Memuat Tafsir...
Tafsir As-Sa'di
Al-An'am : Ayat 103
"Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka bohong (dengan mengatakan), 'Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan,' tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah, Tuhan kamu, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Pen-cipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia, dan Dia adalah Peme-lihara segala sesuatu, Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri, dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemu-daratannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu)." (Al-An'am: 100-104).
Tafsir As-Sa'di
(103) ﴾ لَّا تُدۡرِكُهُ ٱلۡأَبۡصَٰرُ ﴿ "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata," karena kebesaran, keagungan dan kesempurnaanNya, mak-sudnya, mata penglihatan tidak bisa mengetahuiNya dari segala segi walaupun mata bisa melihatNya dan bergembira dengan melihat kepada wajahNya yang mulia. Penafian terhadap penge-tahuan tidak berarti menafikan penglihatan, justru ia menetapkan-nya dengan cara pemahaman (mafhum), karena ketika ayat tersebut menafikan "pengetahuan" (idrak) yang mana ia merupakan sifat "penglihatan" (ru'yah) yang paling khusus, maka hal itu menunjuk-kan bahwa "penglihatan" adalah tetap (tsabit) dan tidak dinafikan.
Seandainya ayat ini hendak menafikan "penglihatan" niscaya ia akan mengatakan, "Tidak dilihat oleh mata," atau ucapan lain yang sejenis. Dari sini diketahui bahwa dalam ayat ini tidak terdapat dalil yang mendukung pendapat para pengingkar sifat Allah yang meniadakan kemungkinan melihat Allah di Akhirat. Justru ayat ini mengandung bantahan terhadap pendapat tersebut.
﴾ وَهُوَ يُدۡرِكُ ٱلۡأَبۡصَٰرَۖ ﴿ "Sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu." Maksudnya, Dia-lah yang ilmuNya meliputi lahir dan batin. Pen-dengaranNya meliputi seluruh suara yang samar dan yang jelas, dan penglihatanNya meliputi segala yang terlihat, baik kecil mau-pun yang besar.
Oleh karenanya, Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui." Maksudnya, ilmu dan penge-tahuanNya cermat dan teliti sehingga Dia mengetahui sesuatu yang rahasia, yang samar, yang tersembunyi dan yang tersimpan. Dan di antara kelembutan Allah adalah bahwa Dia membimbing hamba-Nya kepada kemaslahatan agamanya, mengantarkannya kepadanya dengan cara di mana hamba itu tidak merasa dan tidak berusaha padanya.
Dia mengantarkannya pada kebahagiaan abadi dan keberun-tungan yang kekal dari arah yang tidak diduga, bahkan Dia mentak-dirkan perkara-perkara yang tidak disukai dan dirasa sakit oleh hamba sehingga dia memohon kepadaNya agar menyembuhkan-nya. Hal tersebut karena Dia mengetahui bahwa agamaNya lebih baik dan bahwa kesempurnaan agamaNya bergantung kepada ujian tersebut. Mahasuci Allah Yang Mahalembut kepada apa yang Dia Kehendaki, Maha Penyayang kepada orang-orang Mukmin.
Seandainya ayat ini hendak menafikan "penglihatan" niscaya ia akan mengatakan, "Tidak dilihat oleh mata," atau ucapan lain yang sejenis. Dari sini diketahui bahwa dalam ayat ini tidak terdapat dalil yang mendukung pendapat para pengingkar sifat Allah yang meniadakan kemungkinan melihat Allah di Akhirat. Justru ayat ini mengandung bantahan terhadap pendapat tersebut.
﴾ وَهُوَ يُدۡرِكُ ٱلۡأَبۡصَٰرَۖ ﴿ "Sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu." Maksudnya, Dia-lah yang ilmuNya meliputi lahir dan batin. Pen-dengaranNya meliputi seluruh suara yang samar dan yang jelas, dan penglihatanNya meliputi segala yang terlihat, baik kecil mau-pun yang besar.
Oleh karenanya, Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui." Maksudnya, ilmu dan penge-tahuanNya cermat dan teliti sehingga Dia mengetahui sesuatu yang rahasia, yang samar, yang tersembunyi dan yang tersimpan. Dan di antara kelembutan Allah adalah bahwa Dia membimbing hamba-Nya kepada kemaslahatan agamanya, mengantarkannya kepadanya dengan cara di mana hamba itu tidak merasa dan tidak berusaha padanya.
Dia mengantarkannya pada kebahagiaan abadi dan keberun-tungan yang kekal dari arah yang tidak diduga, bahkan Dia mentak-dirkan perkara-perkara yang tidak disukai dan dirasa sakit oleh hamba sehingga dia memohon kepadaNya agar menyembuhkan-nya. Hal tersebut karena Dia mengetahui bahwa agamaNya lebih baik dan bahwa kesempurnaan agamaNya bergantung kepada ujian tersebut. Mahasuci Allah Yang Mahalembut kepada apa yang Dia Kehendaki, Maha Penyayang kepada orang-orang Mukmin.
Sumber: QuranEnc — Tafsir As-Sa'di