Aqidah & Tauhid

100 tahun dari sekarang, di mana kita?

100 tahun lagi, kita semuanya mungkin sudah berada di dalam tanah, dan kita akan tahu bagaimana nasib kita yang sebenarnya.

Kemudian rumah kita akan ditempati oleh orang-orang asing yang sebelumnya tidak kita kenal. Pekerjaan kita sudah digantikan oleh orang lain. Harta kita akan dimiliki orang lain. Kalaupun oleh keluarga kita, mereka pun tidak akan banyak mengingat kita.

Seperti halnya kita tidak lagi mengingat bapak dari kakek kita. Demikian juga kita akan dilupakan. Kita hanya sekadar satu tulisan yang ada dalam ingatan sebagian orang: pernah dengar, pernah kenal.

Maka nama-nama kita, bentuk kita, akan tertutup dengan lipatan-lipatan kelupaan. Jangankan 100 tahun, saudara kita yang baru meninggal beberapa hari, pekan atau bulan saja sudah mulai kita lupakan.

Semua ini tidak ada faedahnya setelah 100 tahun. Wujud kita di dunia ini hanya sebentar.

Akan segera sirna dan selesai dalam sekejap mata. Akan datang puluhan, bahkan ratusan generasi setelah kita, dan setiap generasi akan berpisah dengan dunia, seperti kita yang bahkan belum sempat mewujudkan seperempat impian kita.

Oleh karena itu, kita mesti mengerti betul bagaimana ukuran kita di dunia ini. Waktu dan umur kita hanya sedikit, bahkan lebih kecil dari yang kita bayangkan.

Nanti di sana, setelah 100 tahun, di tengah kegelapan, kita baru sadar bahwa semuanya yang kita kumpulkan di dunia ini tidak ada gunanya. Semua hanya impian yang konyol dan rendahan.

Dan akhirnya kita baru sadar, seandainya semua waktu kita digunakan untuk hal yang baik dan amalan jariyah.

Dan akan ada sebagian kita di alam sana yang berteriak minta tolong dan kesakitan dalam penderitaan, namun teriakan tersebut tidak ada faedahnya.

Firman Allah:

“Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.”
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.”
(QS. Al-Mu’minun: 99–100)

Oleh karenanya, karena kesempatan masih ada di depanmu, maka beramal salehlah. Perbaiki dirimu.

Ingatlah, dunia akan sirna. Dan ingatlah, amal saleh itulah yang tersisa di hari saat engkau dihisab di hadapan Allah.

Jadikan duniamu sebagai jembatan yang menggiringmu ke surga Allah.

Jangan sampai dunia membuat kamu lalai dari akhirat.