Apa sebenarnya nikmatnya menjadi pedagang? Apakah hanya ketika dagangan ramai, keuntungan besar, dan uang terus masuk?
Bukan hanya itu.
Ada kenikmatan yang justru terasa ketika dagangan sedang sepi. Ketika pemasukan menurun, kebutuhan tetap berjalan, dan kita tidak tahu dari mana rezeki berikutnya akan datang.
Di saat seperti itu, kita belajar untuk benar-benar bergantung kepada Allah.
Sebagai pedagang, ada masa di atas dan ada masa di bawah. Ada hari ketika kita tersenyum karena dagangan laris, ada hari ketika pulang dengan hasil yang tidak seberapa.
Dan semakin berat keadaan, seharusnya semakin tinggi pula rasa bergantung kita kepada Allah.
Kita tetap berusaha, mencari sebab, dan memperbaiki ikhtiar. Tetapi hati tidak bergantung kepada pembeli, pasar, ataupun hitungan kita sendiri.
Karena semua itu hanya sebab. Allah-lah yang mengatur rezeki.
Mungkin di situlah salah satu nikmat menjadi pedagang: kita tidak hanya belajar mencari keuntungan, tetapi juga belajar bersyukur ketika diberi, bersabar ketika diuji, dan bertawakal ketika tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.
Sebab dalam berdagang, kita belajar bahwa rezeki bukan sekadar hasil dari perhitungan manusia. Ada Allah yang mengaturnya.