Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di

Maryam : Ayat 61

"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu-nya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun. Yaitu surga 'Adn yang telah dijanjikan oleh Dzat Yang Maha Pemurah kepada hamba-hambaNya, dengan (cara) ghaib. Sesung-guhnya janji Allah itu pasti akan ditepati. Mereka tidak mende-ngar perkataan yang tak berguna di dalam surga, kecuali ucapan salam. Mereka mendapatkan rizkinya di surga itu tiap-tiap pagi dan petang. Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa." (Maryam: 59-63).
Tafsir As-Sa'di
(61) Kemudian Allah menyebutkan bahwa surga (taman) yang dijanjikan untuk dimasuki tidaklah seperti taman-taman yang lain. Akan tetapi ﴾ جَنَّٰتِ عَدۡنٍ ﴿ "Surga 'Adn," yaitu surga tempat hunian tetap, tidak akan pernah ditinggalkan, tidak akan pernah diganti dan tidak akan lenyap. Hal ini disebabkan oleh luasnya surga itu serta besarnya kuantitas kenikmatan padanya, berupa kebaikan-kebaikan, kegembiraan, kebahagiaan, dan kesenangan, serta keceriaan, ﴾ ٱلَّتِي وَعَدَ ٱلرَّحۡمَٰنُ عِبَادَهُۥ بِٱلۡغَيۡبِۚ ﴿ "yang telah dijanjikan oleh ar-Rahman (Yang Maha Pemurah) kepada hamba-hambaNya, dengan (cara) ghaib," yaitu surga yang dijanjikan oleh ar-Rahman. Allah merang-kaikan kata surga dengan namaNya, ar-Rahman, karena di dalam Surga 'Adn itu terdapat curahan rahmat dan kebaikan yang tidak pernah terlihat mata, tidak pernah terdengar telinga dan tidak terlintas dalam benak manusia. Allah juga menamakan surga ini sebagai rahmatNya. Allah berfirman,
﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ ٱبۡيَضَّتۡ وُجُوهُهُمۡ فَفِي رَحۡمَةِ ٱللَّهِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ 107 ﴿
"Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya." (Ali Imran: 107).
Begitu pula, pada penggandengan kata surga dengan nama ar-Rahman, terdapat isyarat yang menunjukkan kontinyuitas keba-hagiaan di dalamnya, dan bahwa surga itu abadi dengan keabadian rahmat Allah yang merupakan pengaruh dan konsekuensi rahmat-Nya.
Kata اَلْعِبَادُ (hamba-hamba) dalam ayat ini maksudnya adalah hamba dari ketuhanannya (ilahiyah) Allah, yaitu para hamba yang senantiasa beribadah kepada Allah dan konsisten melaksanakan syariatNya. Sehingga اَلْعُبُوْدِيَّةُ (penghambaan diri kepada Allah) men-jadi predikat mereka, sebagaimana Firman Allah,
﴾ وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ …﴿
"Dan hamba-hamba dari Dzat Yang Maha Penyayang itu …." (Al-Furqan: 63),
dan ayat-ayat yang semisalnya. Berbeda dengan "para hamba Allah" dalam konteks kepemilikan semata, yang tidak pernah beribadah kepadaNya. Mereka ini meskipun sebagai hamba dari pengaturan (rububiyah) Allah karena Allah telah menciptakan mereka, memberi rizki dan mengatur mereka, namun mereka ini tidak termasuk dalam golongan hamba al-uluhiyah al-ubudiyah al-ikhtiyariyah (hamba yang beribadah karena kemauan sendiri) yang pelakunya berhak mendapatkan pujian. Mereka menghambakan diri karena terpaksa, mereka tidak berhak mendapat pujian sama sekali.
Firman Allah, ﴾ بِٱلۡغَيۡبِۚ ﴿ "dengan (cara) ghaib," ada kemungkinan kata ini berhubungan dengan ﴾ وَعَدَ ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "yang dijanjikan oleh Dzat Yang Maha Pemurah". Berdasarkan ini, maka pengertiannya adalah bahwa janji Allah untuk memberikan surga kepada mereka itu me-rupakan janji ghaib yang belum pernah mereka saksikan dan lihat. Namun, mereka mengimaninya, meyakini ketidaktampakannya, dan mereka pun berusaha menggapainya dengan sekuat tenaga, padahal mereka belum pernah melihatnya. Lalu, bagaimanakah seandainya mereka pernah melihatnya? Sudah pasti, mereka akan lebih antusias lagi untuk mendapatkannya, lebih termotivasi lagi dan akan lebih giat lagi berusaha. Sehingga ini merupakan pujian bagi mereka dengan sebab keimanan mereka terhadap perkara yang ghaib, yang merupakan keimanan yang bermanfaat.
Ada kemungkinan juga, ﴾ بِٱلۡغَيۡبِۚ ﴿ "dengan (cara) ghaib," berkait-an dengan kata عِبَادَهُ (para hambaNya), yakni orang-orang yang ber-ibadah kepadaNya secara ghaib (secara tidak langsung [mengha-dapNya]), dan mereka tidak dapat melihatNya. Inilah ibadah mereka, padahal tidak pernah melihatNya. Seandainya mereka pernah me-lihatNya, maka pasti mereka lebih rajin untuk beribadah kepada-Nya, lebih besar taubat mereka kepadaNya, lebih agung kecintaan dan kerinduan mereka kepadaNya.
Ada kemungkinan pengertian ayat ini bahwasanya surga-surga yang dijanjikan oleh Allah kepada para hambaNya termasuk sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh imajinasi-imajinasi (manu-sia) dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Dalam cara (pengungkapan seperti) ini terdapat upaya membangkitkan kerin-duan kepadanya, dan sifat (gambaran) yang masih global yang berpotensi menyulut jiwa-jiwa dan menggairahkan (jiwa yang) diam agar mencarinya. Sehingga ini sama dengan Firman Allah,
﴾ فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 17 ﴿
"Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (As- Sajdah: 17).
Semua makna ini benar, akan tetapi kemungkinan pengertian pertama lebih utama. Dalilnya adalah Firman Allah ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ وَعۡدُهُۥ مَأۡتِيّٗا ﴿ "Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati," maksudnya pasti terjadi. Sesungguhnya Allah tidak pernah mengingkari janji, dan Allah itu sebenar-benarnya Dzat yang berkata.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di