Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
Fussilat : Ayat 7
Tafsir As-Sa'di
"Ha Mim. Diturunkan dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling; maka mereka tidak mau mendengarkan. Mereka berkata, 'Hati kami berada dalam tutupan terhadap apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan di antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja pula.' Katakanlah, 'Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya sesembahan kamu adalah sesembahan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya'." (Fushshilat: 1-8).
(6-7) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka, wahai Nabi ﴾ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ ﴿ "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku," inilah sifat dan tugasku, yaitu bahwa aku adalah manusia biasa, aku tidak memiliki wewenang apa pun, dan aku juga tidak memiliki apa yang kalian minta segera. Sesung-guhnya Allah hanya mengutamakanku atas kalian, mengistimewa-kanku dengan wahyu yang diwahyukanNya kepadaku dan me-merintahku untuk mengikutinya dan mengajak kalian kepadanya. ﴾ فَٱسۡتَقِيمُوٓاْ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya," maksudnya, tempuhlah jalan yang dapat mengantarkan kepada Allah سبحانه وتعالى, dengan cara membenarkan berita yang aku sampaikan dan mengikuti perintah dan menjauhi larangan. Inilah hakikat istiqamah. Kemudian konsisten kepadanya. Ungkapan, ﴾ إِلَيۡهِ ﴿ "ke-padaNya" mengingatkan tentang keikhlasan, dan orang yang akan beramal hendaknya menjadikan tujuan dan niat beramalnya adalah untuk sampai kepada Allah dan kepada negeri kemuliaanNya. Maka dengan begitu amalnya tulus, shalih lagi bermanfaat, dan dengan terabaikannya ikhlas maka amalnya menjadi sia-sia.
Oleh karena seorang hamba, sekalipun ia telah bersungguh-sungguh untuk tetap istiqamah, pasti terjadi kekeliruan darinya karena mengabaikan perintah atau melakukan yang dilarang, maka Allah menyuruh mengobatinya dengan beristighfar yang mengan-dung makna taubat, seraya berfirman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُوهُۗ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepadaNya." Kemudian Allah mengancam orang yang menga-baikan istiqamah, seraya berfirman, ﴾ وَوَيۡلٞ لِّلۡمُشۡرِكِينَ 6 ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutu-kanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat." Yaitu orang-orang yang menyembah apa-apa yang tidak mampu mendatang-kan manfaat, mudarat, kematian, kehidupan dan tidak pula mampu menghidupkan kembali. Dan mereka menginjak-injak diri mereka[84], tidak membersihkannya dengan mengesakan Allah, Rabb mereka dan ikhlas kepadaNya. Mereka tidak melakukan shalat dan tidak juga membayar zakat. Tidak ada keikhlasan kepada sang Pencipta dengan tauhid dan shalat, dan tidak ada pula pemberian manfaat kepada sesama dengan menunaikan zakat dan lain-lainnya.
﴾ وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "Dan mereka kafir akan adanya akhirat." Arti-nya, mereka tidak beriman kepada kebangkitan, kepada adanya surga ataupun adanya neraka. Maka dari itu, setelah rasa takut sirna dari hati mereka, maka mereka berani melakukan apa yang telah mereka lakukan, yaitu perbuatan yang dapat mencelakakan mereka di akhirat.
(6-7) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka, wahai Nabi ﴾ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ ﴿ "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku," inilah sifat dan tugasku, yaitu bahwa aku adalah manusia biasa, aku tidak memiliki wewenang apa pun, dan aku juga tidak memiliki apa yang kalian minta segera. Sesung-guhnya Allah hanya mengutamakanku atas kalian, mengistimewa-kanku dengan wahyu yang diwahyukanNya kepadaku dan me-merintahku untuk mengikutinya dan mengajak kalian kepadanya. ﴾ فَٱسۡتَقِيمُوٓاْ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya," maksudnya, tempuhlah jalan yang dapat mengantarkan kepada Allah سبحانه وتعالى, dengan cara membenarkan berita yang aku sampaikan dan mengikuti perintah dan menjauhi larangan. Inilah hakikat istiqamah. Kemudian konsisten kepadanya. Ungkapan, ﴾ إِلَيۡهِ ﴿ "ke-padaNya" mengingatkan tentang keikhlasan, dan orang yang akan beramal hendaknya menjadikan tujuan dan niat beramalnya adalah untuk sampai kepada Allah dan kepada negeri kemuliaanNya. Maka dengan begitu amalnya tulus, shalih lagi bermanfaat, dan dengan terabaikannya ikhlas maka amalnya menjadi sia-sia.
Oleh karena seorang hamba, sekalipun ia telah bersungguh-sungguh untuk tetap istiqamah, pasti terjadi kekeliruan darinya karena mengabaikan perintah atau melakukan yang dilarang, maka Allah menyuruh mengobatinya dengan beristighfar yang mengan-dung makna taubat, seraya berfirman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُوهُۗ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepadaNya." Kemudian Allah mengancam orang yang menga-baikan istiqamah, seraya berfirman, ﴾ وَوَيۡلٞ لِّلۡمُشۡرِكِينَ 6 ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutu-kanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat." Yaitu orang-orang yang menyembah apa-apa yang tidak mampu mendatang-kan manfaat, mudarat, kematian, kehidupan dan tidak pula mampu menghidupkan kembali. Dan mereka menginjak-injak diri mereka[84], tidak membersihkannya dengan mengesakan Allah, Rabb mereka dan ikhlas kepadaNya. Mereka tidak melakukan shalat dan tidak juga membayar zakat. Tidak ada keikhlasan kepada sang Pencipta dengan tauhid dan shalat, dan tidak ada pula pemberian manfaat kepada sesama dengan menunaikan zakat dan lain-lainnya.
﴾ وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "Dan mereka kafir akan adanya akhirat." Arti-nya, mereka tidak beriman kepada kebangkitan, kepada adanya surga ataupun adanya neraka. Maka dari itu, setelah rasa takut sirna dari hati mereka, maka mereka berani melakukan apa yang telah mereka lakukan, yaitu perbuatan yang dapat mencelakakan mereka di akhirat.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di