Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di

Yusuf : Ayat 40

"Dan bersama dengannya, masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang di antara keduanya, 'Se-sungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur.' Dan yang lainnya berkata, 'Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung.' Berikanlah kepada kami ta'birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena'birkan mimpi). Yusuf berkata, 'Tidaklah disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu, melainkan aku telah dapat mene-rangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepada-mu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Rabbku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang me-reka ingkar kepada Hari Kemudian. Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak, dan Ya'qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya), tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukuri(Nya). Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu ha-nyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah melainkan kepadaNya. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [Hai kedua peng-huni penjara, 'Adapun salah seorang di antara kamu berdua, akan memberi minum tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepala-nya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)']."[6] (Yusuf: 36-41).
Tafsir As-Sa'di
(40) Dan sudah dapat dimaklumi bahwa Dzat yang karakte-ristik dan sifatNya demikian ini lebih baik daripada sesembahan-sesembahan beraneka macam yang hanya berbentuk nama-nama (kosong) semata, tanpa ada unsur kesempurnaan dan kemampuan baginya. Oleh karenanya, beliau berkata, ﴾ مَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِهِۦٓ إِلَّآ أَسۡمَآءٗ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم ﴿ "Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya", maksudnya, kalian telah memberikan predikat nama-nama padanya, dan kalian menamakannya sebagai tuhan. Padahal benda-benda itu tidak ada artinya sama sekali, juga tidak mempu-nyai sifat-sifat ketuhanan sedikit pun.
﴾ مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ ﴿ "Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu", bahkan Allah telah menurunkan keterangan tentang larangan untuk menyembahnya dan penjelasan tentang ke-batilannya. Apabila Allah tidak menurunkan sebuah bukti penguat apa pun, maka tidak ada jalan, cara dan petunjuk tentang ketuhanan benda-benda itu. Karena keputusan itu ﴾ لِلَّهِ ﴿ "hanyalah kepunyaan Allah", semata. Dia-lah Dzat yang memerintahkan, melarang dan menetapkan aturan-aturan syariat dan menggariskan hukum-hu-kum. Dia-lah Dzat yang memerintahkan kalian ﴾ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ ﴿ "agar kamu tidak menyembah melainkan kepadaNya. Itulah agama yang lurus", maksudnya, agama yang lurus lagi mengantarkan ke-pada segala kebaikan. Sedangkan semua agama selainnya, merupa-kan agama yang tidak lurus, jalan yang bengkok, menyeret kepada segala kejelekan. ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui", hakikat-hakikat segala sesuatu. Kalau tidak de-mikian, maka sesungguhnya perbedaan antara beribadah kepada Allah semata (tidak ada sekutu bagiNya) dengan praktik syirik ter-masuk perkara yang jelas lagi terang. Namun, lantaran tidak adanya ilmu pada kebanyakan orang tentang itu, maka terjadilah apa yang telah terjadi, berupa praktik syirik. Yusuf عليه السلام mengajak penghuni penjara untuk beribadah kepada Allah semata, dan mengikhlaskan agama bagiNya. Ini mengandung kemungkinan bahwa mereka ber-dua menyambut ajakan itu dan menaatinya, hingga kenikmatan Allah terwujud pada mereka berdua. Dan ada juga kemungkinan bahwa mereka tetap berada dalam kesyirikan mereka, sehingga hujjah telah tegak pada mereka berdua.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di