Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
Ghafir : Ayat 25
"Dan sungguh telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir'aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata, '(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.' Maka tatkala Musa datang kepada mereka mem-bawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka). Dan Fir'aun berkata (kepada pem-besar-pembesarnya), 'Biarkanlah aku membunuh Musa dan hen-daklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan keru-sakan di muka bumi.' Dan Musa berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.' Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata, 'Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, 'Tu-hanku ialah Allah', padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.' Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Musa berkata), 'Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan me-nolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita?' Fir'aun berkata, 'Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.' Dan orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki ber-buat kelaliman terhadap hamba-hambaNya. Hai kaumku, sesung-guhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-me-manggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk. Dan sesungguh-nya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang (rasul pun) sesudah-nya.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melam-paui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. Dan berkatalah Fir'aun, 'Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi, su-paya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku meman-dangnya seorang pendusta.' Demikianlah, dijadikan Fir'aun me-mandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu melainkan membawa kerugian. Orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kese-nangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan ba-rangsiapa mengerjakan amal yang shalih, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab. Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada kesela-matan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Kenapa) kamu me-nyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru kamu (ber-iman) kepada Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun? Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepada-nya tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.' Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), 'Ma-sukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras'." (Ghafir: 23-46).
Tafsir As-Sa'di
(25) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلۡحَقِّ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami," dan ia pun diperkuat oleh Allah dengan beberapa mukjizat yang sangat hebat yang memaksa mereka harus benar-benar tunduk, namun mereka tidak menerima-nya, bahkan mereka tidak cukup hanya dengan sikap mengabaikan dan berpaling, dan bahkan tidak sekedar mengingkari dan menen-tangnya dengan kebatilan mereka, justru sampai pada tindakan yang sangat keji sekali, di m a n a ﴾ قَالُواْ ٱقۡتُلُوٓاْ أَبۡنَآءَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ وَٱسۡتَحۡيُواْ نِسَآءَهُمۡۚ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain" di mana mereka telah merencanakan tipudaya ini dan mereka beranggapan bahwa apabila mereka membunuh anak-anak lelaki para pengikut Musa itu, maka mereka tidak akan pernah menjadi kuat dan mereka akan tetap dalam perbudakan dan di bawah kendali mereka. Maka tipu daya mereka itu tidak lain ﴾ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "hanyalah sia-sia," karena apa yang mereka inginkan tidak terjadi. Malah mereka ditimpa oleh kebalikan apa yang mereka rencanakan itu, di mana Allah membinasakan dan memusnahkan mereka secara total.
Di sini Ada Satu Kaidah Penting: Renungkanlah satu poin yang banyak disebutkan di dalam Kitabullah ini, yaitu apabila konteksnya adalah tentang satu kisah tertentu atau atas suatu permasalahan tertentu, sedangkan yang Allah سبحانه وتعالى inginkan adalah memberikan keputusan terhadapnya dengan suatu hukum (kepu-tusan) yang tidak hanya khusus dengannya, maka Allah menyebut-kan hukuman tersebut dan menetapkannya dengan ungkapan yang bersifat umum agar bermakna lebih luas, termasuk di dalamnya bentuk (putusan) yang karenanya kalimat tersebut dipaparkan, dan supaya asumsi bahwa hukum tersebut khusus untuk sesuatu yang khusus tersebut menjadi tidak ada. Maka dari itu Dia tidak mengatakan, وَمَا كَيْدُهُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ (dan tipu daya mereka tidak lain melainkan sia-sia belaka), melainkan Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain melainkan sia-sia belaka."
Di sini Ada Satu Kaidah Penting: Renungkanlah satu poin yang banyak disebutkan di dalam Kitabullah ini, yaitu apabila konteksnya adalah tentang satu kisah tertentu atau atas suatu permasalahan tertentu, sedangkan yang Allah سبحانه وتعالى inginkan adalah memberikan keputusan terhadapnya dengan suatu hukum (kepu-tusan) yang tidak hanya khusus dengannya, maka Allah menyebut-kan hukuman tersebut dan menetapkannya dengan ungkapan yang bersifat umum agar bermakna lebih luas, termasuk di dalamnya bentuk (putusan) yang karenanya kalimat tersebut dipaparkan, dan supaya asumsi bahwa hukum tersebut khusus untuk sesuatu yang khusus tersebut menjadi tidak ada. Maka dari itu Dia tidak mengatakan, وَمَا كَيْدُهُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ (dan tipu daya mereka tidak lain melainkan sia-sia belaka), melainkan Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain melainkan sia-sia belaka."
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di