Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
Ghafir : Ayat 9
"Yang memikul 'Arasy dan malaikat yang berada di sekeli-lingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman, 'Ya Rabb kami, rahmat dan ilmuMu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan meng-ikuti jalanMu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga 'Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang shalih di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dan peliharalah mereka dari keburukan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari keburukan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar'." (Ghafir: 7-9).
Tafsir As-Sa'di
(9) ﴾ وَقِهِمُ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ﴿ "Dan peliharalah mereka dari keburukan," yakni, dari amal perbuatan jahat dan balasannya, sebab ia akan mendatangkan keburukan bagi pelakunya.
﴾ وَمَن تَقِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ يَوۡمَئِذٖ ﴿ "Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari keburukan pada hari itu," maksudnya, pada Hari Kiamat, ﴾ فَقَدۡ رَحِمۡتَهُۥۚ ﴿ "maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya," sebab rahmatMu terus tercurah kepada manusia, tidak ada yang bisa menghalanginya kecuali dosa mereka dan amal perbuatan buruk mereka. Maka siapa saja yang Engkau pelihara dari kebu-rukan dan Engkau bimbing ia untuk beramal kebajikan dan mem-peroleh pahalanya yang sangat besar, ﴾ وَذَٰلِكَ ﴿ "dan itulah," yakni, hilangnya hal-hal yang membahayakan karena dipelihara dari keburukan-keburukan dan karena tercapainya hal-hal yang disukai dengan tercapainya rahmat itu, ﴾ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "adalah kemenangan yang besar" yang tidak ada kemenangan yang sebanding dengan-nya dan tidak ada pula yang diperlombakan oleh manusia yang lebih baik darinya.
Doa para malaikat di atas mengandung dalil sempurnanya pengetahuan mereka tentang Tuhannya, juga (disyariatkannya) bertawasul kepada Allah dengan nama-namaNya yang indah yang Dia suka kalau hamba-hambaNya bertawasul kepadaNya dengan nama-nama tersebut dan memohon dengan apa-apa yang sangat pantas untuk dijadikan doa kepadaNya. Oleh karena doa mereka demi tercapainya rahmat dan dihapusnya segala bekas dosa yang telah dikerjakan oleh jiwa manusia yang telah diketahui oleh Allah kelemahan dan akibatnya karena kemaksiatan-kemaksiatan yang telah dilakukannya, dan prinsip-prinsip serta sebab-sebab lainnya yang semua itu telah diketahui Allah, maka para malaikat bertawa-sul dengan اَلرَّحِيْمُ dan اَلْعَلِيْمُ (Yang Maha Pengasih lagi Maha Menge-tahui).
(Doa di atas juga) mengandung makna kesempurnaan etika (adab) mereka terhadap Allah سبحانه وتعالى, di mana mereka mengikrarkan rububiyahNya terhadap mereka dengan rububiyah yang umum dan yang khusus, dan ikrar mereka bahwa mereka sama sekali tidak memiliki wewenang sedikitpun. Doa yang mereka lakukan kepada Allah itu benar-benar hanya berasal dari hamba yang faqir (butuh) dari segala sisinya, tidak pernah berjasa sedikitpun kepada Rabb, melainkan semua itu adalah murni merupakan karunia Allah, ke-murahan dan kebaikanNya. Dan ia juga mengandung makna sikap sempurna mereka yang selalu sejalan dengan kehendak Allah, yaitu mencintai amal perbuatan apa saja yang dicintaiNya, yang sebenarnya ia adalah berupa amal ibadah yang mereka lakukan, dan mereka bersungguh-sungguh seperti kesungguhan orang-orang yang mencintai, dan dari para pengabdi yang mana mereka adalah orang-orang Mukmin yang dicintai Allah سبحانه وتعالى di antara makh-lukNya.
Semua makhluk yang mukallaf itu dibenci oleh Allah kecuali orang-orang yang beriman di antara mereka. Dan di antara bentuk kecintaan para malaikat kepada mereka adalah mereka berdoa kepada Allah dan berusaha keras untuk kebaikan kondisi mereka. Sebab doa bagi seseorang adalah merupakan bukti yang paling tinggi yang menunjukkan kecintaannya (kepada orang yang di-doakannya), ia tidak akan berdoa kecuali untuk orang yang dicin-tainya.
Dan juga mengandung makna tentang apa yang Allah uraikan dan rincikan dari doa mereka setelah FirmanNya, ﴾ وَيَسۡتَغۡفِرُونَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْۖ ﴿ "Mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman," yaitu peringatan yang sangat lembut tentang bagaimana mentadabburi (menghayati) KitabNya, dan seharusnya orang yang menghayati, tidak berhenti hanya sekedar pada lafazhnya saja, melainkan se-mestinya ia menghayati makna yang terkandung di dalam lafazh itu. Lalu apabila ia telah memahaminya dengan pemahaman yang benar sebagaimana mestinya, maka ia mencermati dengan akal pikirannya kepada perintah (yang terkandung dalam lafazh terse-but. Pent) dan kepada metode-metode yang dapat mengantarkan kepadanya, kepada apa-apa yang tidak akan bisa tercapai kecuali dengannya, dan kepada apa yang menjadi sandarannya, lalu me-mastikan bahwa itulah yang Allah kehendaki, dan sebagaimana Dia pastikan bahwa Dia menghendaki makna khusus yang dikan-dung oleh lafazh itu. Dan yang wajib dipastikan bahwa Allah meng-hendakinya adalah dua hal: Pertama, pengetahuan dan keyakinan-nya bahwasanya makna tersebut termasuk bagian dari makna (lafazh) dan yang dimaksud. Kedua, pengetahuannya bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, dan bahwa Allah memerintah hamba-hambaNya untuk menghayati makna-makna kitabNya. Dia-lah yang menginformasikan bahwa kitabNya itu adalah pe-tunjuk, cahaya, dan penjelasan bagi segala sesuatu, dan ia adalah ungkapan (perkataan) yang paling fasih dan paling jelas. Maka dengan demikian seseorang akan memperoleh ilmu yang sangat agung dan kebaikan yang berlimpah sesuai dengan bimbingan Allah kepadanya.
Dan di dalam tafsir kami ini terdapat hal-hal seperti ini yang sangat banyak sekali, Allah telah mengaruniakan kepada kami, yang kadang-kadang pada sebagian ayat tidak tampak bagi orang yang tidak merenungkan akan kebenaran makna tersebut. Kami memohon kepada Allah سبحانه وتعالى, semoga Dia berkenan membukakan kepada kami sebagian dari perbendaharaan rahmatNya yang men-jadi sebab bagi kebaikan (keshalihan) kondisi kami dan kondisi kaum Muslimin. Kami tidak memiliki selain ketergantungan kepada kemurahanNya dan bertawasul dengan kebaikanNya yang terus kami panjatkan pada setiap saat dan setiap waktu. Dan kami me-mohon kepadaNya sebagian dari karuniaNya untuk memelihara kami dari kejahatan jiwa kami yang selalu menjadi penghalang dan rintangan untuk memperoleh rahmatNya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Pemberi, yang telah mengaruniakan segala sebab-sebab dan faktor-faktornya.
Dan doa itu juga mengandung makna bahwa pendamping, yaitu seperti istri, anak, dan sahabat akan merasa berbahagia de-ngan teman karibnya, dan bahkan hubungannya dengannya men-jadi sebab bagi kebaikan yang ia raih di luar amalnya dan menjadi sebab amalnya, sebagaimana para malaikat mendoakan orang-orang Mukmin dan orang-orang shalih dari bapak-bapak mereka, istri-istri, dan anak keturunan mereka.
Jadi, harus ada keshalihan mereka, sebab Allah berfirman, ﴾ وَمَن صَلَحَ ﴿ "Dan orang-orang shalih," barulah yang demikian itu merupakan hasil dari amal mereka. Wallahu a'lam.
﴾ وَمَن تَقِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ يَوۡمَئِذٖ ﴿ "Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari keburukan pada hari itu," maksudnya, pada Hari Kiamat, ﴾ فَقَدۡ رَحِمۡتَهُۥۚ ﴿ "maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya," sebab rahmatMu terus tercurah kepada manusia, tidak ada yang bisa menghalanginya kecuali dosa mereka dan amal perbuatan buruk mereka. Maka siapa saja yang Engkau pelihara dari kebu-rukan dan Engkau bimbing ia untuk beramal kebajikan dan mem-peroleh pahalanya yang sangat besar, ﴾ وَذَٰلِكَ ﴿ "dan itulah," yakni, hilangnya hal-hal yang membahayakan karena dipelihara dari keburukan-keburukan dan karena tercapainya hal-hal yang disukai dengan tercapainya rahmat itu, ﴾ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "adalah kemenangan yang besar" yang tidak ada kemenangan yang sebanding dengan-nya dan tidak ada pula yang diperlombakan oleh manusia yang lebih baik darinya.
Doa para malaikat di atas mengandung dalil sempurnanya pengetahuan mereka tentang Tuhannya, juga (disyariatkannya) bertawasul kepada Allah dengan nama-namaNya yang indah yang Dia suka kalau hamba-hambaNya bertawasul kepadaNya dengan nama-nama tersebut dan memohon dengan apa-apa yang sangat pantas untuk dijadikan doa kepadaNya. Oleh karena doa mereka demi tercapainya rahmat dan dihapusnya segala bekas dosa yang telah dikerjakan oleh jiwa manusia yang telah diketahui oleh Allah kelemahan dan akibatnya karena kemaksiatan-kemaksiatan yang telah dilakukannya, dan prinsip-prinsip serta sebab-sebab lainnya yang semua itu telah diketahui Allah, maka para malaikat bertawa-sul dengan اَلرَّحِيْمُ dan اَلْعَلِيْمُ (Yang Maha Pengasih lagi Maha Menge-tahui).
(Doa di atas juga) mengandung makna kesempurnaan etika (adab) mereka terhadap Allah سبحانه وتعالى, di mana mereka mengikrarkan rububiyahNya terhadap mereka dengan rububiyah yang umum dan yang khusus, dan ikrar mereka bahwa mereka sama sekali tidak memiliki wewenang sedikitpun. Doa yang mereka lakukan kepada Allah itu benar-benar hanya berasal dari hamba yang faqir (butuh) dari segala sisinya, tidak pernah berjasa sedikitpun kepada Rabb, melainkan semua itu adalah murni merupakan karunia Allah, ke-murahan dan kebaikanNya. Dan ia juga mengandung makna sikap sempurna mereka yang selalu sejalan dengan kehendak Allah, yaitu mencintai amal perbuatan apa saja yang dicintaiNya, yang sebenarnya ia adalah berupa amal ibadah yang mereka lakukan, dan mereka bersungguh-sungguh seperti kesungguhan orang-orang yang mencintai, dan dari para pengabdi yang mana mereka adalah orang-orang Mukmin yang dicintai Allah سبحانه وتعالى di antara makh-lukNya.
Semua makhluk yang mukallaf itu dibenci oleh Allah kecuali orang-orang yang beriman di antara mereka. Dan di antara bentuk kecintaan para malaikat kepada mereka adalah mereka berdoa kepada Allah dan berusaha keras untuk kebaikan kondisi mereka. Sebab doa bagi seseorang adalah merupakan bukti yang paling tinggi yang menunjukkan kecintaannya (kepada orang yang di-doakannya), ia tidak akan berdoa kecuali untuk orang yang dicin-tainya.
Dan juga mengandung makna tentang apa yang Allah uraikan dan rincikan dari doa mereka setelah FirmanNya, ﴾ وَيَسۡتَغۡفِرُونَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْۖ ﴿ "Mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman," yaitu peringatan yang sangat lembut tentang bagaimana mentadabburi (menghayati) KitabNya, dan seharusnya orang yang menghayati, tidak berhenti hanya sekedar pada lafazhnya saja, melainkan se-mestinya ia menghayati makna yang terkandung di dalam lafazh itu. Lalu apabila ia telah memahaminya dengan pemahaman yang benar sebagaimana mestinya, maka ia mencermati dengan akal pikirannya kepada perintah (yang terkandung dalam lafazh terse-but. Pent) dan kepada metode-metode yang dapat mengantarkan kepadanya, kepada apa-apa yang tidak akan bisa tercapai kecuali dengannya, dan kepada apa yang menjadi sandarannya, lalu me-mastikan bahwa itulah yang Allah kehendaki, dan sebagaimana Dia pastikan bahwa Dia menghendaki makna khusus yang dikan-dung oleh lafazh itu. Dan yang wajib dipastikan bahwa Allah meng-hendakinya adalah dua hal: Pertama, pengetahuan dan keyakinan-nya bahwasanya makna tersebut termasuk bagian dari makna (lafazh) dan yang dimaksud. Kedua, pengetahuannya bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, dan bahwa Allah memerintah hamba-hambaNya untuk menghayati makna-makna kitabNya. Dia-lah yang menginformasikan bahwa kitabNya itu adalah pe-tunjuk, cahaya, dan penjelasan bagi segala sesuatu, dan ia adalah ungkapan (perkataan) yang paling fasih dan paling jelas. Maka dengan demikian seseorang akan memperoleh ilmu yang sangat agung dan kebaikan yang berlimpah sesuai dengan bimbingan Allah kepadanya.
Dan di dalam tafsir kami ini terdapat hal-hal seperti ini yang sangat banyak sekali, Allah telah mengaruniakan kepada kami, yang kadang-kadang pada sebagian ayat tidak tampak bagi orang yang tidak merenungkan akan kebenaran makna tersebut. Kami memohon kepada Allah سبحانه وتعالى, semoga Dia berkenan membukakan kepada kami sebagian dari perbendaharaan rahmatNya yang men-jadi sebab bagi kebaikan (keshalihan) kondisi kami dan kondisi kaum Muslimin. Kami tidak memiliki selain ketergantungan kepada kemurahanNya dan bertawasul dengan kebaikanNya yang terus kami panjatkan pada setiap saat dan setiap waktu. Dan kami me-mohon kepadaNya sebagian dari karuniaNya untuk memelihara kami dari kejahatan jiwa kami yang selalu menjadi penghalang dan rintangan untuk memperoleh rahmatNya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Pemberi, yang telah mengaruniakan segala sebab-sebab dan faktor-faktornya.
Dan doa itu juga mengandung makna bahwa pendamping, yaitu seperti istri, anak, dan sahabat akan merasa berbahagia de-ngan teman karibnya, dan bahkan hubungannya dengannya men-jadi sebab bagi kebaikan yang ia raih di luar amalnya dan menjadi sebab amalnya, sebagaimana para malaikat mendoakan orang-orang Mukmin dan orang-orang shalih dari bapak-bapak mereka, istri-istri, dan anak keturunan mereka.
Jadi, harus ada keshalihan mereka, sebab Allah berfirman, ﴾ وَمَن صَلَحَ ﴿ "Dan orang-orang shalih," barulah yang demikian itu merupakan hasil dari amal mereka. Wallahu a'lam.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di