Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di

Al-Balad : Ayat 5

Tafsir As-Sa'di
"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Makkah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Makkah ini. Dan demi bapak dan anaknya. Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, 'Aku telah menghabiskan harta yang banyak.' Apakah dia me-nyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahu-kah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) me-lepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan dengan kesabaran dan saling berpesan dengan kasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang tertutup rapat." (Al-Balad: 1-20).

(4-7) Yang menjadi obyek sumpah adalah Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." Kemungkinan yang dimaksudkan adalah se-gala kesusahan yang menderanya ketika berada di dunia, di alam barzakh dan pada hari berlakunya kesaksian. Seharusnya manusia mengerjakan perbuatan yang bisa membuatnya terbebas dari berbagai kesusahan itu dan mengharuskannya berbahagia selama-lamanya. Bila ia tidak mengerjakannya, berarti ia senantiasa didera siksaan berat selama-lamanya.
Kemungkinan lain, makna ayat ini adalah Allah سبحانه وتعالى mencipta-kan manusia dalam bentuk dan wujud yang paling sempurna yang membuatnya mampu berbuat apa saja serta mengerjakan perbuat-an-perbuatan berat. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang agung itu. Bahkan ia merasa sombong karena diberi kesehatan serta bersikap angkuh terhadap Penciptanya. Dengan kebodohan dan kezhalimannya, ia mengira kondisi itu akan bertahan lama baginya dan dikira kekua-saannya untuk bertindak tidak akan hilang darinya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّن يَقۡدِرَ عَلَيۡهِ أَحَدٞ ﴿ "Apakah manusia itu me-nyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya," hingga ia pun bertindak melampaui batas dan merasa bangga atas harta yang dibelanjakan untuk keinginan-keinginan dirinya lalu berkata, ﴾ أَهۡلَكۡتُ مَالٗا لُّبَدًا ﴿ "Aku telah menghabiskan harta yang banyak," yakni yang amat banyak. Allah سبحانه وتعالى menyebut membelanjakan harta untuk keinginan syahwat dan maksiat dengan kata membinasakan, karena orang yang membelanjakan tersebut tidak mendapatkan guna dari harta yang dibelanjakan. Hanya ada penyesalan, kerugian, kelelahan, dan kekurangan yang didapatkan. Tidak sama seperti orang yang membelanjakan hartanya dalam keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan untuk kebajikan. Karena orang tersebut pada hakikatnya melaku-kan perdagangan dengan Allah سبحانه وتعالى dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari harta yang dibelanjakannya.
Allah سبحانه وتعالى berfirman mengancam orang yang bangga terhadap harta yang dibelanjakan dalam kesenangan, ﴾ أَيَحۡسَبُ أَن لَّمۡ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ ﴿ "Apa-kah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya," yakni apakah ia mengira dengan melakukan hal itu Allah سبحانه وتعالى tidak meli-hatnya dan tidak memperhitungkan atas perbuatan yang kecil dan yang besar? Allah سبحانه وتعالى melihatnya, mencatat perbuatannya dan me-nugaskan para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menulis kebajikan dan keburukan yang ia kerjakan.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di