Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
Al-Baqara : Ayat 177
Tafsir As-Sa'di
"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan me-nunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, pen-deritaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (Al-Baqarah: 177).
(177) Allah تعالى berfirman, ﴾ لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ ﴿ "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan," maksudnya, hal itu bukanlah suatu kebajikan yang dimaksudkan dari hamba, sehingga banyaknya pembahasan dan perdebatan tentangnya adalah merupakan usaha yang melelahkan yang tidak menghasilkan kecuali perpecahan dan perselisihan. Ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ,
لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.
"Bukanlah orang yang perkasa itu adalah dengan perkelahian, akan tetapi orang yang perkasa itu adalah orang yang mampu menahan dirinya di saat marah,"[5]
dan hadits-hadits yang semacamnya, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ ﴿ "akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah," maksudnya, bahwa Dia adalah Tuhan yang Esa yang memiliki sifat dengan segala sifat kesempurnaan dan terlepas dari segala kekurangan, ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ ﴿ "dan Hari Akhir," yaitu segala hal yang dikabarkan oleh Allah tentangnya dalam kitabNya, atau apa yang telah dikabarkan oleh RasulNya dari hal-hal yang terjadi setelah kematian, ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ ﴿ "dan para malaikat," yang dijelaskan sifat mereka oleh Allah kepada kita dalam kitabNya dan dijelaskan juga oleh RasulNya ﷺ, ﴾ وَٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "dan al-Kitab," yaitu jenis kitab-kitab yang telah diturunkan oleh Allah kepada Rasul-rasulNya, dan yang paling agung adalah al-Qur`an. Maka ia beriman kepada hal-hal yang dikandung olehnya dari kabar maupun hukum. ﴾ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ ﴿ "Dan para Nabi" secara umum, dan khususnya penutup mereka dan paling mulia dari mereka, yaitu Muhammad ﷺ, ﴾ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ ﴿ "dan memberikan harta," yaitu selu-ruh harta yang dikumpulkan oleh manusia sedikit maupun banyak, maksudnya ia memberikan harta ﴾ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "yang dicintainya," yaitu cinta harta.
Allah تعالى menjelaskan dengan hal ini bahwa harta itu sangat dicintai oleh jiwa dan sebenarnya seorang hamba tidak mau menge-luarkannya, barangsiapa yang mengeluarkannya padahal ia sangat mencintainya dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah, maka hal ini adalah sebagai tanda bagi keimanannya, dan di antara memberikan harta yang dicintainya adalah bersedekah saat dia dalam kondisi sehat lagi kikir yang mana ia sangat mengharapkan kekayaan dan takut dari kemiskinan. Demikian juga bila sedekah dikeluarkan ketika dalam kondisi kekurangan, niscaya itu lebih utama, karena dalam kondisi seperti ini, ia lebih suka menyimpan-nya, ketika ia mencemaskan akan terjadinya kefakiran dan kepapa-an. Demikian pula mengeluarkan barang yang paling berharga dari hartanya dan apa yang ia cintai dari hartanya tersebut sebagaimana Allah berfirman,
﴾ لَن تَنَالُواْ ٱلۡبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَۚ ﴿
"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai." (Ali Imran: 92).
Setiap mereka itu adalah di antara orang-orang yang mem-berikan harta yang ia cintai.
Kemudian Allah menjelaskan tentang orang-orang yang ber-hak menerima infak, yaitu orang-orang yang paling utama untuk diberikan kebajikan dan bakti dari kerabat, yang menyentuh hati-mu karena musibah mereka dan membahagiakanmu dengan keba-hagiaan mereka, yaitu yang saling menolong dan saling bersekutu. Maka di antara kebajikan yang paling baik dan paling tepat adalah mengadakan kebajikan terhadap karib kerabat, baik dengan harta maupun perkataan menurut kedekatan dan kebutuhan mereka. Dan di antara mereka adalah ﴾ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ ﴿ "anak-anak yatim" yang tidak memiliki orang yang mencarikan harta untuk mereka dan tidak memiliki kemampuan yang dapat dijadikan sandaran. Ini adalah di antara rahmat Allah تعالى terhadap hamba-hambaNya yang me-nunjukkan bahwasanya Allah تعالى sangat sayang kepada mereka daripada sayangnya seorang ayah kepada anaknya. Allah telah mewasiatkan kepada hamba-hambaNya, lalu mewajibkan mereka untuk berbuat kebajikan dengan hartanya kepada orang-orang yang kehilangan ayah mereka, agar anak-anak itu seperti anak-anak yang tidak kehilangan kedua orang tuanya, dan karena balasan itu sesuai dengan jenis perbuatannya, yakni barangsiapa yang menya-yangi seorang anak yatim orang lain, niscaya anak yatimnya akan disayangi oleh orang lain.
﴾ وَٱلۡمَسَٰكِينَ ﴿ "Dan orang-orang miskin," yaitu mereka yang dililit kebutuhan dan dihinakan oleh kemiskinan, maka mereka memiliki hak atas orang-orang kaya dalam mencukupi kebutuhan mereka atau meringankannya, sesuai dengan kemampuan dan kelapangan mereka.
﴾ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Dan musafir (yang memerlukan pertolongan)," yaitu orang asing yang kehabisan bekal di luar negerinya sendiri. Allah menganjurkan hamba-hambaNya untuk memberikan kepadanya beberapa harta yang dapat membantunya dalam perjalanannya, karena perjalanan itu merupakan kondisi yang membutuhkan bantuan dan banyaknya pengeluaran. Oleh karena itu, wajiblah atas orang yang telah diberikan nikmat oleh Allah pada negerinya dengan segala kemakmurannya dan Allah karuniakan nikmatNya kepadanya agar dia juga bersikap rahmat kepada saudaranya yang asing tersebut menurut kadar kemampuannya, walaupun hanya membekalinya sedikit atau memberikannya sebuah alat perjalanan atau sebuah alat yang dapat menghindarkan dirinya dari kesewe-nang-wenangan, dan lain sebagainya.
﴾ وَٱلسَّآئِلِينَ ﴿ "Dan orang-orang yang meminta-minta," yakni orang-orang yang meminta-minta karena suatu kebutuhan mendesak yang menyebabkan mereka melakukannya, seperti seorang yang diuji dengan denda suatu kejahatan atau beban pajak dari peme-rintah, atau dia meminta-minta kepada manusia untuk memajukan kemaslahatan umum seperti masjid, sekolah, jembatan, dan sema-camnya. Maka yang seperti ini memiliki hak walaupun ia adalah orang kaya.
﴾ وَفِي ٱلرِّقَابِ ﴿ "Dan (memerdekakan) hamba sahaya," termasuk di dalamnya adalah pembebasan budak dan membantunya serta mengusahakan harta untuk seorang budak yang membayar kebe-basannya agar ia mampu menunaikan bayaran kepada tuannya, atau menebus tawanan Muslimin dari kaum kafir atau kaum zhalim.
﴾ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "Dan mendirikan Shalat dan menunaikan Zakat." Telah sering diterangkan bahwa Allah تعالى menyatukan antara Shalat dan Zakat, karena kedua hal itu adalah sebaik-baik ibadah dan pendekatan diri kepada Allah yang paling sempurna karena memuat ibadah hati, tubuh, dan harta. Dan dengan kedua-nya iman seseorang ditakar dan keyakinan yang ada pada pelaku-nya dapat diukur.
﴾ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ ﴿ "Dan orang-orang yang menepati janjinya bila berjanji." Janji adalah komitmen terhadap apa yang telah diwa-jibkan oleh Allah atau diwajibkan oleh hamba itu sendiri, maka termasuk dalam hal itu adalah seluruh hak-hak Allah, karena Allah telah mewajibkan semuanya atas hamba-hambaNya dan mereka berkomitmen terhadapnya, di mana mereka masuk dalam janji tersebut dan wajib atas mereka untuk menunaikannya, dan juga hak-hak hamba yang telah diwajibkan oleh Allah atas mereka dan hak-hak yang telah diwajibkan oleh seorang hamba sendiri, seperti sumpah dan nadzar atau semacamnya.
﴾ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ ﴿ "Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan," yakni, kemiskinan, karena orang yang miskin membutuhkan kesa-baran dalam banyak aspek, dari apa yang didapatkannya berupa kepedihan hati dan tubuh, yang berkesinambungan yang tidak dirasakan oleh selainnya; apabila seorang kaya menikmati apa yang tidak mampu dinikmatinya, ia akan bersedih, dan apabila ia lapar atau keluarganya lapar, ia pun bersedih, apabila ia makan suatu makanan yang tidak sesuai dengan seleranya, ia bersedih, apabila ia tanpa busana atau hampir tanpa busana ia bersedih, apabila ia melihat apa yang ada pada dirinya dan apa yang ia pre-diksikan pada masa mendatang yang harus dipersiapkan olehnya ia akan bersedih, apabila ia merasa dingin yang tidak mampu ia kendalikan ia bersedih.
Seluruh hal tersebut dan yang semacamnya adalah musibah-musibah yang ia diperintahkan untuk bersabar atasnya, berangan akhirat, mengharap pahala dari Allah terhadapnya, ﴾ وَٱلضَّرَّآءِ ﴿ "dan penderitaan," yaitu penyakit dalam berbagai macamnya seperti demam, luka, masuk angin, atau sakit pada suatu anggota tubuh hingga gigi, jari jemari, dan yang semacamnya, di mana dibutuh-kan untuk bersabar atas semua itu, karena jiwa itu lemah dan tubuh merasakan sakit, dan hal itu adalah suatu yang paling sulit bagi jiwa. Terlebih ketika hal itu terjadi lebih lama, maka diperintahkan untuk bersabar atasnya dengan mengharap pahala dari Allah تعالى. ﴾ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ ﴿ "Dan dalam peperangan," yakni saat berperang mengha-dapi musuh-musuh yang diperintahkan untuk diperangi, karena ketegaran itu sangatlah sulit sekali bagi jiwa, dan manusia akan mengalami kegoncangan dari pembunuhan, luka, atau tertawan, maka dibutuhkan kesabaran atas semua itu dengan maksud meng-harap pahala dari Allah تعالى yang dariNya-lah pertolongan dan bantuan yang telah dijanjikan didapatkan bagi orang-orang yang bersabar.
﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," yaitu orang-orang yang memiliki sifat sebagaimana yang telah disebutkan dari keyakinan-keyakinan yang baik, perbuatan yang merupakan pengaruh dari keimanan, bukti nyata dan cahayanya, dan akhlak yang merupakan keindahan dan hakikat kemanusiaan; mereka itulah ﴾ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ ﴿ "orang-orang yang benar" dalam keimanan mereka, karena perbuatan-perbuatan me-reka membenarkan keimanan mereka, ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ ﴿ "dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa," karena mereka meninggalkan hal-hal yang dilarang dan mengerjakan yang diperintahkan, karena perkara-perkara itu meliputi segala unsur-unsur kebaikan, baik secara prediksi maupun yang pasti. Menunaikan janji termasuk menunaikan seluruh ajaran agama, dan karena ibadah-ibadah yang telah ditetapkan oleh nash-nash dalam ayat ini merupakan ibadah yang paling besar, dan barangsiapa yang menunaikannya, niscaya ia akan lebih mampu menunaikan ibadah-ibadah mereka, mereka itulah orang-orang yang baik, benar, dan bertakwa.
Sesungguhnya telah diketahui bahwa apa yang akan diberikan oleh Allah atas ketiga perkara tersebut dari pahala duniawi mau-pun ukhrawi tidak mungkin dapat dirinci dalam pembahasan ini.
(177) Allah تعالى berfirman, ﴾ لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ ﴿ "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan," maksudnya, hal itu bukanlah suatu kebajikan yang dimaksudkan dari hamba, sehingga banyaknya pembahasan dan perdebatan tentangnya adalah merupakan usaha yang melelahkan yang tidak menghasilkan kecuali perpecahan dan perselisihan. Ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ,
لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.
"Bukanlah orang yang perkasa itu adalah dengan perkelahian, akan tetapi orang yang perkasa itu adalah orang yang mampu menahan dirinya di saat marah,"[5]
dan hadits-hadits yang semacamnya, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ ﴿ "akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah," maksudnya, bahwa Dia adalah Tuhan yang Esa yang memiliki sifat dengan segala sifat kesempurnaan dan terlepas dari segala kekurangan, ﴾ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ ﴿ "dan Hari Akhir," yaitu segala hal yang dikabarkan oleh Allah tentangnya dalam kitabNya, atau apa yang telah dikabarkan oleh RasulNya dari hal-hal yang terjadi setelah kematian, ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ ﴿ "dan para malaikat," yang dijelaskan sifat mereka oleh Allah kepada kita dalam kitabNya dan dijelaskan juga oleh RasulNya ﷺ, ﴾ وَٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "dan al-Kitab," yaitu jenis kitab-kitab yang telah diturunkan oleh Allah kepada Rasul-rasulNya, dan yang paling agung adalah al-Qur`an. Maka ia beriman kepada hal-hal yang dikandung olehnya dari kabar maupun hukum. ﴾ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ ﴿ "Dan para Nabi" secara umum, dan khususnya penutup mereka dan paling mulia dari mereka, yaitu Muhammad ﷺ, ﴾ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ ﴿ "dan memberikan harta," yaitu selu-ruh harta yang dikumpulkan oleh manusia sedikit maupun banyak, maksudnya ia memberikan harta ﴾ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ﴿ "yang dicintainya," yaitu cinta harta.
Allah تعالى menjelaskan dengan hal ini bahwa harta itu sangat dicintai oleh jiwa dan sebenarnya seorang hamba tidak mau menge-luarkannya, barangsiapa yang mengeluarkannya padahal ia sangat mencintainya dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah, maka hal ini adalah sebagai tanda bagi keimanannya, dan di antara memberikan harta yang dicintainya adalah bersedekah saat dia dalam kondisi sehat lagi kikir yang mana ia sangat mengharapkan kekayaan dan takut dari kemiskinan. Demikian juga bila sedekah dikeluarkan ketika dalam kondisi kekurangan, niscaya itu lebih utama, karena dalam kondisi seperti ini, ia lebih suka menyimpan-nya, ketika ia mencemaskan akan terjadinya kefakiran dan kepapa-an. Demikian pula mengeluarkan barang yang paling berharga dari hartanya dan apa yang ia cintai dari hartanya tersebut sebagaimana Allah berfirman,
﴾ لَن تَنَالُواْ ٱلۡبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَۚ ﴿
"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai." (Ali Imran: 92).
Setiap mereka itu adalah di antara orang-orang yang mem-berikan harta yang ia cintai.
Kemudian Allah menjelaskan tentang orang-orang yang ber-hak menerima infak, yaitu orang-orang yang paling utama untuk diberikan kebajikan dan bakti dari kerabat, yang menyentuh hati-mu karena musibah mereka dan membahagiakanmu dengan keba-hagiaan mereka, yaitu yang saling menolong dan saling bersekutu. Maka di antara kebajikan yang paling baik dan paling tepat adalah mengadakan kebajikan terhadap karib kerabat, baik dengan harta maupun perkataan menurut kedekatan dan kebutuhan mereka. Dan di antara mereka adalah ﴾ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ ﴿ "anak-anak yatim" yang tidak memiliki orang yang mencarikan harta untuk mereka dan tidak memiliki kemampuan yang dapat dijadikan sandaran. Ini adalah di antara rahmat Allah تعالى terhadap hamba-hambaNya yang me-nunjukkan bahwasanya Allah تعالى sangat sayang kepada mereka daripada sayangnya seorang ayah kepada anaknya. Allah telah mewasiatkan kepada hamba-hambaNya, lalu mewajibkan mereka untuk berbuat kebajikan dengan hartanya kepada orang-orang yang kehilangan ayah mereka, agar anak-anak itu seperti anak-anak yang tidak kehilangan kedua orang tuanya, dan karena balasan itu sesuai dengan jenis perbuatannya, yakni barangsiapa yang menya-yangi seorang anak yatim orang lain, niscaya anak yatimnya akan disayangi oleh orang lain.
﴾ وَٱلۡمَسَٰكِينَ ﴿ "Dan orang-orang miskin," yaitu mereka yang dililit kebutuhan dan dihinakan oleh kemiskinan, maka mereka memiliki hak atas orang-orang kaya dalam mencukupi kebutuhan mereka atau meringankannya, sesuai dengan kemampuan dan kelapangan mereka.
﴾ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Dan musafir (yang memerlukan pertolongan)," yaitu orang asing yang kehabisan bekal di luar negerinya sendiri. Allah menganjurkan hamba-hambaNya untuk memberikan kepadanya beberapa harta yang dapat membantunya dalam perjalanannya, karena perjalanan itu merupakan kondisi yang membutuhkan bantuan dan banyaknya pengeluaran. Oleh karena itu, wajiblah atas orang yang telah diberikan nikmat oleh Allah pada negerinya dengan segala kemakmurannya dan Allah karuniakan nikmatNya kepadanya agar dia juga bersikap rahmat kepada saudaranya yang asing tersebut menurut kadar kemampuannya, walaupun hanya membekalinya sedikit atau memberikannya sebuah alat perjalanan atau sebuah alat yang dapat menghindarkan dirinya dari kesewe-nang-wenangan, dan lain sebagainya.
﴾ وَٱلسَّآئِلِينَ ﴿ "Dan orang-orang yang meminta-minta," yakni orang-orang yang meminta-minta karena suatu kebutuhan mendesak yang menyebabkan mereka melakukannya, seperti seorang yang diuji dengan denda suatu kejahatan atau beban pajak dari peme-rintah, atau dia meminta-minta kepada manusia untuk memajukan kemaslahatan umum seperti masjid, sekolah, jembatan, dan sema-camnya. Maka yang seperti ini memiliki hak walaupun ia adalah orang kaya.
﴾ وَفِي ٱلرِّقَابِ ﴿ "Dan (memerdekakan) hamba sahaya," termasuk di dalamnya adalah pembebasan budak dan membantunya serta mengusahakan harta untuk seorang budak yang membayar kebe-basannya agar ia mampu menunaikan bayaran kepada tuannya, atau menebus tawanan Muslimin dari kaum kafir atau kaum zhalim.
﴾ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "Dan mendirikan Shalat dan menunaikan Zakat." Telah sering diterangkan bahwa Allah تعالى menyatukan antara Shalat dan Zakat, karena kedua hal itu adalah sebaik-baik ibadah dan pendekatan diri kepada Allah yang paling sempurna karena memuat ibadah hati, tubuh, dan harta. Dan dengan kedua-nya iman seseorang ditakar dan keyakinan yang ada pada pelaku-nya dapat diukur.
﴾ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ ﴿ "Dan orang-orang yang menepati janjinya bila berjanji." Janji adalah komitmen terhadap apa yang telah diwa-jibkan oleh Allah atau diwajibkan oleh hamba itu sendiri, maka termasuk dalam hal itu adalah seluruh hak-hak Allah, karena Allah telah mewajibkan semuanya atas hamba-hambaNya dan mereka berkomitmen terhadapnya, di mana mereka masuk dalam janji tersebut dan wajib atas mereka untuk menunaikannya, dan juga hak-hak hamba yang telah diwajibkan oleh Allah atas mereka dan hak-hak yang telah diwajibkan oleh seorang hamba sendiri, seperti sumpah dan nadzar atau semacamnya.
﴾ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ ﴿ "Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan," yakni, kemiskinan, karena orang yang miskin membutuhkan kesa-baran dalam banyak aspek, dari apa yang didapatkannya berupa kepedihan hati dan tubuh, yang berkesinambungan yang tidak dirasakan oleh selainnya; apabila seorang kaya menikmati apa yang tidak mampu dinikmatinya, ia akan bersedih, dan apabila ia lapar atau keluarganya lapar, ia pun bersedih, apabila ia makan suatu makanan yang tidak sesuai dengan seleranya, ia bersedih, apabila ia tanpa busana atau hampir tanpa busana ia bersedih, apabila ia melihat apa yang ada pada dirinya dan apa yang ia pre-diksikan pada masa mendatang yang harus dipersiapkan olehnya ia akan bersedih, apabila ia merasa dingin yang tidak mampu ia kendalikan ia bersedih.
Seluruh hal tersebut dan yang semacamnya adalah musibah-musibah yang ia diperintahkan untuk bersabar atasnya, berangan akhirat, mengharap pahala dari Allah terhadapnya, ﴾ وَٱلضَّرَّآءِ ﴿ "dan penderitaan," yaitu penyakit dalam berbagai macamnya seperti demam, luka, masuk angin, atau sakit pada suatu anggota tubuh hingga gigi, jari jemari, dan yang semacamnya, di mana dibutuh-kan untuk bersabar atas semua itu, karena jiwa itu lemah dan tubuh merasakan sakit, dan hal itu adalah suatu yang paling sulit bagi jiwa. Terlebih ketika hal itu terjadi lebih lama, maka diperintahkan untuk bersabar atasnya dengan mengharap pahala dari Allah تعالى. ﴾ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ ﴿ "Dan dalam peperangan," yakni saat berperang mengha-dapi musuh-musuh yang diperintahkan untuk diperangi, karena ketegaran itu sangatlah sulit sekali bagi jiwa, dan manusia akan mengalami kegoncangan dari pembunuhan, luka, atau tertawan, maka dibutuhkan kesabaran atas semua itu dengan maksud meng-harap pahala dari Allah تعالى yang dariNya-lah pertolongan dan bantuan yang telah dijanjikan didapatkan bagi orang-orang yang bersabar.
﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," yaitu orang-orang yang memiliki sifat sebagaimana yang telah disebutkan dari keyakinan-keyakinan yang baik, perbuatan yang merupakan pengaruh dari keimanan, bukti nyata dan cahayanya, dan akhlak yang merupakan keindahan dan hakikat kemanusiaan; mereka itulah ﴾ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ ﴿ "orang-orang yang benar" dalam keimanan mereka, karena perbuatan-perbuatan me-reka membenarkan keimanan mereka, ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ ﴿ "dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa," karena mereka meninggalkan hal-hal yang dilarang dan mengerjakan yang diperintahkan, karena perkara-perkara itu meliputi segala unsur-unsur kebaikan, baik secara prediksi maupun yang pasti. Menunaikan janji termasuk menunaikan seluruh ajaran agama, dan karena ibadah-ibadah yang telah ditetapkan oleh nash-nash dalam ayat ini merupakan ibadah yang paling besar, dan barangsiapa yang menunaikannya, niscaya ia akan lebih mampu menunaikan ibadah-ibadah mereka, mereka itulah orang-orang yang baik, benar, dan bertakwa.
Sesungguhnya telah diketahui bahwa apa yang akan diberikan oleh Allah atas ketiga perkara tersebut dari pahala duniawi mau-pun ukhrawi tidak mungkin dapat dirinci dalam pembahasan ini.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di