Ada yang mengatakan, "Wanita bercadar (bermanhaj Salaf) itu mudah diajak menikah?"
Jawabannya, bisa benar, bisa juga tidak.
Dalam banyak keluarga yang berusaha mengikuti manhaj Salaf, proses menuju pernikahan memang sering kali lebih sederhana. Bukan karena asal menerima siapa saja, tetapi karena yang diutamakan adalah agama, akhlak, dan keseriusan calon.
Biasanya proses diawali dengan nazhar sesuai syariat. Setelah itu, keluarga akan mencari tahu agama, akhlak, manhaj, serta latar belakang calon laki-laki. Bahkan tidak jarang mereka bertanya kepada orang-orang yang mengenalnya. Jika dinilai baik dan ada kecocokan, insyaAllah pernikahan pun dilanjutkan.
Mengapa sering terkesan lebih mudah? Karena banyak muslimah yang menjaga kehormatannya dengan tidak berpacaran, apalagi sampai terjatuh ke dalam zina. Mereka berada dalam penjagaan orang tuanya hingga Allah menganugerahkan seorang suami yang bertanggung jawab. Selain itu, banyak keluarga juga tidak menjadikan mahar yang tinggi ataupun pesta yang mewah sebagai syarat utama.
Namun, "mudah" bukan berarti tanpa seleksi. Justru sering kali seleksinya lebih ketat. Yang dinilai bukan sekadar pekerjaan, gaji, kendaraan, atau status sosial, melainkan aqidahnya, manhajnya, ibadahnya, akhlaknya, siapa guru-gurunya, lingkungan pergaulannya, serta kesungguhannya untuk memimpin keluarga di atas Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai pemahaman para salaf.
Jadi, yang sering kali sulit bukanlah menikahi wanita bercadar bermanhaj Salaf. Yang lebih sulit adalah mempersiapkan diri agar layak menjadi suami bagi wanita yang menjaga agama dan kehormatannya.
Karena tujuan akhirnya bukan sekadar menikah, tetapi membangun rumah tangga yang diberkahi Allah Ta'ala.