Awalnya, semua yang kita miliki terasa begitu berharga.
Motor terasa bagus. Smartphone terasa canggih. Rumah terasa nyaman. Bahkan istri yang Allah karuniakan kepada kita terasa sebagai nikmat yang sangat besar.
Kita bersyukur dan berkata, “Alhamdulillah, sudah punya ini.”
Namun setelah sering melihat kehidupan orang lain yang memiliki lebih, perlahan standar kita berubah.
Motor sendiri mulai terlihat butut. Smartphone terasa ketinggalan. Rumah terasa kurang bagus.
Bahkan apalagi, istri sendiri pun bisa terasa kurang, hanya karena melihat orang lain memiliki lebih dari satu istri.
Padahal yang berubah bukan motor kita. Bukan smartphone kita. Bukan rumah kita. Dan bukan pula istri kita.
Yang berubah adalah cara pandang kita karena terlalu sering membandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang dimiliki orang lain.
Islam tidak melarang seseorang memiliki keinginan untuk mendapatkan yang lebih baik. Tetapi jangan sampai mata yang terlalu sering melihat milik orang lain membuat hati tidak lagi mampu melihat nikmat yang ada di tangan sendiri.
Sebab jika standar kepuasan selalu mengikuti kehidupan orang lain, maka tidak akan pernah selesai.
Hari ini merasa kurang karena motor. Besok karena mobil. Hari ini karena smartphone. Besok karena rumah. Bahkan dalam urusan keluarga pun bisa muncul rasa kurang.
Padahal bisa jadi, apa yang kita anggap biasa hari ini adalah sesuatu yang dahulu kita mohonkan kepada Allah dalam doa-doa kita.
Maka bersyukurlah.
Bukan berarti berhenti berusaha menjadi lebih baik, tetapi jangan sampai dalam mengejar sesuatu yang belum kita miliki, kita justru meremehkan nikmat yang sudah Allah titipkan.
Jangan sampai sibuk menghitung apa yang dimiliki orang lain, sampai lupa menghitung begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita.