Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di

An-Najm : Ayat 39

Tafsir As-Sa'di
"Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur`an), serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi. Apa-kah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan). Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada mem-peroleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sem-purna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang ter-tawa dan menangis, dan bahwasanya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apa-bila dipancarkan. Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dan bahwasanya Dia-lah Rabb (yang memiliki) bintang syi'ra, dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama, dan kaum Tsamud. Maka tidak seorang pun yang ditinggalkanNya (hidup). Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zhalim dan paling durhaka, dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menim-pakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Rabbmu yang manakah kamu ragu-ragu? Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. Telah dekat terjadinya Hari Kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pembe-ritaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkan(nya). Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (An-Najm: 33-62).

(38-41) Terdapat berbagai hukum dalam lembaran-lem-baran itu, di antara yang terpenting adalah yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ 38 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." Artinya, setiap orang akan menanggung akibat amalannya, baik maupun buruk. Setiap orang tidak akan menda-patkan balasan apa pun dari amalan orang lain dan tidak menang-gung dosa siapa pun.
﴾ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diper-lihatkan (kepadanya)," yakni, di akhirat, dan kebaikan akan dipisah-kan dari keburukan, ﴾ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ﴿ "kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna," yaitu yang menca-kup seluruh amal; amalan baik dibalas baik dan amalan buruk dibalas buruk.
Balasan adil yang membuat semua manusia mengakuinya dan memuji Allah سبحانه وتعالى atas keadilanNya bahkan penghuni neraka sekalipun pada saat dimasukkan ke dalam neraka, tapi hatinya penuh pujian terhadap Rabb mereka serta mengakui kesempurna-an hikmah Nya dan marah terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengetahui bahwa yang menyebabkan mereka masuk ke dalam tempat kembali yang paling buruk adalah diri mereka sendiri.
Ada yang mengambil dalil dari Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," dengan berpendapat bahwa amal kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى tidak boleh di-hadiahkan kepada orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Menurut mereka, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya," sampainya usaha orang lain pada seseorang menafikan ayat ini. Cara pengambilan dalil ini perlu dikaji ulang, karena ayat ini menunjukkan, seseorang tidak akan mendapatkan apa pun selain yang telah dikerjakan sendiri, ini memang benar dan tidak perlu diperdebatkan, namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa seseorang tidak mendapat manfaat dari hasil usaha orang lain jika yang bersangkutan menghadiahkannya pada yang lain. Sama seperti harta, seseorang tidak memiliki harta selain yang dimiliki, hal itu tidak mengharuskan yang bersangkutan tidak memiliki harta yang diberikan oleh orang lain kepadanya di samping harta yang dimilikinya itu.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di