Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di

An-Nahl : Ayat 75

"Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rizki kepada mereka sedikit pun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit pun). Maka janganlah kamu meng-adakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Allah membuat perumpamaan de-ngan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat ber-tindak terhadap sesuatu pun dan seorang yang Kami beri rizki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rizki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan. Adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah. Tetapi kebanyakan mereka tidak me-ngetahui. Dan Allah membuat (pula) perumpamaan dua orang le-laki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun, dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja ia disuruh oleh penanggungnya itu, niscaya dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?" (An-Nahl: 73-76).
Tafsir As-Sa'di
(75) Pertama, budak yang dimiliki (orang): Yaitu orang yang tidak merdeka, tidak memiliki dirinya sendiri dan juga tidak bisa memiliki hak kepemilikan harta maupun dunia sedikit pun. Kedua, orang yang merdeka lagi mempunyai kekayaan. Ia telah menerima rizki yang baik-baik dari Allah dari berbagai bentuk kekayaan. Orang ini, dermawan, suka berbuat baik, menyumbang secara sem-bunyi-sembunyi dan terang-terangan. Apakah dua orang ini sama? Tidak sama, padahal keduanya adalah makhluk yang tidak menu-tup kemungkinan terjadinya sifat persamaan antara keduanya. Apa-bila dua obyek ini saja tidak sama, lalu bagaimana bisa seorang makhluk yang dimiliki, yang tidak mempunyai kerajaan, kekuasa-an dan kemampuan, bahkan makhluk itu sangat membutuhkan (pertolongan pihak lain) dari segala aspek, disamakan dengan Rabb, Pencipta, Pemilik segenap kerajaan dan Mahakuasa atas segala sesuatu? Karena itu, Allah menyanjung DzatNya dan memegang sendiri keistimewaan pujian dengan segala jenisnya. Allah berfirman, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِۚ ﴿ "Segala puji hanya bagi Allah," jadi, seolah-olah dikatakan, "Bila faktanya demikian, mengapa kaum musyrikin menyamakan sesembahan-sesembahan mereka dengan Allah?" Allah berfirman, ﴾ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui," seki-ranya mereka mengetahui dengan sebenarnya, niscaya mereka tidak akan berani berbuat kesyirikan yang besar.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di