Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
Qaf : Ayat 2
"Qaf. Demi al-Qur`an yang sangat mulia. (Mereka tidak me-nerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, 'Ini adalah suatu yang amat ajaib. Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi), itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.' Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihan-curkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh mereka), dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat)'." (Qaf: 1-4).
Tafsir As-Sa'di
(2) Hal ini mengharuskan untuk diikuti serta dipatuhi se-cara cepat serta bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas karuniaNya, hanya saja kebanyakan manusia tidak memuliakan nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى dengan sebenarnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ بَلۡ عَجِبُوٓاْ ﴿ "(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang," yakni, mereka yang mendustakan Rasulullah a, ﴾ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡ ﴿ "karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri," yakni, memberi peringatan kepada mereka akan sesuatu yang membahayakan mereka dan memerintahkan mereka pada yang bermanfaat untuk mereka. Dan pembawa berita ancaman itu (Rasulullah a) berasal dari kalangan mereka yang memungkinkan bagi mereka untuk menemuinya serta mengetahui hal-ihwal serta kebenarannya, namun mereka tercengang terhadap urusan yang tidak seharusnya diperlakukan seperti itu, bahkan orang yang me-ngerti dan memahami orang yang tercengang pun ikut tercengang, ﴾ فَقَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "maka berkatalah orang-orang kafir," yakni, orang-orang yang diseret oleh kekufuran serta kedustaan merka meski kecer-dasan dan pandangan mereka tidak ada kekurangannya,﴾ هَٰذَا شَيۡءٌ عَجِيبٌ ﴿ "Ini adalah suatu yang amat ajaib," yakni, sesuatu yang aneh.
Orang-orang yang berada dalam rasa heran ini kemungkinan berada di antara dua hal; adakalanya mereka benar dalam rasa heran itu dan hal itu menunjukkan puncak kebodohan mereka serta lemahnya akal mereka, sama seperti orang gila yang merasa aneh terhadap perkataan orang berakal, seperti pengecut yang merasa kagum ketika bertemu dengan pasukan berkuda, seperti orang pelit yang merasa aneh terhadap sikap derma orang derma-wan, lantas bahaya apa yang bisa menyamai keheranan orang yang kondisinya seperti ini? Tidaklah rasa heran orang seperti itu me-lainkan itu adalah sebagian indikasi yang menunjukkan kebodohan serta kezhalimannya. Kemungkinan kedua adalah adakalanya me-reka yang merasa heran itu karena mereka mengetahui kesalahan mereka dalam perasaan tersebut dan tindakan ini termasuk kezha-liman terbesar dan paling keji.
Orang-orang yang berada dalam rasa heran ini kemungkinan berada di antara dua hal; adakalanya mereka benar dalam rasa heran itu dan hal itu menunjukkan puncak kebodohan mereka serta lemahnya akal mereka, sama seperti orang gila yang merasa aneh terhadap perkataan orang berakal, seperti pengecut yang merasa kagum ketika bertemu dengan pasukan berkuda, seperti orang pelit yang merasa aneh terhadap sikap derma orang derma-wan, lantas bahaya apa yang bisa menyamai keheranan orang yang kondisinya seperti ini? Tidaklah rasa heran orang seperti itu me-lainkan itu adalah sebagian indikasi yang menunjukkan kebodohan serta kezhalimannya. Kemungkinan kedua adalah adakalanya me-reka yang merasa heran itu karena mereka mengetahui kesalahan mereka dalam perasaan tersebut dan tindakan ini termasuk kezha-liman terbesar dan paling keji.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di