Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
Ibrahim : Ayat 12
"Belumkah sampai (kepada kamu) berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, 'Ad, Tsamud, dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka kecuali Allah. Telah datang rasul-rasul kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian), dan berkata, 'Sesungguhnya kami mengingkari sesuatu yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesung-guhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisah-kan terhadap sesuatu yang kamu ajak kami kepadanya.' Rasul-rasul mereka berkata, 'Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi, Dia menyeru kamu untuk memberi am-punan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)-mu sampai masa yang ditentukan.' Mereka berkata, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari sesuatu yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.' Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, 'Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. Dan tidak patut bagi kami mendatang-kan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang yang beriman itu bertawakal. Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami.' Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri." (Ibrahim: 9-12).
Tafsir As-Sa'di
(12) ﴾ وَمَا لَنَآ أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنَا سُبُلَنَاۚ ﴿ "Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami", apakah yang menghalangi kami untuk bertawakal kepada Allah? Sementara kondisi kami berada di atas kebenaran dan hidayah. Barangsiapa berada di atas kebenaran dan petunjuk, maka hidayah (yang dia genggam) akan mengarahkannya menuju kesempurnaan dalam bertawakal. Begitu pula yang telah diketahui, bahwa Allah akan menjamin untuk menolong dan menangani urusan orang yang mendapatkan hidayah, yang menyeru kepadanya. Berbeda halnya dengan orang yang tidak berdiri di atas kebenaran dan hidayah, maka dia bukan orang yang dijamin oleh Allah. Sepak terjangnya berlawanan dengan karakter orang yang bertawakal.
Dalam ucapan ini, sepertinya terdapat sinyal dari para rasul k kepada kaumnya dengan sebuah ayat yang agung, yaitu bahwa kaum mereka pada umumnya, mempunyai hegemoni dan penguasa-an atas para rasul. Maka para rasul itu menantang mereka (dengan bertawakal kepada Allah) dalam menghadapi tipu daya dan makar orang-orang yang mendustakan. Para rasul merasa benar-benar yakin dengan pertolongan Allah bagi mereka. Sungguh, Allah telah membebaskan mereka dari kejahatan kaumnya, padahal mereka begitu semangat dalam menghabisi para rasul dan memadamkan cahaya kebenaran yang mereka bawa. Sehingga ini laksana perkata-an Nuh kepada kaumnya,
﴾ يَٰقَوۡمِ إِن كَانَ كَبُرَ عَلَيۡكُم مَّقَامِي وَتَذۡكِيرِي بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَعَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡتُ فَأَجۡمِعُوٓاْ أَمۡرَكُمۡ وَشُرَكَآءَكُمۡ ثُمَّ لَا يَكُنۡ أَمۡرُكُمۡ عَلَيۡكُمۡ غُمَّةٗ ثُمَّ ٱقۡضُوٓاْ إِلَيَّ وَلَا تُنظِرُونِ 71 ﴿
"Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal. Karena itu bulatkanlah keputusanmu (untuk membinasa-kanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku." (Yu-nus: 71).
Dan seperti perkataan Hud عليه السلام,
﴾ قَالَ إِنِّيٓ أُشۡهِدُ ٱللَّهَ وَٱشۡهَدُوٓاْ أَنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ 54 مِن دُونِهِۦۖ فَكِيدُونِي جَمِيعٗا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ 55 ﴿
"Dia berkata, 'Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selainNya. Sebab itu, jalankanlah tipu dayamu semua-nya terhadapku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku." (Hud: 54-55).
﴾ وَلَنَصۡبِرَنَّ عَلَىٰ مَآ ءَاذَيۡتُمُونَاۚ ﴿ "Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami", kami akan (tetap) melanjutkan dakwah kepada kalian dan menasihati serta mengingatkan kalian. Kami tidak peduli dengan gangguan yang kalian gencarkan kepada kami. Kami akan menempa diri kami untuk menghadapi siksaan yang kami peroleh dari kalian, karena mengharapkan pahala dari Allah, dan demi untuk menasihati ka-lian. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kalian melalui banyaknya peringatan. ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah", ke-padaNya semata, bukan selainNya ﴾ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُتَوَكِّلُونَ ﴿ "orang-orang yang bertawakal itu berserah diri", karena bertawakal kepadaNya merupa-kan kunci segala kebaikan.
Ketahuilah, bahwa tingkatan tawakal para rasul k itu sudah berada di level paling atas dan kedudukan paling mulia. Yakni ta-wakal kepada Allah dalam menegakkan agamaNya, membela dan memberi hidayah kepada para hambaNya, serta dalam upaya peng-hapusan kesesatan dari mereka. Ini merupakan bentuk tawakal yang paling sempurna.
Dalam ucapan ini, sepertinya terdapat sinyal dari para rasul k kepada kaumnya dengan sebuah ayat yang agung, yaitu bahwa kaum mereka pada umumnya, mempunyai hegemoni dan penguasa-an atas para rasul. Maka para rasul itu menantang mereka (dengan bertawakal kepada Allah) dalam menghadapi tipu daya dan makar orang-orang yang mendustakan. Para rasul merasa benar-benar yakin dengan pertolongan Allah bagi mereka. Sungguh, Allah telah membebaskan mereka dari kejahatan kaumnya, padahal mereka begitu semangat dalam menghabisi para rasul dan memadamkan cahaya kebenaran yang mereka bawa. Sehingga ini laksana perkata-an Nuh kepada kaumnya,
﴾ يَٰقَوۡمِ إِن كَانَ كَبُرَ عَلَيۡكُم مَّقَامِي وَتَذۡكِيرِي بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَعَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلۡتُ فَأَجۡمِعُوٓاْ أَمۡرَكُمۡ وَشُرَكَآءَكُمۡ ثُمَّ لَا يَكُنۡ أَمۡرُكُمۡ عَلَيۡكُمۡ غُمَّةٗ ثُمَّ ٱقۡضُوٓاْ إِلَيَّ وَلَا تُنظِرُونِ 71 ﴿
"Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal. Karena itu bulatkanlah keputusanmu (untuk membinasa-kanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku." (Yu-nus: 71).
Dan seperti perkataan Hud عليه السلام,
﴾ قَالَ إِنِّيٓ أُشۡهِدُ ٱللَّهَ وَٱشۡهَدُوٓاْ أَنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ 54 مِن دُونِهِۦۖ فَكِيدُونِي جَمِيعٗا ثُمَّ لَا تُنظِرُونِ 55 ﴿
"Dia berkata, 'Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selainNya. Sebab itu, jalankanlah tipu dayamu semua-nya terhadapku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku." (Hud: 54-55).
﴾ وَلَنَصۡبِرَنَّ عَلَىٰ مَآ ءَاذَيۡتُمُونَاۚ ﴿ "Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami", kami akan (tetap) melanjutkan dakwah kepada kalian dan menasihati serta mengingatkan kalian. Kami tidak peduli dengan gangguan yang kalian gencarkan kepada kami. Kami akan menempa diri kami untuk menghadapi siksaan yang kami peroleh dari kalian, karena mengharapkan pahala dari Allah, dan demi untuk menasihati ka-lian. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kalian melalui banyaknya peringatan. ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah", ke-padaNya semata, bukan selainNya ﴾ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُتَوَكِّلُونَ ﴿ "orang-orang yang bertawakal itu berserah diri", karena bertawakal kepadaNya merupa-kan kunci segala kebaikan.
Ketahuilah, bahwa tingkatan tawakal para rasul k itu sudah berada di level paling atas dan kedudukan paling mulia. Yakni ta-wakal kepada Allah dalam menegakkan agamaNya, membela dan memberi hidayah kepada para hambaNya, serta dalam upaya peng-hapusan kesesatan dari mereka. Ini merupakan bentuk tawakal yang paling sempurna.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di