Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
Ad-Duha : Ayat 2
Tafsir As-Sa'di
"Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karuniaNya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)." (Adh-Dhuha: 1-11).
(1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan siang bila cahayanya mulai tersebar, yaitu waktu dhuha, dan juga dengan malam, ﴾ إِذَا سَجَىٰ ﴿ "apabila telah sunyi" dan gelap gulita, atas perhatian Allah سبحانه وتعالى terha-dap RasulNya seraya berfirman, ﴾ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ ﴿ "Rabbmu tiada mening-galkan kamu," yakni tidak meninggalkanmu sejak Dia memperhati-kanmu dan tidak menelantarkanmu sejak memelihara dan mera-watmu, tapi Dia senantiasa mendidikmu dengan pendidikan yang paling sempurna dan mengangkatmu satu derajat demi satu derajat, ﴾ وَمَا قَلَىٰ ﴿ "dan tiada (pula) benci kepadamu," sejak Dia mencintaimu, karena menafikan kebalikan sesuatu menunjukkan penegasan atas kebalikannya. Penafian semata bukanlah pujian kecuali bila penafian tersebut mengandung penegasan kesempurnaan. Inilah keadaan Rasulullah a sebelum dan sesudahnya, yaitu kondisi yang paling sempurna. Kecintaan Allah سبحانه وتعالى padanya serta terus berlalunya cinta itu, senantiasa naiknya derajat kesempurnaan Rasulullah a dan perhatian Allah سبحانه وتعالى pada beliau.
(1-3) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan siang bila cahayanya mulai tersebar, yaitu waktu dhuha, dan juga dengan malam, ﴾ إِذَا سَجَىٰ ﴿ "apabila telah sunyi" dan gelap gulita, atas perhatian Allah سبحانه وتعالى terha-dap RasulNya seraya berfirman, ﴾ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ ﴿ "Rabbmu tiada mening-galkan kamu," yakni tidak meninggalkanmu sejak Dia memperhati-kanmu dan tidak menelantarkanmu sejak memelihara dan mera-watmu, tapi Dia senantiasa mendidikmu dengan pendidikan yang paling sempurna dan mengangkatmu satu derajat demi satu derajat, ﴾ وَمَا قَلَىٰ ﴿ "dan tiada (pula) benci kepadamu," sejak Dia mencintaimu, karena menafikan kebalikan sesuatu menunjukkan penegasan atas kebalikannya. Penafian semata bukanlah pujian kecuali bila penafian tersebut mengandung penegasan kesempurnaan. Inilah keadaan Rasulullah a sebelum dan sesudahnya, yaitu kondisi yang paling sempurna. Kecintaan Allah سبحانه وتعالى padanya serta terus berlalunya cinta itu, senantiasa naiknya derajat kesempurnaan Rasulullah a dan perhatian Allah سبحانه وتعالى pada beliau.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di