Engkau bukan ulama yang ilmunya terus hidup. Bukan pula seseorang yang memiliki karya besar yang terus dikenang.
Saat engkau meninggal, namamu mungkin hanya ramai sesaat di grup WhatsApp. Orang-orang mengirimkan stiker dan ucapan "Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn."
Lalu esok harinya, grup kembali ramai dengan obrolan lain. Hidup mereka terus berjalan.
Hartamu tertinggal. Rumahmu ditempati. Kendaraanmu dipakai. Anak-anakmu tumbuh tanpa dirimu. Bahkan istrimu, bila Allah takdirkan, akan melanjutkan hidupnya dan bisa memiliki pendamping yang lain.
Sedangkan engkau...
Sendirian di alam kubur. Tidak ditemani harta, jabatan, keluarga, ataupun teman. Hanya amal yang akan berbicara.
Sebelum manusia benar-benar melupakan namamu, jangan sampai engkau lebih dahulu melupakan tujuan Allah menciptakanmu.