Aqidah & Tauhid

Ketika Kekhawatiran Nafkah Mengalahkan Keyakinan kepada Allah

Kakek dan nenek kita dahulu memiliki keyakinan bahwa banyak anak adalah bagian dari rezeki yang Allah berikan. Karena itu, tidak sedikit dari mereka yang memiliki anak 10, bahkan 15 orang atau lebih. Mereka hidup dengan segala keterbatasan, namun tetap yakin bahwa setiap anak datang bersama rezekinya.

Berbeda dengan sebagian kita hari ini. Ada yang sudah belajar agama, mengenal tauhid, dan mengetahui bahwa Allah adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki), tetapi masih sangat takut ketika hendak menambah keturunan.

Baru memiliki 2 anak, hati sudah dipenuhi kekhawatiran: "Bagaimana nafkahnya nanti?"
"Bagaimana biaya pendidikannya?"
"Bagaimana kalau rezeki tidak mencukupi?"

Padahal Allah telah mengingatkan:

"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu..."
(QS. Al-Isra: 31)

Ayat ini menunjukkan bahwa rasa takut terhadap kemiskinan tidak boleh membuat seorang hamba meragukan jaminan rezeki dari Allah. Allah yang memberikan rezeki kepada orang tua, dan Allah pula yang memberikan rezeki kepada anak-anak.

Tentu, seorang muslim tetap diperintahkan untuk berikhtiar, bekerja, dan mempersiapkan tanggung jawabnya. Namun jangan sampai kekhawatiran terhadap urusan dunia membuat hati lebih bergantung kepada perhitungan manusia daripada bergantung kepada Allah.

Anak bukanlah penghalang datangnya rezeki. Anak adalah amanah dari Allah, dan Allah telah menetapkan rezeki bagi setiap makhluk yang Dia ciptakan.