Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
Luqman : Ayat 27
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Tentu mereka akan menjawab, 'Allah.' Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah,' tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan ke-padanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan ha-nyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Luq-man: 25-27).
Tafsir As-Sa'di
(27) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang keluasan kalamNya dan keagungan FirmanNya dengan uraian yang me-nyentuh hati sedalam-dalamnya, akal pikiran menjadi tercengang kepadanya, jiwa menjadi terperangah padanya, dan orang-orang yang berakal dan berpengetahuan mendalam berpetualang dalam mengenalNya; seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡ أَنَّمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ مِن شَجَرَةٍ أَقۡلَٰمٞ ﴿ "Dan se-andainya pohon-pohon di bumi menjadi pena"untuk menulisnya ﴾ وَٱلۡبَحۡرُ يَمُدُّهُۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦ سَبۡعَةُ أَبۡحُرٖ ﴿ "dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut lagi sesudah (kering)nya," sebagai tinta untuk tambahannya, niscaya pena-pena itu akan remuk dan tinta itu akan habis, sedang-kan ﴾ كَلِمَٰتُ ٱللَّهِۚ ﴿ "kalimat Allah" tidak akan ada habis-habisnya.
Ini bukan ungkapan berlebihan yang tidak mempunyai ke-nyataan, akan tetapi ketika Allah سبحانه وتعالى mengetahui bahwasanya akal manusia tidak akan mampu mengetahui sebagian sifat-sifatNya dan Dia mengetahui bahwa mengenalNya bagi hamba-hambaNya adalah merupakan nikmat yang paling utama yang dikaruniakan-Nya kepada mereka, dan merupakan tingkat yang paling mulia yang mereka raih, sementara pengetahuannya itu tidak mencakup keseluruhannya, akan tetapi apa yang tidak bisa dicapai keselu-ruhannya maka tidak patut ditinggalkan semuanya, maka Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka dengan sebagiannya sebagai suatu peringat-an yang mana hati mereka dapat menjadi terang dan dada mereka menjadi lapang, dan mereka berdalil (berargumen) dengan apa yang telah mereka capai kepada apa yang belum mereka capai dan mengatakan seperti apa yang telah dikatakan oleh orang yang paling utama dan lebih mengetahui Rabbnya dari mereka,
لَا نُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ.
"Kami tidak akan mampu menghitung pujian untukMu, Engkau sebagaimana yang Engkau pujikan pada diriMu."[50]
Dan bila tidak demikian, maka sesungguhnya permasalahan-nya lebih besar dan lebih agung dari itu.
Perumpamaan tersebut termasuk dalam kategori upaya untuk mendekatkan makna yang tidak bisa dijangkau oleh pemahaman dan pemikiran. Dan bila tidak demikian, maka pohon-pohon itu sendiri, sekalipun berlipat-lipat ganda melebihi apa yang disebut-kan, dan lautan, sekalipun ditambah beberapa kali lipat lagi maka tetap bisa saja ia habis dan kering, sebab ia (pepohonan dan lautan itu) adalah makhluk. Sedangkan kalamullah سبحانه وتعالى tidak mungkin bisa habis, bahkan dalil syar'i dan aqli menunjukkan kepada kita bahwa ia tidak akan pernah habis dan tidak pernah ada ujungnya. Jadi, se-gala sesuatu itu akan habis (sirna) kecuali Allah dan sifat-sifatNya,
﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ 42 ﴿
"Dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu)." (An-Najm: 42).
Dan apabila akal pikiran membayangkan hakikat ke-awal-an dan ke-akhir-an Allah سبحانه وتعالى, dan bahwa segala apa yang dipastikan oleh akal pikiran berupa masa-masa silam, sekalipun anggapan dan perkiraan itu bermata rantai (berkesinambungan), maka Allah سبحانه وتعالى sudah ada sebelum itu semua, tanpa batas. Dan sesungguhnya, bagaimana pun akal memastikan dan menghitung masa-masa yang akan datang, dan perhitungan serta perkiraan itu bermata rantai dan ia dibantu oleh siapa pun untuk menghitungnya dengan hati dan lisannya, maka Allah سبحانه وتعالى ada sesudah itu semua, tanpa batas dan tanpa ujung. Allah سبحانه وتعالى dalam setiap dan sepanjang waktu memu-tuskan, berbicara, berfirman dan berbuat sebagaimana yang telah Dia kehendaki. Dan apabila Dia telah berkehendak, maka tidak ada apa pun yang bisa menghalangi Firman-firman dan perbuatan-perbuatanNya. Apabila akal sudah bisa membayangkan hal itu, niscaya ia mengetahui bahwa perumpamaan yang disampaikan oleh Allah bagi kalamNya adalah agar hamba-hambaNya menge-tahui sebagian darinya. Apabila tidak demikian, maka sebenarnya permasalahan ini jauh lebih agung dan lebih besar lagi.
Kemudian Dia menjelaskan kebesaran, keperkasaanNya dan kesempurnaan hikmahNya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Se-sungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," maksudnya, hanya milikNya-lah keperkasaan seluruhnya, yang mana tidak ada ke-kuatan di alam atas dan bawah melainkan berasal dariNya; Dia-lah yang memberikannya kepada manusia. Maka tidak ada daya dan tidak pula ada kekuatan melainkan dengan (pertolongan)Nya; dan dengan keperkasaanNya, Dia mengendalikan makhluk ini semua-nya, Dia berbuat dan mengatur mereka, dan dengan hikmahNya, Dia menciptakan makhluk ini semuanya, dan Dia memulainya dengan hikmah dan menjadikan tujuan dan maksudnya adalah hikmah. Demikian pula perintah dan larangan diadakan dengan hikmah, serta tujuan dan maksudnya pun adalah hikmah. Maka Dia-lah Yang Mahabijaksana di dalam ciptaan dan perintahNya.
Ini bukan ungkapan berlebihan yang tidak mempunyai ke-nyataan, akan tetapi ketika Allah سبحانه وتعالى mengetahui bahwasanya akal manusia tidak akan mampu mengetahui sebagian sifat-sifatNya dan Dia mengetahui bahwa mengenalNya bagi hamba-hambaNya adalah merupakan nikmat yang paling utama yang dikaruniakan-Nya kepada mereka, dan merupakan tingkat yang paling mulia yang mereka raih, sementara pengetahuannya itu tidak mencakup keseluruhannya, akan tetapi apa yang tidak bisa dicapai keselu-ruhannya maka tidak patut ditinggalkan semuanya, maka Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka dengan sebagiannya sebagai suatu peringat-an yang mana hati mereka dapat menjadi terang dan dada mereka menjadi lapang, dan mereka berdalil (berargumen) dengan apa yang telah mereka capai kepada apa yang belum mereka capai dan mengatakan seperti apa yang telah dikatakan oleh orang yang paling utama dan lebih mengetahui Rabbnya dari mereka,
لَا نُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ.
"Kami tidak akan mampu menghitung pujian untukMu, Engkau sebagaimana yang Engkau pujikan pada diriMu."[50]
Dan bila tidak demikian, maka sesungguhnya permasalahan-nya lebih besar dan lebih agung dari itu.
Perumpamaan tersebut termasuk dalam kategori upaya untuk mendekatkan makna yang tidak bisa dijangkau oleh pemahaman dan pemikiran. Dan bila tidak demikian, maka pohon-pohon itu sendiri, sekalipun berlipat-lipat ganda melebihi apa yang disebut-kan, dan lautan, sekalipun ditambah beberapa kali lipat lagi maka tetap bisa saja ia habis dan kering, sebab ia (pepohonan dan lautan itu) adalah makhluk. Sedangkan kalamullah سبحانه وتعالى tidak mungkin bisa habis, bahkan dalil syar'i dan aqli menunjukkan kepada kita bahwa ia tidak akan pernah habis dan tidak pernah ada ujungnya. Jadi, se-gala sesuatu itu akan habis (sirna) kecuali Allah dan sifat-sifatNya,
﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ 42 ﴿
"Dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu)." (An-Najm: 42).
Dan apabila akal pikiran membayangkan hakikat ke-awal-an dan ke-akhir-an Allah سبحانه وتعالى, dan bahwa segala apa yang dipastikan oleh akal pikiran berupa masa-masa silam, sekalipun anggapan dan perkiraan itu bermata rantai (berkesinambungan), maka Allah سبحانه وتعالى sudah ada sebelum itu semua, tanpa batas. Dan sesungguhnya, bagaimana pun akal memastikan dan menghitung masa-masa yang akan datang, dan perhitungan serta perkiraan itu bermata rantai dan ia dibantu oleh siapa pun untuk menghitungnya dengan hati dan lisannya, maka Allah سبحانه وتعالى ada sesudah itu semua, tanpa batas dan tanpa ujung. Allah سبحانه وتعالى dalam setiap dan sepanjang waktu memu-tuskan, berbicara, berfirman dan berbuat sebagaimana yang telah Dia kehendaki. Dan apabila Dia telah berkehendak, maka tidak ada apa pun yang bisa menghalangi Firman-firman dan perbuatan-perbuatanNya. Apabila akal sudah bisa membayangkan hal itu, niscaya ia mengetahui bahwa perumpamaan yang disampaikan oleh Allah bagi kalamNya adalah agar hamba-hambaNya menge-tahui sebagian darinya. Apabila tidak demikian, maka sebenarnya permasalahan ini jauh lebih agung dan lebih besar lagi.
Kemudian Dia menjelaskan kebesaran, keperkasaanNya dan kesempurnaan hikmahNya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Se-sungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," maksudnya, hanya milikNya-lah keperkasaan seluruhnya, yang mana tidak ada ke-kuatan di alam atas dan bawah melainkan berasal dariNya; Dia-lah yang memberikannya kepada manusia. Maka tidak ada daya dan tidak pula ada kekuatan melainkan dengan (pertolongan)Nya; dan dengan keperkasaanNya, Dia mengendalikan makhluk ini semua-nya, Dia berbuat dan mengatur mereka, dan dengan hikmahNya, Dia menciptakan makhluk ini semuanya, dan Dia memulainya dengan hikmah dan menjadikan tujuan dan maksudnya adalah hikmah. Demikian pula perintah dan larangan diadakan dengan hikmah, serta tujuan dan maksudnya pun adalah hikmah. Maka Dia-lah Yang Mahabijaksana di dalam ciptaan dan perintahNya.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di