Dakwah & Tabligh

Kok ndak dek aden dulu...

"Kok ndak dek aden...  = Kalau bukan karna saya..."

Di antara penyakit hati yang paling halus adalah merasa berjasa dalam dakwah. Awalnya hanya bisikan setan di dalam hati, namun jika tidak dilawan, suatu saat bisa keluar melalui lisan:

"Kok ndak dek aden dulu yang merintis..."
"Kok ndak dek aden dulu yang memperjuangkan..."

Padahal, Allah tidak membutuhkan dirinya. Seandainya Allah menghendaki, Dia mampu menggantinya dengan orang yang lebih ikhlas, lebih bertakwa, dan lebih diterima amalnya.

Dakwah ini tidak tegak karena seseorang, tetapi karena pertolongan Allah. Kita hanyalah hamba yang Allah beri kesempatan untuk beramal. Siapa yang merasa dirinya penopang dakwah, hendaknya takut. Sebab ujub, riya, dan merasa berjasa dapat merusak amal yang telah lama diperjuangkan.

Orang yang ikhlas justru semakin tua semakin takut amalnya tidak diterima. Ia lebih banyak memohon ampun daripada menghitung-hitung jasanya.

Jangan sampai puluhan tahun berdakwah ditutup dengan kalimat, "Kok ndak dek aden dulu...". Sebab semua taufik, pertolongan, dan keberhasilan hanyalah milik Allah semata.

Semoga Allah menjaga hati kita dari bisikan setan yang menumbuhkan rasa bangga terhadap amal, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang melupakan jasa-jasa dakwah yang pernah dilakukan, namun tidak pernah melupakan dosa-dosa yang pernah diperbuat.