Kita hidup di zaman ketika ilmu begitu mudah ditemukan.
Kajian bisa ditonton kapan saja. Kitab bisa dibaca dari layar. Ceramah bisa didengar sambil bekerja. Pertanyaan bisa dicari jawabannya dalam hitungan detik.
Tetapi ada satu hal yang mungkin justru semakin sulit:
Maukah kita datang, duduk, dan bersabar di majelis ilmu bersama seorang guru?
Karena menuntut ilmu bukan hanya tentang mendengar suara orang berilmu dari balik layar.
Ada saatnya kita harus meninggalkan kesibukan, mendatangi majelis, lalu duduk di hadapan seorang guru. Mendengarkan dari awal sampai akhir. Bertanya ketika tidak paham. Menerima ketika dikoreksi. Mencatat. Mengulang pelajaran. Lalu datang kembali pada pertemuan berikutnya.
Inilah bagian dari menuntut ilmu yang membutuhkan kesabaran.
Hari ini kita bisa mendapatkan ribuan kajian hanya dengan beberapa sentuhan. Tetapi apakah kita masih memiliki kesabaran untuk duduk selama satu atau dua jam di hadapan seorang guru?
Apakah kita masih mau belajar dari dasar? Mendengar penjelasan yang mungkin sudah pernah kita dengar? Mengakui, “Saya tidak tahu,” dan menerima bahwa pemahaman kita mungkin perlu diluruskan?
Jangan sampai kita memiliki akses yang tidak terbatas kepada ilmu, tetapi kehilangan kesabaran untuk datang menghadiri majelisnya.
Jangan sampai kita memiliki ribuan video kajian yang tersimpan, tetapi tidak memiliki kesungguhan untuk duduk bersama seorang guru dan belajar secara bertahap.
Sebab di zaman ketika ilmu begitu mudah diakses, kesungguhan menuntut ilmu mungkin justru terlihat dari kesediaan kita untuk datang dan duduk.