Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
An-Nisaa' : Ayat 92
Tafsir As-Sa'di
"Dan tidak layak bagi seorang Mukmin membunuh seorang Mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang Mukmin karena tersalah, (hendak-lah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu padahal ia Mukmin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan seorang hamba sahaya yang Mukmin. Dan jika ia dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diyat yang diserahkan kepada keluarga-nya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang Muk-min. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabi-jaksana." (An-Nisa`: 92).
(92) Bentuk kalimat ini adalah merupakan bentuk kalimat penolakan, artinya tidak mungkin dan mustahil sekali seorang Mukmin dapat membunuh Mukmin lainnya, maksudnya, dengan disengaja.
Hal ini merupakan sebuah berita tentang betapa haramnya pembunuhan tersebut, dan bahwa hal tersebut akan menghilang-kan keimanan dengan sebenar-benarnya, dan sesungguhnya tin-dakan itu hanya akan dilakukan oleh orang kafir atau orang fasik yang imannya berkurang sangat banyak dan yang dikhawatirkan terjadi hal-hal yang lebih besar darinya, karena sesungguhnya keimanan yang benar akan mencegah seorang Mukmin dari mem-bunuh saudaranya yang telah Allah ikat antara dia dan saudaranya tersebut sebuah ikatan persaudaraan karena iman yang menuntut agar ia mencintai saudaranya itu, menolongnya dan menghilang-kan segala hal yang membahayakannya berupa gangguan; dan gangguan apalagi yang paling besar dari pembunuhan? Hal ini dibenarkan oleh sabda Nabi ﷺ,
لَا تَرْجِعُوْا بَعْدِيْ كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.
"Janganlah kalian kembali kepada kekufuran setelah kematianku yaitu sebagian kalian membunuh sebagian lainnya."[33]
Karena itu diketahui bahwa pembunuhan merupakan kufur amali (kufur) perbuatan, dan dosa yang paling besar setelah syirik kepada Allah.
Dan tatkala Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ أَن يَقۡتُلَ مُؤۡمِنًا ﴿ "Dan tidak layak bagi seorang Mukmin membunuh seorang Mukmin (yang lain)" adalah sebuah lafazh yang umum dalam segala kondisi, dan bahwa seorang Muslim tidak akan membunuh saudara Muslim lainnya dalam bentuk apa pun, lalu Allah سبحانه وتعالى mengecualikan dari hal tersebut pembunuhan karena ketidaksengajaan, seraya berfir-man, ﴾ إِلَّا خَطَـٔٗاۚ ﴿ "Kecuali karena tersalah (tidak disengaja)," karena se-sungguhnya seorang yang salah yang tidak bermaksud membunuh, ia tidaklah berdosa dan tidak dikatakan sebagai seorang yang berani melanggar batasan-batasan Allah, akan tetapi karena ia telah mela-kukan suatu tindakan yang keji dan bentuknya pun sangat cukup untuk dikatakan sangat jelek walaupun ia sendiri tidak bermaksud demikian, maka Allah سبحانه وتعالى memerintahkan membayar kaffarat (denda atas pelanggaran larangan) dan diyat (ganti rugi pembunuhan) dalam FirmanNya, ﴾ وَمَن قَتَلَ مُؤۡمِنًا خَطَـٔٗا ﴿ "Dan barangsiapa membunuh seorang Mukmin karena tersalah," baik pelaku pembunuhannya adalah laki-laki atau wanita, orang merdeka atau budak, kecil atau besar, berakal atau gila, Muslim atau kafir, sebagaimana yang ditunjukkan oleh kata "barangsiapa" yang menunjukkan kepada keumuman, dan hal ini adalah di antara rahasia-rahasia menem-patkan kata "barangsiapa" dalam kalimat tersebut, karena sesung-guhnya konteks perkataan tersebut mengarahkan kepada ungkapan "dan jika ia membunuhnya," akan tetapi kalimat ini tidak mencakup apa yang dicakup oleh konteks yang memakai kata "barangsiapa," dan juga sama saja, baik orang yang terbunuh itu laki-laki atau wanita, kecil atau besar, sebagaimana yang ditunjukkan oleh kata umum dalam konteks kalimat bersyarat, maka hendaklah pelaku pembunuhan itu ﴾ فَتَحۡرِيرُ رَقَبَةٖ مُّؤۡمِنَةٖ ﴿ "memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman," sebagai suatu denda akan hal tersebut, yang harus diambil dari hartanya.
Budak tersebut mencakup; kecil maupun besar, laki-laki maupun wanita dan yang sehat maupun yang memiliki cacat me-nurut sebagian pendapat para ulama, akan tetapi hikmah yang ada menuntut sebuah konsekuensi bahwa denda itu tidaklah terpenuhi dengan budak yang memiliki cacat, karena yang dimaksudkan dengan membebaskan budak itu adalah memanfaatkan budak dan kepemilikan kemaslahatan dirinya, namun bila budak itu akan terabaikan dengan pembebasannya tersebut dan tetapnya ia dalam perbudakan adalah lebih bermanfaat bagi dirinya, maka tidaklah terpenuhi denda tersebut, padahal dalam FirmanNya, ﴾ فَتَحۡرِيرُ رَقَبَةٖ ﴿ "Memerdekakan seorang hamba sahaya," suatu isyarat yang menun-jukkan akan hal tersebut, karena sesungguhnya pembebasan budak itu adalah pelepasan hak memanfaatkan budak tersebut dari sese-orang kepada orang lain. Namun bila kemaslahatan tersebut tidak dijumpai, maka tidaklah tergambarkan adanya pembebasan, karena itu perhatikanlah hal tersebut, karena itu sangat jelas sekali.
Adapun diyat, maka sesungguhnya hal itu diwajibkan kepada keluarga besar pelaku pembunuhan tidak disengaja atau pembu-nuhan yang mirip dengan sengaja, ﴾ مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦٓ ﴿ "yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu)," sebagai suatu hiburan bagi hati mereka yang luka, dan yang dimaksud dengan ﴾ أَهۡلِهِۦٓ ﴿ "keluarga-nya" di sini, adalah ahli warisnya, karena sesungguhnya ahli waris itu akan mewarisi apa yang ditinggalkan oleh si mayit, dan diyat ini termasuk dalam warisannya, dan diyat ini memiliki perincian-perincian yang luas sekali yang termuat dalam buku-buku fikih.
Dan FirmanNya, ﴾ إِلَّآ أَن يَصَّدَّقُواْۚ ﴿ "Kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah" maksudnya, ahli waris terbunuh bersedekah dengan cara memaafkan keluarga pembunuh dari membayar diyat, maka gugurlah kewajiban membayar diyat tersebut. Ayat ini mengandung anjuran kepada keluarga terbunuh untuk memaaf-kan, karena Allah telah menamakan sikap memaafkan itu dengan sebutan sedekah, dan sedekah itu sangat diharapkan pada setiap waktu, ﴾ فَإِن كَانَ ﴿ "jika ia" orang yang terbunuh, ﴾ مِن قَوۡمٍ عَدُوّٖ لَّكُمۡ ﴿ "dari kaum yang memusuhimu," yaitu dari orang-orang kafir yang boleh diperangi, ﴾ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَتَحۡرِيرُ رَقَبَةٖ مُّؤۡمِنَةٖۖ ﴿ "padahal ia Mukmin maka ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman" yaitu kalian tidak wajib membayar diyat kepada keluarga terbunuh, karena tidak adanya penghormatan dalam darah dan harta mereka, ﴾ وَإِن كَانَ ﴿ "dan jika" orang yang terbunuh, ﴾ مِن قَوۡمِۭ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَهُم مِّيثَٰقٞ فَدِيَةٞ مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ وَتَحۡرِيرُ رَقَبَةٖ مُّؤۡمِنَةٖۖ ﴿ "dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdeka-kan hamba sahaya yang Mukmin," hal tersebut adalah untuk meng-hormati penduduknya karena adanya perjanjian dan perdamaian di antara mereka.
﴾ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ ﴿ "Barangsiapa yang tidak memperoleh" hamba sahaya dan tidak pula ada harta seharga budak tersebut, karena ia dalam kesulitan, dan ia tidak memiliki kelebihan nafkah dari kebutuhan-kebutuhan pokok keluarganya yang mampu memenuhi denda tersebut, ﴾ فَصِيَامُ شَهۡرَيۡنِ مُتَتَابِعَيۡنِ ﴿ "maka hendaklah ia (si pembunuh) ber-puasa dua bulan berturut-turut," yaitu janganlah ia berbuka di antara kedua bulan tersebut tanpa ada udzur yang syar'i, dan bila ia ber-buka dengan adanya udzur, maka udzur tersebut tidak memutus-kan keberlanjutan puasanya tersebut, seperti sakit, haidh dan sema-camnya, namun bila tanpa udzur, maka terputuslah keberlanjutan puasanya hingga ia harus mengulangi lagi dari awal, ﴾ تَوۡبَةٗ مِّنَ ٱللَّهِۗ ﴿ "sebagai cara taubat kepada Allah," maksudnya, denda-denda tersebut yang diwajibkan oleh Allah atas pelaku pembunuhan adalah sebagai penerimaan taubat dari Allah atas hamba-hambaNya dan sebagai rahmat kepada mereka serta pengguguran akan hal yang terjadi pada mereka berupa kelalaian dan kurang waspada seba-gaimana yang sering terjadi pada pelaku pembunuhan yang tidak disengaja.
﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana" yaitu ilmu yang sempurna dan hikmah yang sempurna pula, tidaklah akan tersembunyi dariNya walaupun sebesar dzarrah di bumi maupun di langit, dan tidak pula yang lebih kecil dari itu, apalagi yang lebih besar, di masa apa pun dan tempat manapun, dan tidak ada yang keluar dari hikmahNya, baik dari seluruh makhluk maupun syariat-syariat, bahkan semua yang Allah cipta-kan dan syariatkan adalah mengandung hikmah yang agung.
Dan di antara ilmu dan hikmahNya adalah, Allah mewajib-kan denda terhadap seorang pembunuh yang sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, karena ia telah menjadi penyebab dari hilangnya sebuah jiwa yang terhormat, dan telah mengeluarkannya dari dunia nyata menuju ketiadaan, karena itu patutlah dirinya memerdekakan seorang hamba sahaya dan mengeluarkannya dari penghambaan kepada makhluk kepada kebebasan yang penuh, namun bila ia tidak mendapatkan hamba sahaya tersebut, ia harus berpuasa dua bulan berturut-turut, di mana dengan puasa itu ia mengeluarkan jiwanya dari penghambaan nafsu syahwat dan kelezatan-kelezatan lahiriyah yang menghalangi seorang hamba dari kebahagiaannya yang abadi kepada penghambaan kepada Allah سبحانه وتعالى dengan meninggalkan nafsu syahwat dan kelezatan lahi-riyah tersebut untuk mendekatkan diri kepadaNya, dan Allah تعالى membuat masanya dengan tempo yang panjang lagi sulit dalam hal jumlah dan kewajiban berturut-turut dalam menunaikannya, Allah tidak mewajibkan memberi makan dalam kondisi ini karena tidak sesuai dengan kasusnya, berbeda dengan zhihar, sebagaimana yang akan dibahas pada masa yang akan datang, insya Allah سبحانه وتعالى.
Dan di antara hikmahNya adalah Allah mewajibkan diyat dalam perkara pembunuhan, walaupun tidak disengaja, agar hal itu menjadi penghalang dan perintang dari banyaknya pembunuhan yang terjadi dengan memakai sebab-sebab yang melindungi akan hal tersebut. Dan di antara hikmahNya adalah diwajibkannya diyat atas keluarga pembunuh (al-Aqilah) dalam pembunuhan tidak sengaja menurut kesepakatan para ulama, karena pembunuhnya itu bukanlah seorang yang berdosa, maka sangat berat baginya untuk memikul beban diyat yang sangat berat tersebut, maka sa-ngatlah pantas kalau yang ikut dalam memikulnya adalah orang-orang yang antara mereka dengan pembunuh ada saling tolong-menolong, membela dan membantu dalam memperoleh kemas-lahatan dan menghindari kemudharatan, dan meringankan beban mereka, karena diyat tersebut dibagi menurut kondisi dan kemam-puan mereka masing-masing, dan juga dibuat ringan untuk mereka dengan masa pembayaran tiga tahun. Dan di antara hikmah dan ilmuNya juga adalah menghibur keluarga terbunuh dari musibah pembunuhan tersebut dengan adanya diyat yang diwajibkan atas keluarga pembunuh.
(92) Bentuk kalimat ini adalah merupakan bentuk kalimat penolakan, artinya tidak mungkin dan mustahil sekali seorang Mukmin dapat membunuh Mukmin lainnya, maksudnya, dengan disengaja.
Hal ini merupakan sebuah berita tentang betapa haramnya pembunuhan tersebut, dan bahwa hal tersebut akan menghilang-kan keimanan dengan sebenar-benarnya, dan sesungguhnya tin-dakan itu hanya akan dilakukan oleh orang kafir atau orang fasik yang imannya berkurang sangat banyak dan yang dikhawatirkan terjadi hal-hal yang lebih besar darinya, karena sesungguhnya keimanan yang benar akan mencegah seorang Mukmin dari mem-bunuh saudaranya yang telah Allah ikat antara dia dan saudaranya tersebut sebuah ikatan persaudaraan karena iman yang menuntut agar ia mencintai saudaranya itu, menolongnya dan menghilang-kan segala hal yang membahayakannya berupa gangguan; dan gangguan apalagi yang paling besar dari pembunuhan? Hal ini dibenarkan oleh sabda Nabi ﷺ,
لَا تَرْجِعُوْا بَعْدِيْ كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.
"Janganlah kalian kembali kepada kekufuran setelah kematianku yaitu sebagian kalian membunuh sebagian lainnya."[33]
Karena itu diketahui bahwa pembunuhan merupakan kufur amali (kufur) perbuatan, dan dosa yang paling besar setelah syirik kepada Allah.
Dan tatkala Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ أَن يَقۡتُلَ مُؤۡمِنًا ﴿ "Dan tidak layak bagi seorang Mukmin membunuh seorang Mukmin (yang lain)" adalah sebuah lafazh yang umum dalam segala kondisi, dan bahwa seorang Muslim tidak akan membunuh saudara Muslim lainnya dalam bentuk apa pun, lalu Allah سبحانه وتعالى mengecualikan dari hal tersebut pembunuhan karena ketidaksengajaan, seraya berfir-man, ﴾ إِلَّا خَطَـٔٗاۚ ﴿ "Kecuali karena tersalah (tidak disengaja)," karena se-sungguhnya seorang yang salah yang tidak bermaksud membunuh, ia tidaklah berdosa dan tidak dikatakan sebagai seorang yang berani melanggar batasan-batasan Allah, akan tetapi karena ia telah mela-kukan suatu tindakan yang keji dan bentuknya pun sangat cukup untuk dikatakan sangat jelek walaupun ia sendiri tidak bermaksud demikian, maka Allah سبحانه وتعالى memerintahkan membayar kaffarat (denda atas pelanggaran larangan) dan diyat (ganti rugi pembunuhan) dalam FirmanNya, ﴾ وَمَن قَتَلَ مُؤۡمِنًا خَطَـٔٗا ﴿ "Dan barangsiapa membunuh seorang Mukmin karena tersalah," baik pelaku pembunuhannya adalah laki-laki atau wanita, orang merdeka atau budak, kecil atau besar, berakal atau gila, Muslim atau kafir, sebagaimana yang ditunjukkan oleh kata "barangsiapa" yang menunjukkan kepada keumuman, dan hal ini adalah di antara rahasia-rahasia menem-patkan kata "barangsiapa" dalam kalimat tersebut, karena sesung-guhnya konteks perkataan tersebut mengarahkan kepada ungkapan "dan jika ia membunuhnya," akan tetapi kalimat ini tidak mencakup apa yang dicakup oleh konteks yang memakai kata "barangsiapa," dan juga sama saja, baik orang yang terbunuh itu laki-laki atau wanita, kecil atau besar, sebagaimana yang ditunjukkan oleh kata umum dalam konteks kalimat bersyarat, maka hendaklah pelaku pembunuhan itu ﴾ فَتَحۡرِيرُ رَقَبَةٖ مُّؤۡمِنَةٖ ﴿ "memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman," sebagai suatu denda akan hal tersebut, yang harus diambil dari hartanya.
Budak tersebut mencakup; kecil maupun besar, laki-laki maupun wanita dan yang sehat maupun yang memiliki cacat me-nurut sebagian pendapat para ulama, akan tetapi hikmah yang ada menuntut sebuah konsekuensi bahwa denda itu tidaklah terpenuhi dengan budak yang memiliki cacat, karena yang dimaksudkan dengan membebaskan budak itu adalah memanfaatkan budak dan kepemilikan kemaslahatan dirinya, namun bila budak itu akan terabaikan dengan pembebasannya tersebut dan tetapnya ia dalam perbudakan adalah lebih bermanfaat bagi dirinya, maka tidaklah terpenuhi denda tersebut, padahal dalam FirmanNya, ﴾ فَتَحۡرِيرُ رَقَبَةٖ ﴿ "Memerdekakan seorang hamba sahaya," suatu isyarat yang menun-jukkan akan hal tersebut, karena sesungguhnya pembebasan budak itu adalah pelepasan hak memanfaatkan budak tersebut dari sese-orang kepada orang lain. Namun bila kemaslahatan tersebut tidak dijumpai, maka tidaklah tergambarkan adanya pembebasan, karena itu perhatikanlah hal tersebut, karena itu sangat jelas sekali.
Adapun diyat, maka sesungguhnya hal itu diwajibkan kepada keluarga besar pelaku pembunuhan tidak disengaja atau pembu-nuhan yang mirip dengan sengaja, ﴾ مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦٓ ﴿ "yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu)," sebagai suatu hiburan bagi hati mereka yang luka, dan yang dimaksud dengan ﴾ أَهۡلِهِۦٓ ﴿ "keluarga-nya" di sini, adalah ahli warisnya, karena sesungguhnya ahli waris itu akan mewarisi apa yang ditinggalkan oleh si mayit, dan diyat ini termasuk dalam warisannya, dan diyat ini memiliki perincian-perincian yang luas sekali yang termuat dalam buku-buku fikih.
Dan FirmanNya, ﴾ إِلَّآ أَن يَصَّدَّقُواْۚ ﴿ "Kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah" maksudnya, ahli waris terbunuh bersedekah dengan cara memaafkan keluarga pembunuh dari membayar diyat, maka gugurlah kewajiban membayar diyat tersebut. Ayat ini mengandung anjuran kepada keluarga terbunuh untuk memaaf-kan, karena Allah telah menamakan sikap memaafkan itu dengan sebutan sedekah, dan sedekah itu sangat diharapkan pada setiap waktu, ﴾ فَإِن كَانَ ﴿ "jika ia" orang yang terbunuh, ﴾ مِن قَوۡمٍ عَدُوّٖ لَّكُمۡ ﴿ "dari kaum yang memusuhimu," yaitu dari orang-orang kafir yang boleh diperangi, ﴾ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَتَحۡرِيرُ رَقَبَةٖ مُّؤۡمِنَةٖۖ ﴿ "padahal ia Mukmin maka ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman" yaitu kalian tidak wajib membayar diyat kepada keluarga terbunuh, karena tidak adanya penghormatan dalam darah dan harta mereka, ﴾ وَإِن كَانَ ﴿ "dan jika" orang yang terbunuh, ﴾ مِن قَوۡمِۭ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَهُم مِّيثَٰقٞ فَدِيَةٞ مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ وَتَحۡرِيرُ رَقَبَةٖ مُّؤۡمِنَةٖۖ ﴿ "dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdeka-kan hamba sahaya yang Mukmin," hal tersebut adalah untuk meng-hormati penduduknya karena adanya perjanjian dan perdamaian di antara mereka.
﴾ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ ﴿ "Barangsiapa yang tidak memperoleh" hamba sahaya dan tidak pula ada harta seharga budak tersebut, karena ia dalam kesulitan, dan ia tidak memiliki kelebihan nafkah dari kebutuhan-kebutuhan pokok keluarganya yang mampu memenuhi denda tersebut, ﴾ فَصِيَامُ شَهۡرَيۡنِ مُتَتَابِعَيۡنِ ﴿ "maka hendaklah ia (si pembunuh) ber-puasa dua bulan berturut-turut," yaitu janganlah ia berbuka di antara kedua bulan tersebut tanpa ada udzur yang syar'i, dan bila ia ber-buka dengan adanya udzur, maka udzur tersebut tidak memutus-kan keberlanjutan puasanya tersebut, seperti sakit, haidh dan sema-camnya, namun bila tanpa udzur, maka terputuslah keberlanjutan puasanya hingga ia harus mengulangi lagi dari awal, ﴾ تَوۡبَةٗ مِّنَ ٱللَّهِۗ ﴿ "sebagai cara taubat kepada Allah," maksudnya, denda-denda tersebut yang diwajibkan oleh Allah atas pelaku pembunuhan adalah sebagai penerimaan taubat dari Allah atas hamba-hambaNya dan sebagai rahmat kepada mereka serta pengguguran akan hal yang terjadi pada mereka berupa kelalaian dan kurang waspada seba-gaimana yang sering terjadi pada pelaku pembunuhan yang tidak disengaja.
﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمٗا ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana" yaitu ilmu yang sempurna dan hikmah yang sempurna pula, tidaklah akan tersembunyi dariNya walaupun sebesar dzarrah di bumi maupun di langit, dan tidak pula yang lebih kecil dari itu, apalagi yang lebih besar, di masa apa pun dan tempat manapun, dan tidak ada yang keluar dari hikmahNya, baik dari seluruh makhluk maupun syariat-syariat, bahkan semua yang Allah cipta-kan dan syariatkan adalah mengandung hikmah yang agung.
Dan di antara ilmu dan hikmahNya adalah, Allah mewajib-kan denda terhadap seorang pembunuh yang sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, karena ia telah menjadi penyebab dari hilangnya sebuah jiwa yang terhormat, dan telah mengeluarkannya dari dunia nyata menuju ketiadaan, karena itu patutlah dirinya memerdekakan seorang hamba sahaya dan mengeluarkannya dari penghambaan kepada makhluk kepada kebebasan yang penuh, namun bila ia tidak mendapatkan hamba sahaya tersebut, ia harus berpuasa dua bulan berturut-turut, di mana dengan puasa itu ia mengeluarkan jiwanya dari penghambaan nafsu syahwat dan kelezatan-kelezatan lahiriyah yang menghalangi seorang hamba dari kebahagiaannya yang abadi kepada penghambaan kepada Allah سبحانه وتعالى dengan meninggalkan nafsu syahwat dan kelezatan lahi-riyah tersebut untuk mendekatkan diri kepadaNya, dan Allah تعالى membuat masanya dengan tempo yang panjang lagi sulit dalam hal jumlah dan kewajiban berturut-turut dalam menunaikannya, Allah tidak mewajibkan memberi makan dalam kondisi ini karena tidak sesuai dengan kasusnya, berbeda dengan zhihar, sebagaimana yang akan dibahas pada masa yang akan datang, insya Allah سبحانه وتعالى.
Dan di antara hikmahNya adalah Allah mewajibkan diyat dalam perkara pembunuhan, walaupun tidak disengaja, agar hal itu menjadi penghalang dan perintang dari banyaknya pembunuhan yang terjadi dengan memakai sebab-sebab yang melindungi akan hal tersebut. Dan di antara hikmahNya adalah diwajibkannya diyat atas keluarga pembunuh (al-Aqilah) dalam pembunuhan tidak sengaja menurut kesepakatan para ulama, karena pembunuhnya itu bukanlah seorang yang berdosa, maka sangat berat baginya untuk memikul beban diyat yang sangat berat tersebut, maka sa-ngatlah pantas kalau yang ikut dalam memikulnya adalah orang-orang yang antara mereka dengan pembunuh ada saling tolong-menolong, membela dan membantu dalam memperoleh kemas-lahatan dan menghindari kemudharatan, dan meringankan beban mereka, karena diyat tersebut dibagi menurut kondisi dan kemam-puan mereka masing-masing, dan juga dibuat ringan untuk mereka dengan masa pembayaran tiga tahun. Dan di antara hikmah dan ilmuNya juga adalah menghibur keluarga terbunuh dari musibah pembunuhan tersebut dengan adanya diyat yang diwajibkan atas keluarga pembunuh.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di