Dulu kami memiliki dua orang kawan yang tinggal di sebuah pelosok. Alhamdulillah, Allah memberikan hidayah kepada mereka untuk mengenal sunnah.
Atas izin Allah, kehadiran mereka menjadi sebab hidupnya syiar Islam di kampung tersebut. Masjid yang sebelumnya hanya dikumandangkan adzan pada waktu Subuh, Maghrib dan Isya, perlahan mulai dikumandangkan adzan lima kali sehari semalam.
Di awal hijrah, semangat dakwah mereka begitu luar biasa. Mereka mengajak masyarakat kepada tauhid dan sunnah. Tentu saja jalannya tidak mudah.
Mereka dicap dengan berbagai tuduhan. Ada yang mengatakan mereka membawa aliran sesat, ada yang menjauhi, ada pula yang mencibir. Namun mereka tetap berdiri teguh. Semua celaan itu tidak mampu menggoyahkan prinsip mereka.
Kami pun sempat berpikir, "Masya Allah, mereka begitu kuat. Sepertinya sulit sekali mereka tergelincir."
Namun ternyata ujian terbesar bukan datang dari masyarakat.
Bukan pula dari tekanan keluarga.
Melainkan dari fitnah wanita.
Salah seorang di antara mereka akhirnya tumbang. Padahal dialah yang selama ini kami kenal paling kokoh, paling semangat, dan yang kami kira hampir mustahil berpaling.
Tetapi Allah berkehendak lain.
Hingga hari ini, ia belum kembali seperti dahulu.
Peristiwa itu mengajarkan kami bahwa tidak ada seorang pun yang boleh merasa aman terhadap fitnah. Hari ini seseorang bisa berada di barisan paling depan dalam dakwah, namun jika Allah tidak menjaganya, ia bisa terjatuh pada ujian yang tidak pernah disangkanya.
Karena itu, jangan pernah bangga dengan kekuatan diri. Jangan merasa sudah kebal terhadap godaan. Yang kita butuhkan setiap hari bukan sekadar ilmu dan semangat, tetapi juga pertolongan Allah agar hati tetap istiqamah.
Semoga Allah menjaga kita dari segala bentuk fitnah, terutama fitnah syahwat yang begitu banyak menghancurkan orang-orang yang sebelumnya dikenal baik. Dan semoga Allah memberikan hidayah kepada saudara kita itu, mengembalikan hatinya kepada jalan yang lurus, serta mengumpulkan kembali kami bersamanya di atas sunnah. Aamiin.