Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di

Al-Baqara : Ayat 3

"Alif lam mim. Kitab (al-Qur`an) ini tidak ada keraguan pada-nya; petunjuk (hidayah) bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan me-nafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur`an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan se-belummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung." (Al-Baqarah: 1-5).
Tafsir As-Sa'di
(3) ﴾ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ ﴿ "Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib." Hakikat keimanan adalah pembenaran yang total terhadap apa pun yang dikabarkan oleh para Rasul, yang meliputi ketundukan ang-gota tubuh. Perkara keimanan itu tidak hanya kepada hal-hal yang dapat diperoleh oleh panca indera semata, karena hal ini tidaklah mampu membedakan antara seorang Muslim dengan seorang kafir, namun perkara yang dianggap dalam keimanan kepada yang ghaib adalah yang tidak kita lihat dan tidak kita saksikan, namun kita hanya mengimaninya saja karena ada kabar dari Allah dan kabar dari RasulNya ﷺ.
Inilah keimanan yang mampu membedakan antara seorang Muslim dengan seorang kafir, karena itulah pembenaran yang utuh terhadap Allah dan Rasul-rasulNya. Maka seorang yang beriman adalah yang mengimani segala sesuatu yang dikabarkan oleh Allah atau yang dikabarkan oleh RasulNya, baik yang dia saksikan atau-pun tidak, baik dia mampu memahami dan masuk dalam akalnya, ataupun akal dan pemahamannya tidak mampu mencernanya. Berbeda dengan orang-orang atheis yang mendustakan[2] perkara-perkara ghaib, karena akal-akal mereka yang terbatas lagi lalai tidak sampai kepadanya, akhirnya mereka mendustakan apa yang tidak mampu dipahami oleh ilmu mereka, yang pada akhirnya rusaklah akal-akal mereka, sia-sialah harapan mereka, dan (sebaliknya) ber-sihlah akal kaum Mukminin yang membenarkan lagi mengambil hidayah dengan petunjuk Allah.
Dan termasuk dalam keimanan kepada yang ghaib adalah keimanan kepada seluruh kabar yang diberitakan oleh Allah dari hal-hal ghaib yang terdahulu maupun yang akan datang, kondisi-kondisi Hari Akhirat, hakikat sifat-sifat Allah dan bentuk-bentuk-nya, dan kabar yang diberikan oleh RasulNya tentang semua itu; di mana mereka beriman kepada sifat-sifat Allah dan keberadaannya, dan mereka meyakininya walaupun mereka tidak mampu mema-hami cara dan bentuknya.
Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Yang mendirikan shalat." Dia tidak berfirman, yang mengerjakan shalat, atau menjalankan shalat, karena sesungguhnya tidaklah cukup hanya sekedar men-jalankan dengan bentuknya yang lahir saja, karena mendirikan shalat yang dimaksud adalah mendirikan shalat secara lahir dengan menyempurnakan rukun-rukunnya, wajib-wajibnya, dan syarat-syaratnya, dan juga mendirikannya secara batin dengan mendirikan ruhnya yaitu dengan menghadirkan hati padanya, merenungi apa yang dibaca dan mengamalkannya. Maka shalat inilah yang dise-butkan dalam Firman Allah تعالى,
﴾ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ ﴿
"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar." (Al-Ankabut: 45).
Yaitu shalat yang memperoleh ganjaran. Maka tidak ada ganjaran bagi seorang hamba dari shalatnya kecuali apa yang dia pahami darinya, dan termasuk dalam shalat di sini adalah yang wajib maupun yang sunnah.
Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ﴿ "Dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka." Termasuk di dalamnya nafkah-nafkah yang wajib, seperti zakat, nafkah atas istri, keluarga dan para budak dan sebagainya, dan nafkah-nafkah yang dicintai dengan segala jalan kebaikan. Dan tidak disebutkan-nya hal-hal yang diinfakkan karena banyaknya sebab-sebabnya dan bermacam-macam penerimanya, dan karena nafkah itu pada dasarnya adalah sebuah ibadah kepada Allah. Dia juga disebutkan dengan kata "dari" yang menunjukkan makna sebagian, demi untuk mengingatkan mereka bahwasanya Allah tidak menghendaki dari mereka kecuali sebagian kecil saja dari harta-harta mereka yang tidak akan memudaratkan mereka dan tidak akan pula memberat-kan mereka, bahkan mereka akan mengambil manfaat dari infak mereka tersebut, dan saudara-saudara mereka juga akan dapat mengambil manfaat darinya. Dan dalam Firman Allah, ﴾ رَزَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "Rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka," terkandung sebuah isyarat bahwa harta yang ada di hadapanmu ini tidaklah diperoleh dari kekuatan dan kepemilikanmu, akan tetapi itu semua adalah rizki Allah yang dianugerahkan kepada kalian dan diberikanNya nikmat itu atas kalian. Maka karena nikmat yang diberikan oleh Allah atas kalian dan kemurahanNya terhadap kalian dibanding banyak hamba-hambaNya yang lain, maka bersyukurlah kepada-Nya dengan mengeluarkan sebagian nikmat yang diberikan atas kalian tersebut, dan hiburlah saudara-saudara kalian yang tidak memilikinya.
Dan sangatlah banyak sekali Allah menyatukan (menyanding-kan) shalat dengan zakat dalam al-Qur`an, karena shalat itu mengan-dung keikhlasan hanya kepada Dzat yang disembah, sedangkan zakat dan nafkah mengandung berbuat baik kepada sesama hamba-hambaNya. Maka tanda dari kebahagiaan seorang hamba adalah keikhlasannya kepada Dzat yang disembah dan usahanya dalam memberikan manfaat kepada manusia, sebagaimana tanda keseng-saraan seorang hamba adalah tidak adanya kedua perkara tersebut pada dirinya, tidak ada keikhlasan dan tidak pula perbuatan baik kepada sesama.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di