Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
Muhammad : Ayat 21
Tafsir As-Sa'di
"Dan orang-orang yang beriman berkata, 'Mengapa tiada di-turunkan suatu surat.' Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya me-mandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan lebih utama bagi mereka, taat dan mengucapkan perkataan yang baik. Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) ter-hadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluarga-an? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan dituli-kanNya telinga mereka dan dibutakanNya penglihatan mereka." (Muhammad: 20-23).
(20-21) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengajak mereka kepada apa yang lebih sesuai dengan kondisi mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَوۡلَىٰ لَهُمۡ 20 طَاعَةٞ وَقَوۡلٞ مَّعۡرُوفٞۚ ﴿ "Dan lebih utama bagi mereka, taat dan mengucapkan perkataan yang baik." Artinya, lebih baik mereka mengerjakan perin-tah yang ada, yang harus dikerjakan oleh mereka serta memusat-kan perhatian mereka untuk melaksanakannya dan jangan terburu-buru mengharapkan sesuatu yang berat, supaya mereka merasa senang dengan keselamatan dan ampunan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى.
﴾ فَإِذَا عَزَمَ ٱلۡأَمۡرُ ﴿ "Apabila telah tetap perintah," yakni, perintah serius dan mengharuskan, maka dalam kondisi seperti ini, ﴾ صَدَقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "mereka benar (imannya) terhadap Allah," dengan meminta pertolongan kepadaNya serta mencurahkan segenap tenaga untuk menunaikan-nya, ﴾ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۡ ﴿ "niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka," daripada kondisi sebelumnya karena beberapa hal, di antaranya adalah: Pertama, seorang hamba yang kurang di berbagai halnya tidak memiliki kemampuan apa pun kecuali jika Allah سبحانه وتعالى memberi-nya pertolongan, karena itulah jangan meminta lebih dari perintah yang ada. Kedua, seorang hamba jika jiwanya bergantung pada sesuatu yang akan datang, maka amalnya akan lemah dan tidak mampu menunaikan tugasnya yang ada karena memikirkan tugas yang akan datang, sebab –dalam kaitannya dengan tugas yang ada– idealismenya telah berpindah pada yang lain di mana aktivitas seseorang itu mengikuti idealismenya.
Sedangkan berkaitan dengan yang akan datang, tidaklah pe-rintah datang melainkan idealismenya telah menurun dan lemah untuk mengerjakannya sehingga tidak bisa ditolong. Ketiga, orang yang banyak memiliki berbagai angan untuk masa mendatang, padahal malas untuk mengerjakan tugas yang ada sama seperti pemimpi yang bertekad untuk mengerjakan semua tugas yang akan dihadapi pada waktu yang akan datang, sehingga orang seperti ini patut dicela karena tidak mau menunaikan tugas yang dikiranya bisa ditunaikan. Sepatutnya seorang hamba mengonsentrasikan idealisme, pikiran dan kegiatannya untuk menghadapi tugas yang ada dan menunaikan tugasnya berdasarkan kemampuan, setiap kali waktu tiba selalu dihadapi dengan semangat, idealisme tinggi yang terkonsentrasi dan tidak tercerai berai, disertai dengan me-minta pertolongan para Rabbnya dalam menghadapi semua itu. Dan orang seperti ini layak mendapatkan pertolongan di berbagai halnya.
(20-21) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengajak mereka kepada apa yang lebih sesuai dengan kondisi mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَوۡلَىٰ لَهُمۡ 20 طَاعَةٞ وَقَوۡلٞ مَّعۡرُوفٞۚ ﴿ "Dan lebih utama bagi mereka, taat dan mengucapkan perkataan yang baik." Artinya, lebih baik mereka mengerjakan perin-tah yang ada, yang harus dikerjakan oleh mereka serta memusat-kan perhatian mereka untuk melaksanakannya dan jangan terburu-buru mengharapkan sesuatu yang berat, supaya mereka merasa senang dengan keselamatan dan ampunan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى.
﴾ فَإِذَا عَزَمَ ٱلۡأَمۡرُ ﴿ "Apabila telah tetap perintah," yakni, perintah serius dan mengharuskan, maka dalam kondisi seperti ini, ﴾ صَدَقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "mereka benar (imannya) terhadap Allah," dengan meminta pertolongan kepadaNya serta mencurahkan segenap tenaga untuk menunaikan-nya, ﴾ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۡ ﴿ "niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka," daripada kondisi sebelumnya karena beberapa hal, di antaranya adalah: Pertama, seorang hamba yang kurang di berbagai halnya tidak memiliki kemampuan apa pun kecuali jika Allah سبحانه وتعالى memberi-nya pertolongan, karena itulah jangan meminta lebih dari perintah yang ada. Kedua, seorang hamba jika jiwanya bergantung pada sesuatu yang akan datang, maka amalnya akan lemah dan tidak mampu menunaikan tugasnya yang ada karena memikirkan tugas yang akan datang, sebab –dalam kaitannya dengan tugas yang ada– idealismenya telah berpindah pada yang lain di mana aktivitas seseorang itu mengikuti idealismenya.
Sedangkan berkaitan dengan yang akan datang, tidaklah pe-rintah datang melainkan idealismenya telah menurun dan lemah untuk mengerjakannya sehingga tidak bisa ditolong. Ketiga, orang yang banyak memiliki berbagai angan untuk masa mendatang, padahal malas untuk mengerjakan tugas yang ada sama seperti pemimpi yang bertekad untuk mengerjakan semua tugas yang akan dihadapi pada waktu yang akan datang, sehingga orang seperti ini patut dicela karena tidak mau menunaikan tugas yang dikiranya bisa ditunaikan. Sepatutnya seorang hamba mengonsentrasikan idealisme, pikiran dan kegiatannya untuk menghadapi tugas yang ada dan menunaikan tugasnya berdasarkan kemampuan, setiap kali waktu tiba selalu dihadapi dengan semangat, idealisme tinggi yang terkonsentrasi dan tidak tercerai berai, disertai dengan me-minta pertolongan para Rabbnya dalam menghadapi semua itu. Dan orang seperti ini layak mendapatkan pertolongan di berbagai halnya.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di