Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di

Al-A'raf : Ayat 89

"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan sau-dara mereka, Syu'aib. Ia berkata, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selainNya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabbmu. Maka sempurna-kanlah takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang de-mikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 85).
"Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan me-nakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesu-dahan orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyam-paikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." (Al-A'raf: 86-87).
"Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata, 'Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami.' Syu'aib berkata, 'Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya'." (Al-A'raf: 88).
"Sungguh kami telah mengada-adakan kebohongan yang be-sar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami dari padanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki-(nya). Pengetahuan Rabb kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya. Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya), 'Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi'." (Al-A'raf: 89-90).
"Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka. (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi. Maka Syu'aib me-ninggalkan mereka seraya berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Rabbku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir'." (Al-A'raf: 91-93).
Tafsir As-Sa'di
(89) ﴾ قَدِ ٱفۡتَرَيۡنَا عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا إِنۡ عُدۡنَا فِي مِلَّتِكُم بَعۡدَ إِذۡ نَجَّىٰنَا ٱللَّهُ مِنۡهَاۚ ﴿ "Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kem-bali kepada agamamu, sesudah Allah menyelamatkan kami daripadanya." Yakni, bersaksilah atas kami jika kami kembali kepadanya setelah Allah menyelamatkan kami darinya dan mengentaskan kami dari keburukannya maka kami adalah orang-orang yang berbohong dan berdusta atas nama Allah, karena kami mengetahui bahwa tidak ada dusta yang lebih besar daripada orang yang menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia adalah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Tempat bergantung para makhluk yang tidak beristri dan tidak beranak dan tidak memiliki sekutu dalam kerajaanNya. ﴾ وَمَا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّعُودَ فِيهَآ ﴿ "Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya." Yakni tidak mungkin bagi orang-orang seperti kami kembali lagi padanya, ini mustahil. Syu'aib membuat mereka tidak lagi berharap darinya untuk mengikuti mereka dari beberapa segi:
Dari segi bahwa dia dan orang-orang yang beriman bersama-nya membenci dan tidak menyukai kesyirikan yang dipegang oleh kaumnya.
Dari segi bahwa dia menjadikan apa yang mereka anut seba-gai kedustaan dan dia meminta mereka untuk bersaksi apabila dia dan orang-orang yang bersamanya mengikuti mereka, maka dia dan orang-orang yang bersamanya adalah orang-orang yang ber-dusta.
Di antaranya juga pengakuan mereka terhadap nikmat Allah kepada mereka di mana Dia telah menyelamatkan mereka darinya.
Di antaranya juga bahwa kembalinya mereka kepadanya se-telah Allah memberi petunjuk kepada mereka adalah termasuk per-kara yang mustahil jika melihat kepada keadaan mereka saat ini dan apa yang tertanam dalam hati mereka berupa pengagungan kepada Allah, pengakuan ubudiyah kepadaNya, bahwa hanya Dia-lah yang berhak atas ibadah semata tiada sekutu bagiNya, bahwa tuhan-tuhan kaum musyrikin adalah kebatilan paling batil dan ke-mustahilan paling mustahil, di mana Allah telah menganugerahkan akal kepada mereka yang dengannya mereka mengetahui kebenar-an dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan.
Adapun dari segi kehendak dan keinginan Allah yang pasti berlaku pada makhlukNya, di mana tidak seorang pun yang bisa menghindar darinya walaupun segala sebab dan kekuatan terkum-pul dan tersedia, maka mereka tidak memutuskan atas diri mereka bahwa mereka akan melakukan atau meninggalkan sesuatu. Oleh karena itu mereka mengecualikan dengan mengatakan, ﴾ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّنَاۚ ﴿ "Kecuali jika Allah, Rabb kami menghendaki(nya)." Yakni, tidak mungkin bagi kami ataupun selain kami yang bisa lolos dari ke-hendakNya yang berdasarkan kepada Ilmu dan HikmahNya. Dan sungguh ﴾ وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ ﴿ "Pengetahuan Rabb kami meliputi segala se-suatu." Dia mengetahui apa yang baik bagi hamba-hambaNya dan apa yang menjadi aturanNya pada mereka.
﴾ عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡنَاۚ ﴿ "Kepada Allah sajalah kami bertawakal." Yakni kami percaya bahwa Dia akan meneguhkan kami di atas jalan yang lurus dan melindungi kami dari seluruh jalan neraka, karena barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Dia akan mencukupkannya dan memudahkan untuknya urusan agama dan dunianya. ﴾ رَبَّنَا ٱفۡتَحۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ قَوۡمِنَا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil)." Yakni tolonglah orang yang dizhalimi dan pemilik hak atas orang yang zhalim, penentang kebenaran. ﴾ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡفَٰتِحِينَ ﴿ "Dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya." Kepu-tusanNya kepada hamba-hambaNya ada dua macam: keputusan ilmu dengan menjelaskan kebenaran dan kebatilan, serta petunjuk dan kesesatan, dan siapa yang tegak lurus di atas jalan dan siapa yang membelot darinya. Adapun yang kedua adalah keputusannya dengan pembalasan dan hukuman kepada orang-orang yang zhalim, serta keselamatan dan kemuliaan bagi orang-orang yang shalih. Maka mereka memohon kepada Allah keputusan di antara mereka dengan kaumnya dengan benar dan adil, dan supaya Dia menun-jukkan ayat-ayat dan pelajaran-pelajarannya yang menjadi kepu-tusan bagi kedua belah pihak.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di