Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di

Al-Ma'ida : Ayat 54

Tafsir As-Sa'di
"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencin-taiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Mahaluas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui." (Al-Ma`idah: 54).

(54) Allah memberitakan bahwa Dia Mahakaya terhadap alam semesta dan bahwa barangsiapa yang murtad dari agamanya, maka dia tidak merugikan Allah sedikit pun, akan tetapi merugikan dirinya sendiri. Dan bahwasanya Allah mempunyai hamba-hamba yang ikhlas, dan jujur (dalam imannya) dan Allah Yang Maha Penga-sih lagi Maha Penyayang telah menjamin hidayah bagi mereka. Dia menjanjikan akan mendatangkan mereka. Mereka adalah makhluk dengan sifat yang paling sempurna dengan jiwa yang paling kuat, dan dengan akhlak yang paling baik.
Sifat (pertama) mereka yang paling mulia adalah bahwa Allah ﴾ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "mencintai mereka dan mereka mencintai Allah." Karena kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah nikmat yang paling mulia yang Dia berikan kepadanya dan keutamaan paling utama yang Dia anugerahkan kepadanya. Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memudahkan sebab-sebab (untuk meraih yang benar), memudahkan baginya semua yang sulit, memberinya taufik untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran dan menyambut hati hamba-hambaNya dengan kecintaan dan kasih sayang.
Di antara konsekuensi kecintaan seorang hamba kepada Tuhan-nya adalah bahwa dia harus siap mengikuti RasulNya, lahir dan batin, pada perkataan, perbuatan, dan seluruh keadaannya sebagai-mana Firman Allah,
﴾ قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ ﴿
"Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikuti-lah aku, niscaya Allah mengasihimu'." (Ali Imran: 31).
Sebagaimana di antara konsekuensi kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah bahwa seorang hamba memperbanyak mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah fardhu dan ibadah-ibadah sunnah sebagaimana sabda Nabi dalam hadits shahih dari Allah,
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِيْ لَأُعِيْذَنَّهُ.
"Tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada sesuatu yang telah Aku wajibkan kepada-nya. HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengarkan, peng-lihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia bekerja dan kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika dia meminta kepa-daKu, niscaya Aku memberinya, dan jika dia memohon perlindungan kepadaKu, niscaya Aku melindunginya."
Di antara konsekuensi kecintaan kepada Allah adalah menge-nal Allah, memperbanyak dzikir kepadaNya, karena kecintaan tanpa mengenal sangatlah kurang bahkan tidak ada walaupun ia diklaim, dan barangsiapa yang mencintai Allah, maka dia akan banyak menyebutNya. Dan jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia menerima amal yang sedikit dan memaafkan kesalahan yang banyak.
Yang kedua dari sifat mereka adalah, ﴾ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "bersikap lemah lembut terhadap orang-orang Mukmin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir." Mereka bersikap lemah lembut kepada orang-orang Mukmin, mencintai, memberi nasihat, bersikap lunak dan halus, mengasihi, menyayangi, memperlakukan orang-orang Mukmin dengan baik dan apa yang diharapkan dari mereka terasa begitu dekat digapai. Sebaliknya mereka bersikap keras terhadap orang-orang yang kafir kepada Allah, yang menentang ayat-ayat-Nya yang mendustakan Rasul-rasulNya. Semangat dan keinginan mereka terkonsentrasi pada permusuhan terhadap mereka. Mereka mengeluarkan segala daya mereka demi meraih sarana yang men-jadi kemenangan atas mereka. Firman Allah تعالى,
﴾ وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةٖ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَيۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمۡ ﴿
"Dan siapkanlah untuk mereka kekuatan apa saja yang kamu sang-gupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, yang (juga) musuhmu." (Al-Anfal: 60).
Dan Firman Allah تعالى,
﴾ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ ﴿
"Adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka." (Al-Fath: 29).
Bersikap keras dan tegas terhadap musuh-musuh Allah terma-suk perkara yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah, se-orang hamba menyepakati Tuhannya dalam kemarahanNya kepada mereka. Sikap tegas dan keras tidak menghalanginya mengajak mereka ke dalam agama Islam dengan cara yang lebih baik. Keras terhadap mereka sekaligus lunak dalam mendakwahi mereka, keduanya bermanfaat dan bermaslahat bagi mereka.
Yang ketiga, ﴾ يُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "berjihad di jalan Allah," dengan harta dan jiwa mereka, dengan ucapan dan perbuatan mereka.
﴾ وَلَا يَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَآئِمٖۚ ﴿ "Tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela," justru mereka mendahulukan ridha Allah dan takut ke-pada celaanNya daripada celaan makhluk. Ini membuktikan kuat-nya semangat dan keinginan mereka, karena orang yang hatinya lemah, maka semangatnya juga lemah. Semangatnya akan goyah jika dia menghadapi celaan orang yang mencela, dan kekuatannya akan luluh jika dia menjadi sasaran cibiran. Di dalam hati mereka terdapat penghambaan kepada selain Allah sesuai dengan kadar perhatiannya kepada kerelaan makhluk, mendahulukan keridha-an mereka dan celaan mereka di atas perintah Allah. Hati seseorang tidak akan bersih dari penghambaan kepada selain Allah, sehingga ia tidak takut celaan orang yang mencela di jalan Allah.
Manakala Allah menyanjung mereka dengan sifat-sifat yang luhur dan perangai yang mulia yang Dia berikan kepada mereka, di mana sifat dan perangai itu menuntut sifat-sifat lain yang belum disebut, maka Dia memberitakan bahwa hal ini termasuk karunia dan kebaikanNya kepada mereka, agar mereka tidak membangga-kan diri mereka, dan agar mereka mensyukuriNya yang telah meng-anugerahkan itu kepada mereka supaya Dia menambah karunia itu. Di samping itu agar selain mereka mengetahui bahwa karunia Allah tidak terdapat penghalang padanya. Dia berfirman,﴾ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ ﴿ "Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Mahaluas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui." Maksudnya, luas karunia dan kebaikanNya, besar nikmatNya, dan rahmatNya meliputi segala sesuatu, melapangkan karuniaNya kepada para waliNya yang tidak diberikanNya kepada selain mereka. Akan tetapi Dia mengetahui siapa yang berhak men-dapatkan karunia itu, maka Dia memberinya. Allah lebih mengetahui di mana Dia meletakkan risalahnya; pokok maupun cabangnya.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di