Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
Al-Ma'ida : Ayat 44
"Hai Rasul, hendaknya janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka, 'Kami telah beriman,' padahal hati mereka belum beriman, dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perka-taan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu, mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempat-nya. Mereka mengatakan, 'Jika diberikan ini (yang sudah dirubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah.' Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) dari Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpaling-lah dari mereka, jika kamu berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan memberi mudarat kepadamu sedikit pun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu men-jadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperin-tahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepadaKu. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak me-mutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (Al-Ma`idah: 41-44).
Tafsir As-Sa'di
(44) ﴾ إِنَّآ أَنزَلۡنَا ٱلتَّوۡرَىٰةَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat," kepada Musa. ﴾ فِيهَا هُدٗى ﴿ "Di dalamnya terdapat petunjuk" ke-pada iman dan kebenaran dan melindungi mereka dari kesesatan. ﴾ وَنُورٞۚ ﴿ "Dan cahaya," yang menerangi gelapnya kebodohan, kebi-ngungan, kebimbangan, syubhat dan syahwat; sebagaimana Firman Allah,
﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ ٱلۡفُرۡقَانَ وَضِيَآءٗ وَذِكۡرٗا لِّلۡمُتَّقِينَ 48 ﴿
"Dan sungguh telah Kami berikan kepada Musa dan Harun kitab Taurat dan penerapan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-Anbiya`: 48).
﴾ يَحۡكُمُ بِهَا ﴿ "Yang dengan kitab itu diputuskan" perkara-perkara dan persoalan-persoalan di antara orang-orang oleh ﴾ ٱلنَّبِيُّونَ ٱلَّذِينَ أَسۡلَمُواْ ﴿ "para nabi yang menyerahkan diri" kepada Allah dan tunduk kepada perintah-perintahNya, yang keislaman mereka lebih agung daripada keislaman selain mereka. Mereka adalah hamba-hamba Allah terpilih. Jika mereka, para nabi yang mulia, para pemimpin yang terhormat telah meneladani Taurat, bermakmum dan berjalan di belakangnya, lalu apa yang menghalangi orang-orang Yahudi yang rendah itu untuk mengikutinya? Apa yang mendorong mereka mencampakkan kewajiban iman kepada Muhammad ﷺ yang meru-pakan kandungan termulianya di mana amal lahir dan batin tidak diterima kecuali dengan iman itu? Apakah dalam hal ini mereka mempunyai imam? Benar, mereka mempunyai imam yang mana kegemaran mereka adalah penyelewengan terhadap kalamullah, penegakan kepemimpinan dan kedudukan mereka di antara manusia dan mengeruk keuntungan dari menyembunyikan kebenaran dan menonjolkan kebatilan. Mereka itulah para pemimpin kesesatan yang menyeru ke api neraka.
Dan FirmanNya, ﴾ وَٱلرَّبَّٰنِيُّونَ وَٱلۡأَحۡبَارُ ﴿ "Dan oleh orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka." Maksudnya, begitu pula Taurat diguna-kan sebagai sumber hukum di antara orang-orang Yahudi oleh para pemuka agama yang Rabbaniyyin, yakni para ulama yang ber-amal dan mengajarkan, yang mendidik manusia dengan didikan terbaik, dan membimbing mereka dengan bimbingan para nabi yang penuh kasih dan para pendeta mereka yaitu para ulama besar yang didengar ucapannya diikuti jejaknya, dan mereka memiliki ucapan yang dipercaya di antara umat mereka.
Hukum yang mereka keluarkan itu yang sesuai dengan ke-benaran ﴾ بِمَا ٱسۡتُحۡفِظُواْ مِن كِتَٰبِ ٱللَّهِ وَكَانُواْ عَلَيۡهِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya," maksudnya, karena Allah meminta mereka untuk menjaga kitabNya, menjadikan mereka orang-orang yang dipercaya atasnya dan ia adalah amanat atas mereka, maka Allah mengharus-kan mereka menjaganya dari penambahan, pengurangan, dan penyembunyian, mengajarkannya kepada yang tidak mengetahui, dan mereka adalah saksi-saksi terhadapnya. Mereka adalah rujukan padanya dan pada apa yang kurang dimengerti oleh manusia. Allah telah membebankan kepada para ulama apa yang tidak dibebankan kepada orang-orang bodoh, maka mereka harus menunaikan kewa-jiban yang disematkan di pundak mereka.
Hendaknya mereka tidak mengikuti orang-orang bodoh dengan memilih sikap malas dan ogah-ogahan. Hendaknya mereka tidak membatasi diri hanya pada ibadah-ibadah personal berupa berba-gai macam dzikir, shalat, zakat, haji, puasa dan ibadah-ibadah lain yang jika dilakukan oleh selain ulama, maka mereka selamat. Ada-pun para ulama, maka sebagaimana mereka dituntut untuk mela-kukan apa yang menjadi kewajiban atas diri mereka, mereka juga dituntut untuk mengajar manusia, menyampaikan perkara-perkara agama yang mereka butuhkan khususnya masalah-masalah dasar yang sering terjadi, dan hendaknya mereka tidak takut kepada manusia, akan tetapi takut kepada Tuhan mereka.
Oleh karena itu Dia berfirman,﴾ فَلَا تَخۡشَوُاْ ٱلنَّاسَ وَٱخۡشَوۡنِ وَلَا تَشۡتَرُواْ بِـَٔايَٰتِي ثَمَنٗا قَلِيلٗاۚ ﴿ "Janganlah kamu takut kepada manusia tetapi takutlah ke-padaKu. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit," di mana kamu menyembunyikan kebenaran dan menam-pakkan kebatilan demi harta dunia yang sedikit.
Jika ulama selamat dari penyakit-penyakit ini, maka ia terma-suk taufik dan kebahagiaannya. Keinginannya adalah bersungguh-sungguh di bidang ilmu dan mengajarkan(nya). Dia menyadari bahwa Allah telah memintanya untuk menjaga ilmu dan menjadi saksi atasnya. Maka dia hanya takut kepada Tuhannya. Ketakutan dan kekhawatirannya kepada manusia tidak menghalanginya me-lakukan apa yang harus dilakukannya. Dia tidak mendahulukan dunia di atas agama.
Sebagaimana tanda celakanya ulama adalah kemalasannya menunaikan tugasnya, tidak peduli dengan apa yang diperintahkan kepadanya. Dia menyia-nyiakan dan menelantarkannya, menjual agama dengan dunia, menerima suap dalam hukum-hukumnya, dan meminta bayaran atas fatwa-fatwanya. Dia tidak bersedia mengajar kecuali dengan bayaran dan gaji. Ulama ini telah diberi nikmat besar oleh Allah, tetapi dia mengkufurinya dan menolak bagian karuniaNya yang besar di mana selainnya tidak mendapat-kannya. Kami memohon kepadaMu ya Allah ilmu yang berguna dan amalan yang diterima. Limpahkan kepada kami maaf dan ke-selamatan dari segala cobaan wahai Allah Yang Maha Karim.
﴾ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan barangsiapa tidak memutuskan me-nurut apa yang diturunkan Allah," yakni, dari kebenaran yang jelas dan dia memutuskan berdasarkan kebatilan yang diketahuinya, karena satu tujuan yang rusak, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." Berhukum dengan selain apa yang diturun-kan Allah termasuk perbuatan orang-orang kafir dan bisa jadi ia adalah kekufuran yang mengeluarkan dari agama, hal itu jika dia meyakini kebolehan dan kehalalannya, dan bisa pula ia merupa-kan salah satu dosa besar dan termasuk perbuatan kekufuran di mana pelakunya berhak mendapat azab yang keras.
﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ ٱلۡفُرۡقَانَ وَضِيَآءٗ وَذِكۡرٗا لِّلۡمُتَّقِينَ 48 ﴿
"Dan sungguh telah Kami berikan kepada Musa dan Harun kitab Taurat dan penerapan serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-Anbiya`: 48).
﴾ يَحۡكُمُ بِهَا ﴿ "Yang dengan kitab itu diputuskan" perkara-perkara dan persoalan-persoalan di antara orang-orang oleh ﴾ ٱلنَّبِيُّونَ ٱلَّذِينَ أَسۡلَمُواْ ﴿ "para nabi yang menyerahkan diri" kepada Allah dan tunduk kepada perintah-perintahNya, yang keislaman mereka lebih agung daripada keislaman selain mereka. Mereka adalah hamba-hamba Allah terpilih. Jika mereka, para nabi yang mulia, para pemimpin yang terhormat telah meneladani Taurat, bermakmum dan berjalan di belakangnya, lalu apa yang menghalangi orang-orang Yahudi yang rendah itu untuk mengikutinya? Apa yang mendorong mereka mencampakkan kewajiban iman kepada Muhammad ﷺ yang meru-pakan kandungan termulianya di mana amal lahir dan batin tidak diterima kecuali dengan iman itu? Apakah dalam hal ini mereka mempunyai imam? Benar, mereka mempunyai imam yang mana kegemaran mereka adalah penyelewengan terhadap kalamullah, penegakan kepemimpinan dan kedudukan mereka di antara manusia dan mengeruk keuntungan dari menyembunyikan kebenaran dan menonjolkan kebatilan. Mereka itulah para pemimpin kesesatan yang menyeru ke api neraka.
Dan FirmanNya, ﴾ وَٱلرَّبَّٰنِيُّونَ وَٱلۡأَحۡبَارُ ﴿ "Dan oleh orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka." Maksudnya, begitu pula Taurat diguna-kan sebagai sumber hukum di antara orang-orang Yahudi oleh para pemuka agama yang Rabbaniyyin, yakni para ulama yang ber-amal dan mengajarkan, yang mendidik manusia dengan didikan terbaik, dan membimbing mereka dengan bimbingan para nabi yang penuh kasih dan para pendeta mereka yaitu para ulama besar yang didengar ucapannya diikuti jejaknya, dan mereka memiliki ucapan yang dipercaya di antara umat mereka.
Hukum yang mereka keluarkan itu yang sesuai dengan ke-benaran ﴾ بِمَا ٱسۡتُحۡفِظُواْ مِن كِتَٰبِ ٱللَّهِ وَكَانُواْ عَلَيۡهِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya," maksudnya, karena Allah meminta mereka untuk menjaga kitabNya, menjadikan mereka orang-orang yang dipercaya atasnya dan ia adalah amanat atas mereka, maka Allah mengharus-kan mereka menjaganya dari penambahan, pengurangan, dan penyembunyian, mengajarkannya kepada yang tidak mengetahui, dan mereka adalah saksi-saksi terhadapnya. Mereka adalah rujukan padanya dan pada apa yang kurang dimengerti oleh manusia. Allah telah membebankan kepada para ulama apa yang tidak dibebankan kepada orang-orang bodoh, maka mereka harus menunaikan kewa-jiban yang disematkan di pundak mereka.
Hendaknya mereka tidak mengikuti orang-orang bodoh dengan memilih sikap malas dan ogah-ogahan. Hendaknya mereka tidak membatasi diri hanya pada ibadah-ibadah personal berupa berba-gai macam dzikir, shalat, zakat, haji, puasa dan ibadah-ibadah lain yang jika dilakukan oleh selain ulama, maka mereka selamat. Ada-pun para ulama, maka sebagaimana mereka dituntut untuk mela-kukan apa yang menjadi kewajiban atas diri mereka, mereka juga dituntut untuk mengajar manusia, menyampaikan perkara-perkara agama yang mereka butuhkan khususnya masalah-masalah dasar yang sering terjadi, dan hendaknya mereka tidak takut kepada manusia, akan tetapi takut kepada Tuhan mereka.
Oleh karena itu Dia berfirman,﴾ فَلَا تَخۡشَوُاْ ٱلنَّاسَ وَٱخۡشَوۡنِ وَلَا تَشۡتَرُواْ بِـَٔايَٰتِي ثَمَنٗا قَلِيلٗاۚ ﴿ "Janganlah kamu takut kepada manusia tetapi takutlah ke-padaKu. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit," di mana kamu menyembunyikan kebenaran dan menam-pakkan kebatilan demi harta dunia yang sedikit.
Jika ulama selamat dari penyakit-penyakit ini, maka ia terma-suk taufik dan kebahagiaannya. Keinginannya adalah bersungguh-sungguh di bidang ilmu dan mengajarkan(nya). Dia menyadari bahwa Allah telah memintanya untuk menjaga ilmu dan menjadi saksi atasnya. Maka dia hanya takut kepada Tuhannya. Ketakutan dan kekhawatirannya kepada manusia tidak menghalanginya me-lakukan apa yang harus dilakukannya. Dia tidak mendahulukan dunia di atas agama.
Sebagaimana tanda celakanya ulama adalah kemalasannya menunaikan tugasnya, tidak peduli dengan apa yang diperintahkan kepadanya. Dia menyia-nyiakan dan menelantarkannya, menjual agama dengan dunia, menerima suap dalam hukum-hukumnya, dan meminta bayaran atas fatwa-fatwanya. Dia tidak bersedia mengajar kecuali dengan bayaran dan gaji. Ulama ini telah diberi nikmat besar oleh Allah, tetapi dia mengkufurinya dan menolak bagian karuniaNya yang besar di mana selainnya tidak mendapat-kannya. Kami memohon kepadaMu ya Allah ilmu yang berguna dan amalan yang diterima. Limpahkan kepada kami maaf dan ke-selamatan dari segala cobaan wahai Allah Yang Maha Karim.
﴾ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan barangsiapa tidak memutuskan me-nurut apa yang diturunkan Allah," yakni, dari kebenaran yang jelas dan dia memutuskan berdasarkan kebatilan yang diketahuinya, karena satu tujuan yang rusak, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." Berhukum dengan selain apa yang diturun-kan Allah termasuk perbuatan orang-orang kafir dan bisa jadi ia adalah kekufuran yang mengeluarkan dari agama, hal itu jika dia meyakini kebolehan dan kehalalannya, dan bisa pula ia merupa-kan salah satu dosa besar dan termasuk perbuatan kekufuran di mana pelakunya berhak mendapat azab yang keras.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di