Dulu sebelum hijrah, kita meninggalkan media sosial karena banyak pertemanan dan percakapan yang sudah tidak sesuai dengan jalan yang sedang kita tempuh. Ada ghibah, candaan yang tidak bermanfaat, dan berbagai hal yang ingin kita tinggalkan.
Beberapa tahun kemudian, kita kembali.
Kali ini kita lebih selektif. Pertemanan kita filter. Kita memilih orang-orang yang sudah ngaji, para penuntut ilmu, dan orang-orang yang kita anggap satu jalan. Kita berharap timeline dipenuhi nasihat, faedah, dan pengingat tentang akhirat.
Namun ternyata kita cukup terkejut.
Ghibah ternyata masih ada. Hanya objeknya yang berubah.
Dulu yang dibicarakan adalah teman, tetangga, atau orang biasa. Setelah mengenal agama, yang dibicarakan bisa jadi ustadz, penuntut ilmu, atau saudara yang dianggap berbeda.
Bahkan yang lebih mengkhawatirkan, setelah mengenal agama seseorang terkadang menjadi lebih pandai mencari alasan untuk membicarakan orang lain. Ghibah bisa dibungkus dengan istilah nasihat, klarifikasi, bantahan, atau membela kebenaran.
Maka ini menjadi nasihat untuk diri sendiri.
Hijrah bukan hanya tentang siapa yang kita tinggalkan dan siapa yang kita ikuti. Hijrah juga tentang apa yang berubah dalam hati, lisan, dan akhlak kita.
Jangan sampai kita meninggalkan lingkungan yang buruk, tetapi tanpa sadar membawa penyakit yang sama ke lingkungan yang baru.
Jangan sampai kita sibuk melihat kesalahan orang lain, sementara kita lupa bahwa diri kita sendiri masih penuh kekurangan.
Semoga Allah memperbaiki diri kita, menunjukkan kepada kita aib-aib diri kita sendiri, memberi kita taufik untuk memperbaikinya, dan menjaga lisan serta tulisan kita dari sesuatu yang kelak kita sesali di hadapan-Nya.