadanya tidaklah mungkin dapat diteliti dan tidak mudah untuk dihitung.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di