Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di

An-Najm : Ayat 12

Tafsir As-Sa'di
"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Dia diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan dia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar." (An-Najm: 1-18).

(11-12) ﴾ مَا كَذَبَ ٱلۡفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ ﴿ "Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya," yakni, hati dan pandangan Rasulullah a sepakat terhadap wahyu yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepadanya. Pen-dengaran, penglihatan, dan hati Rasulullah a sama. Dan ini me-nunjukkan sempurnanya wahyu yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى kepa-daNya. Rasulullah a menerimanya secara langsung, yang tidak ada keraguan dan syubhat di dalamnya. Hati Rasulullah a tidak mendustakan yang dilihat oleh matanya dan Rasulullah a tidak meragukan hal itu.
Kemungkinan lain maksud yang dilihat Rasulullah a itu adalah peristiwa yang dilihat pada malam Isra` berupa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung. Rasulullah a meyakini secara be-nar dengan hati dan penglihatannya. Inilah penafsiran yang benar dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud ada-lah Rasulullah a melihat Rabbnya pada malam Isra` serta berbicara denganNya. Ini adalah penafsiran yang dipilih oleh banyak ulama n. Atas dalil ini mereka menegaskan bahwa Rasulullah a pernah melihat Rabbnya pada saat di dunia. Namun pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu yang dimaksud adalah Jibril عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat, Muhammad a meli-hat Jibril عليه السلام dalam wujud aslinya, di mana Rasulullah a pernah dua kali[107] melihat dalam wujud asli, pertama pada saat di ufuk tinggi dan kedua di atas langit ketujuh pada saat malam Isra` bersama Rasulullah a.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di